<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710</id><updated>2012-02-16T02:35:53.579-08:00</updated><title type='text'>GRIMAH UMAH TUMPAL SAWAH</title><subtitle type='html'>grimah umah iku artinya belakang rumah alias bata brungkalan pating gletak ora karuan.ana balong banyune ijo mlotot kaya cuwinge mang karim.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pelembapang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-1438803874681029059</id><published>2010-07-16T14:41:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T14:43:35.552-07:00</updated><title type='text'>Tehnik sederhana tapi akurat dlm pnntuan arah qiblat</title><content type='html'>&lt;h3 style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(183, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Istiwa  A’dhom, teknik sederhana tapi akurat dalam penentuan arah kiblat.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;img class="alignleft size-full  wp-image-16078" src="http://kabarnet.files.wordpress.com/2010/07/arah-kiblat5.jpg?w=254&amp;amp;h=200" alt="" height="200" width="254" /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Apakah arah kiblat masjid bisa berubah? Entah karena gempa  bumi maupun bergeraknya lempeng Bumi seperti isu yang tengah berkembang?  Jawabannya tentu &lt;strong&gt;TIDAK!&lt;/strong&gt; Artinya pengukuran sebelumnya  memang yang membuat arah kiblat masjid tersebut tidak tepat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apakah arah kiblat cukup ke BARAT?  Sebagaimana yang difatwakan oleh MUI beberapa waktu yang lalu?  Jawabannya tentu &lt;strong&gt;TIDAK!&lt;/strong&gt; Sebab di zaman sekarang  menentukan arah kiblat semudah membalik telapak tangan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;[saking  mudahnya  RED].&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;span id="more-16077"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;“Dan dari mana saja engkau  keluar (untuk shalat), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram  (Ka’bah), dan sesungguhnya perintah berkiblat ke Ka’bah itu adalah benar  dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali lalai akan segala  apa yang kamu lakukan.” (QS. Al-Baqarah : 149)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;“Baitullah ( Ka’bah ) adalah  kiblat bagi orang-orang di dalam Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Haram  adalah kiblat bagi orang-orang yang tinggal di Tanah Haram (Makkah) dan  Makkah adalah qiblat bagi seluruh penduduk bumi Timur dan Barat dari  umatku” (HR. Al-Baihaqi)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;“Jika kamu mendirikan shalat,  maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadap kiblat, lalu takbir,  kemudian bacalah apa yang kamu hafal dari qur’an, lalu ruku’ sampai  sempurna, kemudian i’tidal sampai sempurna, kemudian sujud sampai  sempurna, kemudian duduk di antara dua sujud sampai sempurna, kemudian  sujud sampai sempurna, lakukanlah yang demikian itu setiap rekaat.” (HR.  Abu Hurairah)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam ajaran Islam, menghadap ke arah  kiblat atau bangunan Ka’bah yang berada di Masjidil Haram adalah  merupakan tuntutan syariah dalam melaksanakan ibadah tertentu. Berkiblat  wajib dilakukan ketika hendak mengerjakan shalat dan menguburkan  jenazah Muslim. Menghadap kiblat juga merupakan ibadah sunah ketika  tengah azan, berdoa, berzikir, membaca Al-Quran, menyembelih binatang  dan sebagainya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan kebiasaan yang berkembang di  masyarakat, terdapat beberapa kaidah yang sering digunakan untuk  mengetahui ketepatan arah kiblat. Diantaranya adalah menggunakan kompas  kiblat, kompas sajadah atau peralatan canggih seperti pesawat GPS dan  theodoliti. Kini, melalui teknologi penginderaan jarah jauh yang  disediakan cuma-cuma oleh Google via internet menggunakan software  Google Earth atau secara online disediakan oleh situs-situs seperti  Qibla Locator atau  RHI Qibla Locator yang memanfaatkan fasilitas Google  Map Api (GMA) kita dengan mudah dapat mengetahui arah kiblat sebuah  bangunan masjid secara visual dan jelas. Namun demikian penggunaan  kaidah-kaidah tersebut sering terkendala beberapa masalah. Kompas  belumlah dikatakan sebagai alat ukur yang presisi. Sebab dalam  penggunaannya, kompas sering mengalami kesalahan. Kesalahan tersebut  berupa penyimpangan jarum kompas baik oleh variasi magnetik secara  global maupun atraksi magnetis secara lokal oleh logam di sekitarnya.  Belum lagi skala kompas biasanya terlalu kasar. Sementara, penggunaan  GPS dan theodolit untuk mengukur arah kiblat walaupun bisa mendapatkan  hasil yang lebih presisi namun dalam prakteknya kedua peralatan tersebut  tidak mudah didapatkan karena harganya yang cukup mahal. Walaupun  Google Earth maupun fasilitas qibla locator secara online dapat membantu  mengetahui arah kiblat secara visual dengan perhitungan yang sangat  akurat, namun piranti tersebut bukan merupakan alat ukur yang presisi di  lapangan dan hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lantas apakah bisa mengukur arah kiblat  secara presisi dengan biaya yang murah? Jawabannya adalah BISA! Yaitu  dengan menggunakan fenomena astronomis yang terjadi pada hari yang  disebut sebagai yaumul rashdul qiblat atau hari meluruskan arah kiblat  karena saat itu Matahari tepat di atas Ka’bah. Fenomena yang terjadi 2  kali selama setahun ini dikenal juga dengan istilah&lt;strong&gt; Transit  Utama atau Istiwa A’dhom.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Istiwa, dalam bahasa astronomi adalah  transit yaitu fenomena saat posisi Matahari melintasi di meridian  langit. Dalam penentuan waktu shalat, istiwa digunakan sebagai pertanda  masuknya waktu shalat Zuhur. Setiap hari dalam wilayah Zona Tropis yaitu  wilayah sekitar garis Katulistiwa antara 23,5° LU sampai 23,5° LS  posisi Matahari saat istiwa selalu berubah, terkadang di Utara dan  disaat lain di Selatan sepanjang garis Meridian. Hingga pada saat  tertentu sebuah tempat akan mengalami peristiwa yang disebut Istiwa  A’dhom yaitu saat Matahari berada tepat di atas kepala pengamat di  lokasi tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;img class="alignleft size-full  wp-image-16081" src="http://kabarnet.files.wordpress.com/2010/07/arah-kiblat11.jpg?w=180&amp;amp;h=132" alt="" height="132" width="180" /&gt;Hal ini bisa difahami sebab akibat  gerakan semu Matahari yang disebut sebagai gerak tahunan Matahari. Ini  diakibat selama Bumi beredar mengelilingi Matahari sumbu Bumi miring  66,5° terhadap bidang edarnya sehingga selama setahun Matahari terlihat  mengalami pergeseran antara 23,5° LU sampai 23,5° LS. Pada saat nilai  azimuth Matahari sama dengan nilai azimuth lintang geografis sebuah  tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa A’dhom yaitu melintasnya  Matahari melewati zenit lokasi setempat.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Demikian halnya Ka’bah yang berada pada  koordinat 21,4° LU dan 39,8° BT dalam setahun juga akan mengalami 2 kali  peristiwa Istiwa A’dhom yaitu setiap tanggal 28 Mei sekitar pukul 12.18  waktu setempat dan 16 Juli sekitar pukul 12.27 waktu setempat. Jika  waktu tersebut dikonversi maka di Indonesia peristiwanya terjadi pada 28  Mei pukul 16.18 WIB &lt;em&gt;[telah berlalu] &lt;/em&gt;dan 16 Juli pukul 16.27  WIB. Dengan adanya peristiwa Matahari tepat di atas Ka’bah tersebut maka  umat Islam yang berada jauh dan berbeda waktu tidak lebih dari 5 atau 6  jam dapat menentukan arah kiblat secara presisi menggunakan teknik  bayangan Matahari.&lt;/p&gt; &lt;h3 style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(183, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;28  MEI 2010 @ 16:18 WIB&lt;br /&gt;16 JULI 2010 @ 16:27 WIB&lt;br /&gt;MATAHARI TEPAT DI ATAS KA’BAH&lt;br /&gt;POSISI MATAHARI = ARAH KIBLAT&lt;br /&gt;BAYANGAN MATAHARI = ARAH KIBLAT&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;img class="aligncenter size-full  wp-image-16079" src="http://kabarnet.files.wordpress.com/2010/07/arah-kiblat3.jpg?w=400&amp;amp;h=280" alt="" height="280" width="400" /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;T&lt;/span&gt;eknik  penentuan arah kiblat pada hari Rashdul Qiblat sebenarnya sudah dipakai  lama sejak ilmu falak berkembang di Timur Tengah. Demikian halnya di  Indonesia dan beberapa negara Islam yang lain juga sudah banyak yang  menggunakan teknik ini. Sebab teknik ini memang tidak memerlukan  perhitungan yang rumit dan siapapun dapat melakukannya. Yang diperlukan  hanyalah sebatang tongkat lurus dengan panjang lebih kurang 1 meter dan  diletakkan berdiri tegak di tempat yang datar dan mendapat sinar  matahari. Pada tanggal dan jam saat terjadinya peristiwa Istiwa A’dhom  tersebut maka arah bayangan tongkat menunjukkan kiblat yang benar.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bahkan dengan menggunakan software  khusus yang dapat mengetahui pergerakan benda langit secara presisi  kapan secara persis terjadinya Istiwa A’dham dapat diketahui. Untuk  tahun 2010 ini misalnya menurut software Starrynight Pro Plus Versi  6.3.8 yaitu sebuah software astronomi yang memiliki tingkat ketepatan  sangat tinggi, peristiwa Istiwa A’dhom terjadi pada 28 Mei 2010 pukul  12:17:59 WS atau 16:17:59 WIB dan 16 Juli 2010 pukul 12:26:48 WS atau  16:26:48 WIB. Namun secara praktis angka tersebut bisa dibulatkan ke  menit.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karena di negara kita peristiwanya  terjadi pada sore hari maka arah bayangan adalah ke Timur, maka arah  bayangan yang menuju ke tongkat adalah merupakan arah kiblat yang benar.  Jika anda khawatir gagal karena Matahari terhalang oleh mendung maka  toleransi pengukuran dapat dilakukan pada H-2 hingga H+2. Satu hal  penting yang harus kita perhatikan adalah JAM yang kita gunakan  hendaknya sudah terkalibrasi dengan tepat. Untuk mengetahui standard  waktu yang tepat bisa digunakan tanda waktu saat Berita di RRI, layanan  telpon 103 atau menggunakan jam atom yang disediakan oleh layanan  internet.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;img class="alignleft size-full  wp-image-16082" src="http://kabarnet.files.wordpress.com/2010/07/arah-kiblat6.jpg?w=190&amp;amp;h=142" alt="" height="142" width="190" /&gt;Penentuan arah kiblat menggunakan  fenomena ini hanya berlaku untuk tempat-tempat yang pada saat peristiwa  Istiwa A’dhom dapat secara langsung melihat Matahari. Sementara untuk  daerah lain di mana saat itu Matahari sudah terbenam seperti Wilayah  Indonesia Timur (WIT) praktis teknik ini tidak dapat digunakan. Maka ada  fenomena lain yang dapat digunakan oleh daerah-daerah tersebut sehingga  dapat mengetahui arah kiblat secara presisi. Fenomena itu adalah saat  Matahari berada tepat di bawah Ka’bah yaitu saat Istiwa A’dhom terjadi  di titik Nadir (Antipode) Ka’bah yang terjadi pada setiap tanggal 13  Januari dan 28 November.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Teknik Penentuan Arah Kiblat  menggunakan Istiwa A’dhom :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt; 1. Tentukan lokasi masjid/mushalla/  langgar atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt; 2. Sediakan tongkat lurus panjang  minimal 1 meter. Akan lebih bagus jika menggunakan benang besar yang  diberi bandul sehingga tegak benar.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt; 3. Siapkan jam/arloji yang sudah  dicocokkan / dikalibrasi waktunya secara tepat dengan radio/ televisi/  internet atau telpon ke 103.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt; 4. Tentukan lokasi pengukuran; di  dalam masjid (diutamakan) atau di sisi Selatan Masjid atau di sisi Utara  atau di halaman depan masjid. Yang penting tempat tersebut datar dan  masih mendapatkan penyinaran Matahari saat peristiwa Istiwa A’dhom  berlangsung.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt; 5. Pasang tongkat secara tegak dengan  bantuan lot tukang (jika menggunakan tongkat) atau pasang benang lengkap  dengan bandul serta penyangganya di tempat tersebut. (Persiapan jangan  terlalu mendekati waktu terjadinya fenomena agar tidak terburu-buru)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt; 6. Tunggu sampai saat Istiwa A’dhom  terjadi dan amatilah bayangan Matahari yang terjadi. Berilah tanda  menggunakan spidol, benang, lakban, penggaris atau alat lain yang dapat  membuat tanda lurus. Maka itulah arah kiblat yang sebenarnya&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt; 7. Gunakan benang, sambungan pada  tegel lantai, atau teknik lain yang dapat meluruskan arah kiblat ini ini  ke dalam masjid. Intinya yang hendak kita ukur sebenarnya adalah garis  shaff yang posisinya tegak lurus (90°) terhadap arah kiblat. Maka  setelah garis arah kiblat kita dapatkan untuk membuat garis shaff dapat  dilakukan dengan mengukur arah sikunya dengan bantuan benda-benda yang  memiliki sudut siku misalnya lembaran triplek atau kertas karton.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebaiknya bukan hanya masjid atau  mushalla / langgar saja yang perlu diluruskan arah kiblatnya. Mungkin  kiblat di rumah kita sendiri selama ini juga saat kita shalat belum  tepat menghadap ke arah yang benar. Sehingga saat peristiwa tersebut ada  baiknya kita juga bisa melakukan pelurusan arah kiblat di rumah  masing-masing. Semoga cuaca cerah.&lt;/p&gt; Semoga dengan lurusnya arah kiblat kita,  ibadah shalat yang kita kerjakan menjadi lebih afdhal dan doanya lebih  dikabulkan. Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-1438803874681029059?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/1438803874681029059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/1438803874681029059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2010/07/tehnik-sederhana-tapi-akurat-dlm.html' title='Tehnik sederhana tapi akurat dlm pnntuan arah qiblat'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-3855140813820596109</id><published>2010-05-25T07:51:00.000-07:00</published><updated>2010-05-25T07:53:39.716-07:00</updated><title type='text'>Bantahan Para Ulama trhadap pndapat Ibnu abd wahhab</title><content type='html'>&lt;input id="post_form_id" name="post_form_id" value="6402894fece2e6472c61786bf62dc275" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;div class="note_header"&gt;&lt;div class="note_title_share clearfix"&gt;&lt;div class="note_title"&gt;&lt;span&gt;Para  Ulama Telah Membantah Muhammad Ibn Abd Al-Wahhab; Perintis Gerakan  Wahhabi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;a class="note_share uiButton uiButtonDefault uiButtonMedium" href="http://www.facebook.com/ajax/share_dialog.php?s=4&amp;amp;appid=2347471856&amp;amp;p[]=1789501505&amp;amp;p[]=287937743329" rel="dialog" title="Kirim ini ke teman atau ke profil Anda."&gt;&lt;span class="uiButtonText"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="byline"&gt; Oleh: Abu fateh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  Banyak sekali kitab-kitab karya para ulama Ahlussunnah yang mereka  tulis sebagai bantahan terhadap Muhammad ibn Abd al-Wahhab dan  ajaran-ajarannya, baik karya-karya yang secara khusus ditulis untuk itu,  atau karya-karya dalam beberapa disiplin ilmu yang di dalamnya dimuat  bantahan-bantahan terhadapnya, baik yang masih dalam bentuk manuskrip  maupun yang sudah turun cetak. Di antaranya adalah karya-karya berikut  ini dengan penulisnya masing-masing:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ithâf al-Kirâm Fî Jawâz at-Tawassul Wa al-Istighâtsah Bi al-Anbiyâ’  al-Kirâm karya asy-Syaikh Muhammad asy-Syadi. Tulisan manuskripnya  berada di al-Khizanah al-Kittaniyyah di Rabath pada nomor 1143.&lt;br /&gt;2. Ithâf Ahl az-Zamân Bi Akhbâr Mulûk Tûnus Wa ‘Ahd al-Amân karya  asy-Syaikh Ahmad ibn Abi adl-Dliyaf, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;3. Itsbât al-Wâsithah al-Latî Nafathâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh  Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al-Kailani al-Iskandarani (w 1362 H).&lt;br /&gt;4. Ajwibah Fî Zayârah al-Qubûr karya asy-Syaikh al-Idrus. Tulisan  manuskripnya berada di al-Khizanah al-‘Ammah di Rabath pada nomor  4/2577.&lt;br /&gt;5. al-Ajwibah an-Najdiyyah ‘An al-As-ilah an-Najdiyyah karya Abu al-Aun  Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad ibn Salim an-Nabulsi al-Hanbali yang  dikenal dengan sebutan Ibn as-Sifarayini (w 1188 H).&lt;br /&gt;6. al-Ajwibah an-Nu’mâniyyah ‘An al-As-ilah al-Hindiyyah Fî al-‘Aqâ-id  karya Nu’man ibn Mahmud Khairuddin yang dikenal dengan sebutan Ibn  al-Alusi al-Baghdadi al-Hanafi (w 1317 H).&lt;br /&gt;7. Ihyâ’ al-Maqbûr Min Adillah Istihbâb Binâ’ al-Masâjid Wa al-Qubab  ‘Alâ al-Qubûr karya al-Imâm al-Hâfizh as-Sayyid Ahmad ibn ash-Shiddiq  al-Ghumari (w 1380 H).&lt;br /&gt;8. Al-Ishâbah Fî Nushrah al-Khulafâ’ ar-Rasyidîn karya asy-Syaikh Hamdi  Juwaijati ad-Damasyqi.&lt;br /&gt;9. al-Ushûl al-Arba’ah Fî Tardîd al-Wahhâbiyyah karya Muhammad Hasan  Shahib as-Sarhandi al-Mujaddidi (w 1346 H), telah diterbitkan.&lt;br /&gt;10. Izh-hâr al-‘Uqûq Min Man Mana’a at-Tawassul Bi an-Nabiyy Wa al-Walyy  ash-Shadûq karya asy-Syaikh al-Musyrifi al-Maliki al-Jaza-iri.&lt;br /&gt;11. al-Aqwâl as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Mudda’i Nushrah as-Sunnah  al-Muhammadiyyah disusun oleh Ibrahim Syahatah ash-Shiddiqi dari  pelajaran-pelajaran al-Muhaddits as-Sayyid Abdullah ibn ash-Shiddiq  al-Ghumari, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;12. al-Aqwâl al-Mardliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya ahli  fiqih terkemuka asy-Syaikh Atha al-Kasam ad-Damasyqi al-Hanafi, telah  diterbitkan.&lt;br /&gt;13. al-Intishâr Li al-Awliyâ’ al-Abrâr karya al-Muhaddits asy-Syaikh  Thahir Sunbul al-Hanafi.&lt;br /&gt;14. al-Awrâq al-Baghdâdiyyah Fî al-Jawâbât an-Najdiyyah karya asy-Syaikh  Ibrahim ar-Rawi al-Baghdadi ar-Rifa’i. Pemimpin tarekat ar-Rifa’iyyah  di Baghdad, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;15. al-Barâ-ah Min al-Ikhtilâf Fî ar-Radd ‘Alâ Ahl asy-Syiqâq Wa  an-Nifâq Wa ar-Radd ‘Alâ al-Firqah al-Wahhâbiyyah adl-Dlâllah karya  asy-Syaikh Ali Zain al-Abidin as-Sudani, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;16. al-Barâhîn as-Sâthi’ah Fî ar-Radd Ba’dl al-Bida’ asy-Syâ’i-ah karya  asy-Syaikh Salamah al-Uzami (w 1379 H), telah diterbitkan.&lt;br /&gt;17. al-Bashâ-ir Li Munkirî at-Tawassul Bi Ahl al-Maqâbir karya  asy-Syaikh Hamdullah ad-Dajwi al-Hanafi al-Hindi, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;18. Târîkh al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ayyub Shabri Basya ar-Rumi,  penulis kitab Mir-âh al-Haramain.&lt;br /&gt;19. Tabarruk ash-Shahâbah Bi Âtsâr Rasulillâh karya asy-Syaikh Muhammad  Thahir ibn Abdillah al-Kurdi. Telah diterbitkan.&lt;br /&gt;20. Tabyîn al-Haqq Wa ash-Shawâb Bi ar-Radd ‘Alâ Atbâ’ Ibn Abd al-Wahhâb  karya asy-Syaikh Taufiq Sauqiyah ad-Damasyqi (w 1380 H), telah  diterbitkan di Damaskus.&lt;br /&gt;21. Tajrîd Sayf al-Jihâd Li Mudda’î al-Ijtihâd karya asy-Syaikh Abdullah  ibn Abd al-Lathif asy-Syafi’i. Beliau adalah guru dari Muhammad ibn Abd  al-Wahhab sendiri, dan beliau telah membantah seluruh ajaran  Wahhabiyyah di saat hidupnya Muhammad ibn Abd al-Wahhab.&lt;br /&gt;22. Tahdzîr al-Khalaf Min Makhâzî Ad’iyâ’ as-Salaf karya al-Imâm  al-Muhaddits asy-Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari.&lt;br /&gt;23. at-Tahrîrât ar-Râ-iqah karya asy-Syaikh Muhammad an-Nafilati  al-Hanafi, mufti Quds Palestina, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;24. Tahrîdl al-Aghbiyâ ‘Alâ al-Istighâtsah Bi al-Anbiyâ Wa al-Awliyâ  karya asy-Syaikh Abdullah al-Mayirghini al-Hanafi, tinggal di wilayah  Tha’if.&lt;br /&gt;25. at-Tuhfah al-Wahbiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya  asy-Syaikh Dawud ibn Sulaiman al-Baghdadi an-Naqsyabandi al-Hanafi (w  1299 H).&lt;br /&gt;26. Tath-hîr al-Fu-âd Min Danas al-I’tiqâd karya asy-Syaikh Muhammad  Bakhith al-Muthi’i al-Hanafi, salah seorang ulama al-Azhar Mesir  terkemuka, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;27. Taqyîd Hawla at-Ta’alluq Wa at-Tawassul Bi al-Anbiyâ Wa ash-Shâlihîn  karya asy-Syaikh Ibn Kairan, Qadli al-Jama’ah di wilayah Maghrib  Maroko. Karya manuskrip berada di Khizanah al-Jalawi/Rabath pada nomor  153.&lt;br /&gt;28. Taqyîd Hawla Ziyârah al-Auliyâ Wa at-Tawassul Bihim karya Ibn  Kairan, Qadli al-Jama’ah di wilayah Maghrib Maroko. Karya manuskrip  berada di Khizanah al-Jalawi/Rabath pada nomor 153.&lt;br /&gt;29. Tahakkum al-Muqallidîn Biman Idda’â Tajddîd ad-Dîn karya asy-Syaikh  Muhammad ibn Abd ar-Rahman al-Hanbali. Dalam kitab ini beliau telah  membantah seluruh kesasatan Muhammad ibn Abd al-Wahhab secara rinci dan  sangat kuat.&lt;br /&gt;30. at-Tawassul karya asy-Syaikh Muhammad Abd al-Qayyum al-Qadiri  al-Hazarawi, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;31. at-Tawassul Bi al-Anbiyâ’ Wa ash-Shâlihîn karya asy-Syaikh Abu Hamid  ibn Marzuq ad-Damasyqi asy-Syami, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;32. at-Taudlîh ‘An Tauhîd al-Khilâq Fî Jawâb Ahl al-‘Irâq ‘Alâ Muhammad  Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Abdullah Afandi ar-Rawi. Karya  Manuskrip di Universitas Cambridge London dengan judul “ar-Radd  al-Wahhabiyyah”. Manuskrip serupa juga berada di perpustakaan al-Awqaf  Bagdad Irak.&lt;br /&gt;33. Jalâl al-Haqq Fî Kasyf Ahwâl Asyrâr al-Khalq karya asy-Syaikh  Ibrahim Hilmi al-Qadiri al-Iskandari, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;34. al-Jawâbât Fî az-Ziyârât karya asy-Syaikh Ibn Abd ar-Razzaq  al-Hanbali.&lt;br /&gt;asy-Sayyid Alawi ibn al-Haddad berkata: “Saya telah melihat berbagai  jawaban (bantahan atas kaum Wahhabiyyah) dari tulisan para ulama  terkemuka dari empat madzhab, mereka yang berasal dari dua tanah haram  (Mekah dan Madinah), dari al-Ahsa’, dari Basrah, dari Bagdad, dari  Halab, dari Yaman, dan dari berbagai negara Islam lainnya. Baik tulisan  dalam bentuk prosa maupun dalam bentuk bait-bait syai’r”.&lt;br /&gt;35. Hâsyiyah ash-Shâwî ‘Alâ Tafsîr al-Jalâlain karya asy-Syaikh Ahmad  ash-Shawi al-Maliki.&lt;br /&gt;36. al-Hujjah al-Mardliyyah Fî Itsbât al-Wâsithah al-Latî Nafathâ  al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim  al-Kailani al-Iskandari (w 1362 H).&lt;br /&gt;37. al-Haqâ-iq al-Islâmiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Mazâ’im al-Wahhâbiyyah  Bi Adillah al-Kitâb Wa as-Sunnah an-Nabawiyyah karya asy-Syaikh Malik  ibn asy-Syaikh Mahmud, direktur perguruan al-‘Irfan di wilayah Kutabali  Negara Republik Mali Afrika, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;38. al-Haqq al-Mubîn Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyîn karya asy-Syaikh  Ahmad Sa’id al-Faruqi as-Sarhandi an-Naqsyabandi (w 1277 H).&lt;br /&gt;39. al-Haqîqah al-Islâmiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya  asy-Syaikh Abd al-Ghani ibn Shaleh Hamadah, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;40. ad-Durar as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh  as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti madzhab Syafi’i di Mekah (w 1304  H).&lt;br /&gt;41. ad-Dalîl al-Kâfi Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbi karya asy-Syaikh Misbah  ibn Ahmad Syibqilu al-Bairuti, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;42. ar-Râ-’iyyah ash-Shughrâ Fî Dzamm al-Bid’ah Wa Madh as-Sunnah  al-Gharrâ’, bait-bait sya’ir karya asy-Syaikh Yusuf ibn Isma’il  an-Nabhani al-Bairuti, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;43. ar-Rihlah al-Hijâziyyah karya asy-Syaikh Abdullah ibn Audah yang  dikenal dengan sebutan Shufan al-Qudumi al-Hanbali (w 1331 H), telah  diterbitkan.&lt;br /&gt;44. Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr karya asy-Syaikh Muhammad  Amin yang dikenal dengan sebutan Ibn Abidin al-Hanafi ad-Damasyqi, telah  diterbitkan.&lt;br /&gt;45. ar-Radd ‘Alâ Ibn ‘Abd al-Wahhâb karya Syaikh al-Islâm di wilayah  Tunisia, asy-Syaikh Isma’il at-Tamimi al-Maliki (w 1248 H). Berisi  bantahan sangat kuat dan detail atas faham Wahhabiyyah, telah  diterbitkan di Tunisia.&lt;br /&gt;46. Radd ‘Alâ Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Ahmad al-Mishri  al-Ahsa-i.&lt;br /&gt;47. Radd ‘Alâ Ibn Abd al-Wahhâb karya al-‘Allâmah asy-Syaikh Barakat  asy-Syafi’i al-Ahmadi al-Makki.&lt;br /&gt;48. ar-Rudûd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya al-Muhaddits  asy-Syaikh Shaleh al-Fulani al-Maghribi.&lt;br /&gt;as-Sayyid Alawi ibn al-Haddad dalam mengomentari ar-Rudûd ‘Ala Muhammad  Ibn ’Abd al-Wahhâb karya al-Muhaddits asy-Syaikh Shaleh al-Fulani  al-Maghribi ini berkata: “Kitab ini sangat besar. Di dalamnya terdapat  beberapa risalah dan berbagai jawaban (bantahan atas kaum Wahhabiyyah)  dari semua ulama empat madzhab; ulama madzhab Hanafi, ulama madzhab  Maliki, Ulama madzhab Syafi’i, dan ulama madzhab Hanbali. Mereka semua  dengan sangat bagus telah membantah Muhammad ibn Abd al-Wahhab”.&lt;br /&gt;49. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Shaleh al-Kawasy  at-Tunisi. Karya ini dalam bentuk sajak sebagai bantahan atas risalah  Muhammad ibn Abd al-Wahhab, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;50. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Muhammad Shaleh  az-Zamzami asy-Syafi’i, Imam Maqam Ibrahim di Mekah.&lt;br /&gt;51. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ibrahim ibn Abd  al-Qadir ath-Tharabulsi ar-Riyahi at-Tunusi al-Maliki, berasal dari kota  Tastur (w 1266 H).&lt;br /&gt;52. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Muhsin  al-Asyikri al-Hanbali, mufti kota az-Zubair Basrah Irak.&lt;br /&gt;53. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh al-Makhdum al-Mahdi,  mufti wilayah Fas Maroko.&lt;br /&gt;54. ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Muhammad  ibn Sulaiman al-Kurdi asy-Syafi’i. Beliau adalah salah seorang guru dari  Muhammad ibn Abd al-Wahhab sendiri.&lt;br /&gt;asy-Syaikh Abu Hamid ibn Marzuq (asy-Syaikh Muhammad ’Arabi at-Tabban)  dalam kitab Barâ-ah al-Asyariyyîn Min Aqâ-id al-Mukhâlifîn menuliskan:  “Guru Muhammad ibn Abd al-Wahhab (yaitu asy-Syaikh Muhammad ibn Sulaiman  al-Kurdi) telah memiliki firasat bahwa muridnya tersebut akan menjadi  orang sesat dan menyesatkan. Firasat seperti ini juga dimiliki guru  Muhammad ibn Abd al-Wahhab yang lain, yaitu asy-Syaikh Muhammad Hayat  as-Sindi, dan juga dimiliki oleh ayah sendiri, yaitu asy-Syaikh Abd  al-Wahhab”.&lt;br /&gt;55. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya Abu Hafsh Umar al-Mahjub. Karya  manuskripnya berada di Dar al-Kutub al-Wathaniyyah Tunisia pada nomor  2513. Copy manuskrip ini berada di Ma’had al-Makhthuthat al-‘Arabiyyah  Cairo Mesir dan di perpustakaan al-Kittaniyyah Rabath pada nomor 1325.&lt;br /&gt;56. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ibn Kairan, Qadli  al-Jama’ah di wilayah Maghrib Maroko. Karya manuskrip di perpustakaan  al-Kittaniyyah Rabath pada nomor 1325.&lt;br /&gt;57. ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Abdullah  al-Qudumi al-Hanbali an-Nabulsi, salah seorang ulama terkemuka pada  madzhab Hanbali di wilayah Hijaz dan Syam (w 1331 H). Karya ini berisi  pembahasan masalah ziarah dan tawassul dengan para Nabi dan orang-orang  saleh. Dalam karyanya ini penulis menamakan Muhammad ibn Abd al-Wahhab  dan para pengikutnya sebagai kaum Khawarij. Penyebutan yang sama juga  telah beliau ungkapkan dalam karyanya yang lain berjudul ar-Rihlah  al-Hijâziyyah Wa ar-Riyâdl al-Unsiyyah Fî al-Hawâdits Wa al-Masâ-il.&lt;br /&gt;58. Risâlah as-Sunniyyîn Fî ar-Radd ‘Alâ al-Mubtadi’în al-Wahhâbiyyîn Wa  al-Mustauhibîn karya asy-Syaikh Musthafa al-Karimi ibn Syaikh Ibrahim  as-Siyami, telah diterbitkan tahun 1345 H oleh penerbit al-Ma’ahid.&lt;br /&gt;59. Risâlah Fî Ta-yîd Madzhab ash-Shûfiyyah Wa ar-Radd ‘Alâ  al-Mu’taridlîn ‘Alayhim karya asy-Syaikh Salamah al-Uzami (w 1379 H),  telah diterbitkan.&lt;br /&gt;60. Risâlah Fî Tasharruf al-Auliyâ’ karya asy-Syaikh Yusuf ad-Dajwa,  telah diterbitkan.&lt;br /&gt;61. Risâlah Fî Jawâz at-Tawassul Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd  al-Wahhâb karya mufti wilayah Fas Maghrib al-‘Allâmah asy-Syaikh Mahdi  al-Wazinani.&lt;br /&gt;62. Risâlah Fî Jawâz al-Istigâtsah Wa at-Tawassul karya asy-Syaikh  as-Sayyid Yusuf al-Bithah al-Ahdal az-Zabidi, yang menetap di kota  Mekah. Dalam karyanya ini beliau mengutip pernyataan seluruh ulama dari  empat madzhab dalam bantahan mereka atas kaum Wahhabiyyah, kemudian  beliau mengatakan: “Sama sekali tidak dianggap faham yang menyempal dari  keyakinan mayoritas umat Islam dan berseberangan dengan mereka, dan  siapa melakukan hal itu maka ia adalah seorang ahli bid’ah”.&lt;br /&gt;63. Risâlah Fî Hukm at-Tawassul Bi al-Anbiyâ’ Wa al-Awliyâ’ karya  asy-Syaikh Muhammad Hasanain Makhluf al-Adawi al-Mishri wakil  Universitas al-Azhar Cairo Mesir, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;64. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Qasim Abu  al-Fadl al-Mahjub al-Maliki.&lt;br /&gt;65. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Musthafa ibn  asy-Syaikh Ahmad ibn Hasan asy-Syathi ad-Damasyqi al-Hanbali.&lt;br /&gt;66. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ahamd Hamdi  ash-Shabuni al-Halabi (w 1374 H).&lt;br /&gt;67. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ahmad ibn  Hasan asy-Syathi, mufti madzhab Hanbali di wilayah Damaskus Siria, telah  diterbitkan di Bairut tahun 1330 H.&lt;br /&gt;68. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ali ibn  Muhammad karya manuskrip berada di al-Khizanah at-Taimuriyyah.&lt;br /&gt;69. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Utsman  al-Umari al-Uqaili asy-Syafi’i, karya manuskrip berada di al-Khizanah  at-Tamuriyyah.&lt;br /&gt;70. ar-Risâlah ar-Raddiyyah ‘Alâ ath-Thâ-ifah al-Wahhâbiyyah karya  asy-Syaikh Muhammad Atha’ullah yang dikenal dengan sebutan Atha’  ar-Rumi.&lt;br /&gt;71. ar-Risâlah al-Mardliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Man Yunkir az-Ziyârah  al-Muhammadiyyah karya asy-Syaikh Muhammad as-Sa’di al-Maliki.&lt;br /&gt;72. Raudl al-Majâl Fî ar-Radd ‘Alâ Ahl adl-Dlalâl karya asy-Syaikh Abd  ar-Rahman al-Hindi ad-Dalhi al-Hanafi, telah diterbitkan di Jeddah tahun  1327 H.&lt;br /&gt;73. Sabîl an-Najâh Min Bid’ah Ahl az-Zâigh Wa adl-Dlalâlah karya  asy-Syaikh al-Qâdlî Abd ar-Rahman Quti.&lt;br /&gt;74. Sa’âdah ad-Dârain Fî ar-Radd ‘Alâ al-Firqatain, al-Wahhâbiyyah Wa  Muqallidah azh-Zhâhiriyyah karya asy-Syaikh Ibrahim ibn Utsman ibn  Muhammad as-Samnudi al-Manshuri al-Mishri, telah diterbitkan di Mesir  tahun 1320 H dalam dua jilid.&lt;br /&gt;75. Sanâ’ al-Islâm Fî A’lâm al-Anâm Bi ‘Aqâ-id Ahl al-Bayt al-Kirâm  Raddan ‘Alâ Abd al-Azîz an-Najdi Fî Mâ Irtakabahu Min al-Auhâm karya  asy-Syaikh Isma’il ibn Ahmad az-Zaidi, karya manskrip.&lt;br /&gt;76. as-Sayf al-Bâtir Li ‘Unuq al-Munkir ‘Alâ al-Akâbir, karya al-Imâm  as-Sayyid Alawi ibn Ahmad al-Haddad (w 1222 H).&lt;br /&gt;77. as-Suyûf ash-Shiqâl Fî A’nâq Man Ankar ‘Alâ al-Awliyâ’ Ba’da  al-Intiqâl karya salah seorang ulama terkemuka di Bait al-Maqdis.&lt;br /&gt;78. as-Suyûf al-Musyriqiyyah Li Qath’ A’nâq al-Qâ-ilîn Bi al-Jihah Wa  al-Jismiyyah karya asy-Syaikh Ali ibn Muhammad al-Maili al-Jamali  at-Tunisi al-Maghribi al-Maliki.&lt;br /&gt;79. Syarh ar-Risâlah ar-Raddiyyah ‘Alâ Thâ-ifah al-Wahhâbiyyah karya  Syaikh al-Islâm Muhammmad Atha’ullah ibn Muhammad ibn Ishaq ar-Rumi, (w  1226 H).&lt;br /&gt;80. ash-Shârim al-Hindi Fî ‘Unuq an-Najdi karya asy-Syaikh Atha’  al-Makki.&lt;br /&gt;81. Shidq al-Khabar Fî Khawârij al-Qarn ats-Tsânî ‘Asyar Fî Itsbât Ann  al-Wahhâbiyyah Min al-Khawârij karya asy-Syaikh as-Sayyid Abdullah ibn  Hasan Basya ibn Fadlal Basya al-Alawi al-Husaini al-Hijazi, telah  diterbitkan.&lt;br /&gt;82. Shulh al-Ikhwân Fî ar-Radd ‘Alâ Man Qâl ‘Alâ al-Muslimîn Bi  asy-Syirk Wa al-Kufrân, Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah Li Takfîrihim  al-Muslimîn karya asy-Syaikh Dawud ibn Sulaiman an-Naqsyabandi  al-Baghdadi al-Hanafi (w 1299 H).&lt;br /&gt;83. ash-Shawâ-iq al-Ilâhiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya  asy-Syaikh Sulaiman ibn Abd al-Wahhab. Beliau adalah saudara kandung  dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;84. ash-Shawâ-iq Wa ar-Rudûd karya asy-Syaikh Afifuddin Abdullah ibn  Dawud al-Hanbali. as-Sayyid Alawi ibn Ahmad al-Haddad menuliskan: “Karya  ini (ash-Shawâ-iq Wa ar-Rudûd) telah diberi rekomendasi oleh para ulama  terkemuka dari Basrah, Bagdad, Halab, Ahsa’, dan lainnya sebagai  pembenaran bagi segala isinya dan pujian terhadapnya”.&lt;br /&gt;85. Dliyâ’ ash-Shudûr Li Munkir at-Tawassul Bi Ahl al-Qubûr karya  asy-Syaikh Zhahir Syah Mayan ibn Abd al-Azhim Mayan, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;86. al-‘Aqâ-id at-Tis’u karya asy-Syaikh Ahmad ibn Abd al-Ahad al-Faruqi  al-Hanafi an-Naqsyabandi, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;87. al-‘Aqâ-id ash-Shahîhah Fî Tardîd al-Wahhâbiyyah an-Najdiyyah karya  asy-Syaikh Hafizh Muhammad Hasan as-Sarhandi al-Mujaddidi, telah  diterbitkan.&lt;br /&gt;88. ‘Iqd Nafîs Fî Radd Syubuhât al-Wahhâbi at-Tâ’is karya sejarawan dan  ahli fiqih terkemuka, asy-Syaikh Isma’il Abu al-Fida’ at-Tamimi  at-Tunusi.&lt;br /&gt;89. Ghawts al-‘Ibâd Bi Bayân ar-Rasyâd karya asy-Syaikh Abu Saif  Musthafa al-Hamami al-Mishri, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;90. Fitnah al-Wahhâbiyyah karya as-Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan, (w  1304 H), mufti madzhab Syafi’i di dua tanah haram; Mekah dan Madinah,  dan salah seorang ulama terkemuka yang mengajar di Masjid al-Haram.  Fitnah al-Wahhâbiyyah ini adalah bagian dari karya beliau dengan judul  al-Futûhât al-Islâmiyyah, telah diterbitkan di Mesir tahun 1353 H.&lt;br /&gt;91. Furqân al-Qur’ân Fî Tamyîz al-Khâliq Min al-Akwân karya asy-Syaikh  Salamah al-Azami al-Qudla’i asy-Syafi’i al-Mishri. Kitab berisi bantahan  atas pendapat yang mengatakan bahwa Allah adalah benda yang memiki  bentuk dan ukuran. Termasuk di dalamnya bantahan atas Ibn Taimiyah dan  faham Wahhabiyyah yang berkeyakinan demikian. Telah diterbitkan.&lt;br /&gt;92. Fashl al-Khithâb Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya  asy-Syaikh Sulaiman ibn Abd al-Wahhab, saudara kandung dari Muhammad ibn  Abd al-Wahhab sendiri. Ini adalah kitab yang pertama kali ditulis  sebagai bantahan atas segala kesesatan Muhammad ibn Abd al-Wahhab dan  ajaran-ajaran Wahhabiyyah.&lt;br /&gt;93. Fashl al-Khithâb Fi Radd Dlalâlât Ibn ’Abd al-Wahhâb karya  asy-Syaikh Ahmad ibn Ali al-Bashri yang dikenal dengan sebutan  al-Qubbani asy-Syafi’i.&lt;br /&gt;94. al-Fuyûdlât al-Wahbiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ ath-Thâ-ifah al-Wahhâbiyyah  karya asy-Syaikh Abu al-Abbas Ahmad ibn Abd as-Salam al-Banani  al-Maghribi.&lt;br /&gt;95. Qashîdah Fî ar-Radd ‘Alâ ash-Shan’âni Fî Madh Ibn ’Abd al-Wahhâb,  bait-bait sya’ir karya asy-Syaikh Ibn Ghalbun al-Laibi, sebanyak 40  bait.&lt;br /&gt;96. Qashîdah Fî ar-Radd ‘Alâ ash-Shan’âni al-Ladzî Madaha Ibn ’Abd  al-Wahhâb, bait-bait sya’ir karya as-Sayyid Musthafa al-Mishri  al-Bulaqi, sebanyak 126 bait.&lt;br /&gt;97. Qashîdah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah, bait-bait sya’ir karya  asy-Syaikh Abd al-Aziz Qurasyi al-‘Ilji al-Maliki al-Ahsa’i. Sebanyak 95  bait.&lt;br /&gt;98. Qam’u Ahl az-Zâigh Wa al-Ilhâd ‘An ath-Tha’ni Fî Taqlîd A’immah  all-Ijtihâd karya mufti kota Madinah al-Muhaddits asy-Syaikh Muhammad  al-Khadlir asy-Syinqithi (w 1353 H).&lt;br /&gt;99. Kasyf al-Hijâb ‘An Dlalâlah Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya  manuskrip berada di al-Khizanah at-Taimuriyyah.&lt;br /&gt;100. Muhiqq at-Taqawwul Fî Mas-alah at-Tawassul karya al-Imâm  al-Muhaddits Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari.&lt;br /&gt;101. al-Madârij as-Saniyyah Fî Radd al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Amir  al-Qadiri, salah seorang staf pengajar pada perguruan Dar al-‘Ulum  al-Qadiriyyah, Karatci Pakistan, telah diterbitkan.&lt;br /&gt;102. Mishbâh al-Anâm Wa Jalâ’ azh-Zhalâm Fî Radd Syubah al-Bid’i  an-Najdi al-Latî Adlalla Bihâ al-‘Awâmm karya as-Sayyid Alawi ibn Ahmad  al-Haddad, (w 1222 H), telah diterbitkan tahun 1325 H di penerbit  al-‘Amirah.&lt;br /&gt;103. al-Maqâlât karya asy-Syaikh Yusuf Ahmad ad-Dajwi, salah seorang  ulama terkemuka al-Azhar Cairo Mesir (w 1365 H).&lt;br /&gt;104. al-Maqâlât al-Wafiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya  asy-Syaikh Hasan Quzbik, telah diterbitkan dengan rekomendasi dari  asy-Syaikh Yusuf ad-Dajwi&lt;br /&gt;105. al-Minah al-Ilâhiyyah Fî Thams adl-Dlalâlah al-Wahhâbiyyah karya  al-Qâdlî Isma’il at-Tamimi at-Tunusi (w 1248 H). Karya manuskrip berada  di Dar al-Kutub al-Wathaniyyah Tunisia pada nnomor 2780. Copy manuskrip  ini berada di Ma’had al-Makhthuthat al-‘Arabiyyah Cairo Mesir. Sekarang  telah diterbitkan.&lt;br /&gt;106. Minhah Dzî al-Jalâl Fî ar-Radd ‘Alâ Man Thaghâ Wa Ahalla adl-Dlalâl  karya asy-Syaikh Hasan Abd ar-Rahman. Berisi bantahan atas ajaran  Wahhabiyyah tentang masalah ziarah dan tawassul. Telah diterbitkan tahun  1321 H oleh penerbit al-Hamidiyyah.&lt;br /&gt;107. al-Minhah al-Wahbiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhabiyyah karya  asy-Syaikh Dawud ibn Sulaiman an-Naqsyabandi al-Baghdadi (w 1299 H),  telah diterbitkan di Bombay tahun 1305 H.&lt;br /&gt;108. al-Manhal as-Sayyâl Fî al-Harâm Wa al-Halâl karya as-Sayyid  Musthafa al-Mishri al-Bulaqi.&lt;br /&gt;109. an-Nasyr ath-Thayyib ‘Alâ Syarh asy-Syaikh ath-Thayyib karya  asy-Syaikh Idris ibn Ahmad al-Wizani al-Fasi (w 1272 H).&lt;br /&gt;110. Nashîhah Jalîlah Li al-Wahhâbiyyah karya as-Sayyid Muhammad Thahir  Al-Mulla al-Kayyali ar-Rifa’i, pemimpin keturunan Rasulullah  (al-Asyraf/al-Haba-ib) di wilayah Idlib. Karya berisi nasehat ini telah  dikirimkan kepada kaum Wahhabiyyah, telah diterbitkan di Idlib Lebanon.&lt;br /&gt;111. an-Nafhah az-Zakiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya  asy-Syaikh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al-Kailani al-Iskandari (w  1362 H).&lt;br /&gt;112. an-Nuqûl asy-Syar’iyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya  asy-Syaikh Musthafa ibn Ahmad asy-Syathi al-Hanbali ad-Damasyqi, telah  diterbitkan tahun 1406 di Istanbul Turki.&lt;br /&gt;113. Nûr al-Yaqîn Fî Mabhats at-Talqîn; Risâlah as-Sunniyyîn Fî ar-Radd  ‘Alâ al-Mubtadi’în al-Wahhâbiyyîn Wa al-Mustauhibîn.&lt;br /&gt;114. Yahûdan Lâ Hanâbilatan karya asy-Syaikh al-Ahmadi azh-Zhawahir,  salah seorang Syaikh al-Azhar Cairo Mesir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-3855140813820596109?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/3855140813820596109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/3855140813820596109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2010/05/bantahan-para-ulama-trhadap-pndapat.html' title='Bantahan Para Ulama trhadap pndapat Ibnu abd wahhab'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-4958182785471642461</id><published>2010-05-16T15:13:00.000-07:00</published><updated>2010-05-16T15:14:52.995-07:00</updated><title type='text'>Fungsi Tasawwuf</title><content type='html'>&lt;p&gt; &lt;span style="font-size: 14pt; color: rgb(0, 128, 128);"&gt; Tasawwuf berfungsi untuk Bersihkan Hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;em&gt;Semakin hari, kehidupan terasa semakin sulit, setiap orang harus  bersaing untuk bias bertahan dalam menjalani kehidupan. Banyak diantara  orang yang gagal menjadi stress atau putus asa. Disinilah tasawwuf  berperan untuk menjaga keseimbangan hati dan ssebagai upaya agar tidak  selalu ingat kepada Allah yang telah menentukan segalanya. Berikut ini  wawancara Mukafi Niam dengan Ketua Jam’iyyah Ahlith Thariqah al  Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman) Habib Lutfi bin Ali bin Yahya tentang  peranan tasawwuf bagi masyarakat disela-sela Munas Jatman yang  diselenggarakan pada 28-31 Juni 2008 lalu di Asrama Haji Pondok Gede  Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Apa manfaat tasawwuf untuk masa modern sekarang ini?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tasawwuf itu tidak hanya bermanfaat untuk masa modern sekarang ini saja,  sampai sepanjang masa diperlukan karena dunia tasawwuf mencerminkan  pekerjaan hati, supaya bersih dari segala bentuk yang menyebabkan  kesyirikan. Kesyirikan itu kan luas, contohnya kita makan, kalau tidak  makan kita berkeyakinan akan mati, apa nasi bisa bikin hidup orang?.  Keyakinan sehat adalah segalanya, penyakit tidak bisa bikin mati orang!  Penyakit bukan tuhan, inilah diantara jenis kemusyrikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hati kita bersih dari syirik kecil, lebih-lebih syirik besar,  letaknya tidak di bibir, di mata, tetapi di hati. Sumber dari perbuatan  yang kurang baik dan kurang terpuji di sisi Allah adalah kealpaan, lupa  kepada yang maha kuasa sehingga timbulnya riya, hasud, dengki, dan  sebagainya ini karena kita lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita bisa bercermin? kita kan memiliki idola, yaitu  Rasulullah. Mulut kita bercermin pada Rasulullah, pandangan kita  bercermin pada Rasulullah. Tugas tasawwuf membersihkan, supaya kita  bersih dalam menjalankan amal dan budi pekerti yang baik. Kalau kita  menjalankan syariah, amal &lt;em&gt;ubudiyah&lt;/em&gt; tidak didorong atau diwarnai  oleh hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana agar kita jeli mana dorongan hawa nafsu dan bukan, tasawwuf  yang memberi pelajaran, dan mana yang keluar dari hati yang berkiblat  pada kitabullah dan &lt;em&gt;sunnnati&lt;/em&gt; rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kalau tarekat sendiri bagaimana, apa bedanya dengan  tasawwuf?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tasawwuf adalah buah daripada tarekat. Tarekat bersumber pada  “Bersembahlah sujudlah kamu kepada Allah seolah-olah kamu melihatnya  kalau belum mampu merasa didengar dan dilihat oleh Allah. Kalau kita  sudah merasa didengar dan dilihat oleh Allah, mungkinkan kita berbuat  yang tidak baik, paling tidak akan menimbulkan rasa malu, kalau sudah  seperti itu akan ada koreksi dan introspeksi. Kalau kita sudah malu,  menjadikan kita takut, tapi takut dalam pengertian takwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya ibadah, tak hanya sholat tetapi juga bekerja. Andainya kita  mati di tengah jalan, kita mati syahid. Hansip contohnya, niatnya  menjaga lingkungan masyarakat, walaupun dia berjalan-jalan, tak membaca  tasbih, tetapi itu sudah ibadah. Luas sekali arti ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah tarekat berperan sebagai &lt;em&gt;la ilaha illallah&lt;/em&gt; untuk  mengganti ukiran hati yang banyak lupa kepada Allah. Bagaimana kita  bercermin pada akhlak rasulullah, hati kita dicuci. Yang tadinya lihat  orang tentram, kita nga senang, lihat orang bahagia kita nga senang, ada  orang diberi pangkat, entah itu pangkat ukhrawi atau duniawi, kita nga  senang, tetangga kita kaya malah tidak bangga, inilah diantaranya. Ini  semuanya di hati. Hati kita dicuci sehingga kita betul-betul bisa  mencapai &lt;em&gt;alaa bidkhirillahi tatmainnul kulub&lt;/em&gt; (berzikir kepada  Allah akan menenteramkan hati).&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Tasawwuf sangat membantu masyarakat kota untuk menjaga keseimbangan  batin?&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, diantaranya itu. Kita berharap hidup ini bias seperti ikan, hidup di  laut, tetapi tidak asin karena memiliki prinsip dan kepribadian.  Misalnya pengertian zuhud di sini untuk membersihkan &lt;em&gt;ketaallukan&lt;/em&gt;  (ketundukan) pada bentuk duniawi, bukan meninggalkan duniawi, jangan  salah faham. Bagaimana kita bisa berhaji atau berzakat. Kita ingin bisa  berhaji, bukan dihajikan, kita ingin berzakat, bukan dizakati, ya kan.  Membersihkan hati pada keterkaitan pada selain Allah. Kita mutlak  kembalikan pada Allah sehingga kita kaya, kita dekat dengan pemberi  kekayaan, bukan pada kekayaannya, sehingga kita tidak memiliki  kekuatiran akan urusan harta. Kekuatiran kita pada pada kondisi iman  kita. Kalau kita tidak kuatir tak akan menjaga, apa yang diberi Allah.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini banyak tumbuh aliaran baru, termasuk dalam terekat.  Bagaimana Jatman memandang hal ini?&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya kita tidak mengatakan aliran ini itu dan sebagainya, Yang  penting bagaimana kita mempelajari tasawwuf yang sesuai dengan ajaran  assunah dan al Qur’an yang telah diterangkan ahli tasawwuf yang benar.  Itu saja yang kita pelajari, nanti kita tahu mana yang benar dan tidak,  daripada nanti kita mengatakan munculnya kelompok ini atau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sulit menentukan aliran mana yang layak diikuti, tanyakan pada  guru-guru yang benar-benar mumpuni dalam ilmu tasawwuf sehingga kita  tidak sesat dalam mamahaminya, sebab bahasa dalam bahasa tasawwuf sulit.  Seperti ungkapan &lt;em&gt;“hiasi dirimu dengan kemaksiatan",&lt;/em&gt; padahal  maksudnya hiasilah dirimu dengan perasaan banyak dosa, jangan menghiasi  dirimu perasaan banyak amalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tasawwuf menggunakan bahasa yang tinggi, supaya kaum yang baru,  kaum &lt;em&gt;mubtadiin &lt;/em&gt;(orang awam), mempelajari hal-hal mendasar dalam  Islam seperti caranya wudhu, sholat, sifat Allah, dan sebagainya.  Setelah itu cukup, baru mempelajari dunia tasawwuf. Jadi masuk tasawwuf  bukan sebagai pelarian, untuk mencari ketenangan. Setelah kita belajar  syariatnya, nanti kita betul-betul memahami dimana letaknya tasawwuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana kalangan tarekat mensikapi politik?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kita harus menjaga jamiyyah tarekat dari kepentingan politik, tetapi  jamiyyah tarekat tidak menghalangi hak individunya dalam menunaikan  demokrasinya, asal tidak membawa nama jamiyyah tarekatnya. Jadi wadah  ini utuh. Ini yang penting, Kita tidak membenarkan golput, manfaatkan  hak dan berilah ketauladanan dari jamaah terakat. Pilgub harus kita  jadikan supaya pendewasaan, menambah wawasan yang luas, entah wawasan  kebangsaan, agama dan lainnya. Akhirnya kita bisa menjadi contoh bagi  ummat dan bangsa yang dalam keadaan dahaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Benarkan hanya di Indonesia jamiyyah tarekat ini yang bisa  menyatukan seluruh aliran tarekat muktabarah?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kalau di Indonesia memang semua tarekat bisa kumpul. Masing-masing  tarekat punya kelebihan, setiap manusia pun diberi kelebihan  masing-masing individunya, tetapi tak harus dijadikan kelebihan dan  kekurangan seseorang untuk saling merendahkan. Kelebihan harus bisa  menutupi kekurangan yang lain sehingga harus saling mengisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Mungkinkan konsep ini bisa dikembangkan ke wilayah lain?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja, harapaan kita sama, kebersamaan diantara berbagai aliran  tarekat bisa dikembangkan ke kawasan dunia lainnya. (mkf)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-4958182785471642461?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/4958182785471642461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/4958182785471642461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2010/05/fungsi-tasawwuf.html' title='Fungsi Tasawwuf'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-5372145790856881607</id><published>2010-05-16T15:06:00.000-07:00</published><updated>2010-05-16T15:07:29.734-07:00</updated><title type='text'>pro dan kontra tentang hukum rokok</title><content type='html'>&lt;p&gt; &lt;span style="font-size: 14pt; color: rgb(0, 128, 128);"&gt; Beragam Pro dan Kontra tentang Fatwa Merokok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;img src="http://www.nu.or.id/tfiles/Image/news/id/news141232983808.jpg" align="left" border="0" width="100" /&gt;              Fatwa dilarang merokok yang dikeluarkan oleh Majlis Ulama Indonesia  (MUI) mendapatkan tanggapan sangat beragam di masyarakat. Pro dan kontra  merebak, bahkan sejak fatwa tersebut baru diwacanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa “Dilarang” dengan tingkatan-tingkatan penjabaran merupakan bukti  tersendiri dari adanya ketidaksepakatan dalam tubuh MUI sebagai pembuat  fatwa. Berikut ini adalah wawancara &lt;em&gt;NU Online &lt;/em&gt;dengan K. Arwani  Faishal, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (Kajian Hukum Islam)  Pengurus Besar Nahdlatul Ulama seputar status hukum rokok dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sebenarnya sejak kapankah merokok telah menjadi pembahasan  hukum dalam Islam?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan tentang merokok belum muncul sejak awal kelahiran Islam.  Pembahasan tentang hukum rokok oleh para ulama Islam baru muncul sekitar  abad XI Hijriyah atau sekitar empat ratus tahun yang lalu. Pada masa  ini, rokok mulai dikenal dan membudaya di berbagai belahan dunia Islam.  Sejak saat itulah hukum rokok gencar dibahas oleh para ulama di berbagai  negeri, baik secara kolektif maupun pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja dalam pembahasan ini perbedaan pendapat di antara para ulama  pasti terjadi. Bahkan hingga saat ini kita menemukan banyak koleksi  ilmuah mengenai keragaman pendapat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Keragaman seperti apakah yang kyai maksudkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Sebagian di antara para ulama menfatwakan mubah alias  boleh, sebagian berfatwa makruh, sedangkan sebagian lainnya lebih  cenderung menfatwakan haram. Nah perbedaan ini terus dapat kita ju,pai  hingga sekarang, baik dalam bentuk teks-teks yang telah terbukukan  maupun dalam fatwa-fatwa lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan ini terus memunculkan kontroversi sesuai dengan perkembangan  wacana di masyarakat. Pada saat korupsi menjadi wacana yang kuat di  tengah masyarakat, ternyata ada yang melontarkan gagasan menyamakan  rokok dengan korupsi. Padahal hukumnya haram berat karena termasuk  tindak sariqah (pencurian). Akan tetapi persoalannya akan lain ketika  merokok itu dihukumi haram. Akan muncul pro dari pihak tertentu dan  muncul pula kontra serta penolakan dari pihak-pihak yang tidak sepaham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah patokan umum dari kemunculan tinjauan hukum atas rokok?&lt;br /&gt;Pada dasarnya terdapat nash bersifat umum yang menjadi patokan hukum,  yakni larangan melakukan segala sesuatu yang dapat membawa kerusakan,  kemudaratan atau kemafsadatan sebagaimana termaktub di dalam QS.  Al-Baqarah: 195, dan hadits Nabi SAW. dari Ibnu Majah, No.2331. Bertolak  dari dua nash itu, ulama sepakat mengenai segala sesuatu yang membawa  mudarat adalah haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah apakah merokok itu membawa  mudarat ataukah tidak, dan terdapat pula manfaat ataukah tidak. Dalam  hal ini tercetus persepsi yang berbeda dalam meneliti dan mencermati  substansi rokok dari aspek kemaslahatan dan kemafsadatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan persepsi ini merupakan babak baru munculnya beberapa pendapat  mengenai hukum merokok dengan berbagai argumennya. Seandainya semua  sepakat, bahwa merokok tidak membawa mudarat atau membawa mudarat tetapi  relatif kecil, maka semua akan sepakat dengan hukum mubah atau makruh.  Demikian pula seandainya semuanya sepakat, bahwa merokok membawa mudarat  besar, maka akan sepakat pula dengan hukum haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Jika diklasifikasi, ada berapa arus besar pandangan hukum  tentang merokok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Beberapa pendapat serta argumennya mengenai hukum merokok  dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam hukum. Pertama, hukum merokok  adalah mubah atau boleh karena rokok dipandang tidak membawa mudarat.  Secara tegas dapat dinyatakan, bahwa hakikat rokok bukanlah benda yang  memabukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, hukum merokok adalah makruh karena rokok membawa mudarat relatif  kecil yang tidak signifikan untuk dijadikan dasar hukum haram. Ketiga,  hukum merokok adalah haram karena rokok secara mutlak dipandang membawa  banyak mudarat. Berdasarkan informasi mengenai hasil penelitian medis,  bahwa rokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit dalam, seperti  kanker, paru-paru, jantung dan lainnya setelah sekian lama  membiasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jika misalnya harus memilih, lalu hukum manakah yang paling  tepat untuk rokok?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Merokok itu mubah atau makruh karena tidak terdapat mudarat, atau  membawa mudarat tetapi relatif kecil. Hukum ini berlaku selam tidak  berlebihan. Apa saja bila berlebihan dan membawa mudarat yang  signifikan, maka hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali dalam gambaran kita sekarang, bahwa kemudaratan merokok dapat  pula dinyatakan tidak lebih besar dari kemudaratan durian yang jelas  berkadar kolesterol tinggi dan berisiko tinggi pula. Betapa tidak,  sepuluh tahun lebih seseorang merokok dalam setiap hari belum tentu  menderita penyakit akibat merokok. Sedangkan selama tiga bulan saja  seseorang dalam setiap hari makan durian, kemungkinan besar dia akan  terjangkit penyakit berat. Kalaulah merokok itu membawa mudarat relatif  kecil dengan hukum makruh, kemudian di balik kemudaratan itu terdapat  kemaslahatan yang lebih besar, maka hukum makruh itu dapat berubah  menjadi mubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bentuk kemaslahatan dapat ditengarai berupa membangkitkan  semangat berpikir dan bekerja sebagaimana biasa dirasakan oleh para  perokok. Berbeda dengan benda yang secara jelas memabukkan, hukumnya  tetap haram meskipun terdapat manfaat karena kemudaratannya tentu jauh  lebih besar dari manfaat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bisakah disebutkan alasan-alasan khusus yang mendasari  pelarangan merokok oleh para ulama dan mengapa alasan itu ditentang oleh  ulam lainnya?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika hukum merokok menjadi objek bahasan para ulama' muncullah  kontroversi. Bagi yang mengharamkannya. tidak kekurangan alasan untuk  menjelaskan berbagai argumennya. Demikian sebaliknya, namun kalau  menurut saya pribadi, mengharamkan rokok bukanlah sikap yang tepat. Di  sini sekurang-kurangnya terdapat tujuh alasan berikut argumentasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama, &lt;/em&gt;kurang objektif bila mengharamkan merokok itu dengan  alasan rokok membawa banyak mudarat yang berisiko tinggi. Berdasarkan  pada informasi (bukan bukti) mengenai hasil penelitian medis, merokok  dapat mengakibatkan antara lain; kanker, serangan jantung, impotensi dan  gangguan kehamilan serta janin. Dengan kecanggihan teknologi sekecil  apa pun kemudaratan pada rokok khususnya dapat ditemukan. Bagaimana pun  semua itu masih dalam posisi praduga yang perlu dibuktikan secara nyata.  Ada kemungkinan karena kecanggihan teknologi yang dapat menemukan  sekecil apa pun kemudaratan itu justeru kemudian terkesan menjadi jauh  lebih besar dari apa yang sebenarnya. Apabila karekter penelitian medis  semacam ini kurang dicermati, kemudaratan merokok akan cenderung  dipahami jauh lebih besar dari apa yang sebenarnya. Selanjutnya,  kemudaratan yang sebenarnya kecil dan terkesan jauh lebih besar itu  (hanya dalam bayangan) dijadikan dasar untuk menetapkan hukum haram.  Padahal, kemudaratan yang relatif kecil itu seharusnya dijadikan dasar  untuk menetapkan hukum makruh. Tidakkah banyak pula makanan dan minuman  yang dinyatakan halal, ternyata secara medis dipandang tidak steril  untuk dikonsumsi. Mungkinkah setiap makanan dan minuman yang dinyatakan  tidak steril itu kemudian dihukumi haram, ataukah harus dicermati  seberapa besar kemudaratannya, kemudian ditentukan mubah, makruh ataukah  haram hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Jika rokok dianggap sebagai khobais karena unsur candu,  menurut Kyai seperti apa?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nah itulah aspek &lt;em&gt;keduanya, &lt;/em&gt;sependek pandangan saya, adalah  tanpa tendensi ketika dinyatakan, bahwa rokok tidaklah memabukkan. Dan  jika tetap muncul dalih bahwa tidak memabukkan itu karena unsur  kecanduan atau ketagihan, maka sangatlah sulit untuk dapat dibenarkan.  Faktanya, tidak seorang pun yang tidak terbiasa merokok akan mabuk bila  ia merokok untuk pertama kali.&lt;br /&gt;Ketiga, suatu hal yang perlu saya nyatakan, bahwa tidak akurat manakala  menetapkan hukum haram merokok dengan alasan kemudaratan rokok yang  relatif kecil itu dihukumi haram dengan alasan rokok dalam ukuran banyak  atau berlebihan adalah haram hukumnya. Ada kesalahpahaman dalam  memahami hadits Nabi SAW. mengenai setiap benda dalam jumlah besar yang  dapat memabukkan itu bila dalam jumlah sedikit pun tetap haram. Hadits  tersebut pengertiannya terfokus pada benda yang secara tegas memabukkan  atau berhukum haram karena meskipun hanya dalam ukuran sedikit tetap  membawa mudarat yang lebih besar dari manfaatnya. Adapun benda-benda  yang hakikatnya tidak memabukkan, tentu dalam ukuran sedikit tidak bisa  dinyatakan haram meskipun dalam ukuran banyak benda itu diharamkan. Hal  ini dapat dipahami, bahwa benda yang substansinya tidak haram itu dalam  ukuran sedikit justeru tidak haram karena tidak terdapat mudarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keempat, &lt;/em&gt;tidak berlebihan manakala saya nyatakan, bahwa tidak  proporsional menetapkan hukum haram merokok karena terdapat unsur  tabdzir (menyia-nyiakan harta). Persoalannya, selama merokok itu  diyakini dengan hukum mubah atau makruh tetapi terdapat manfaat, maka  tidak dapat dikategorikan tabdzir. Dalam contoh lain, satu orang  mengendarai satu mobil, padahal sebenarnya hal itu bisa dilakuka dengan  naik kendaraan umum yang tentunya tidak berlaku boros dan tidak pula  membuat jalanan macet. Meskipun demikian, mengenadari satu mobil untuk  satu orang itu tidak dikategorikan tabdzir karena terdapat manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Rokok diharamkan karena secara substansial dianggap merugikan?&lt;br /&gt;Saya nyatakan, bahwa tidaklah substansial mengharamkan merokok karena  dapat mengganggu dan membawa mudarat bagi orang di sekitarnya. Masalah  mengganggu dan menyebarkan mudarat bagi orang lain merupakan tindakan  lain yang haram dilakukan, dan hal itu tidak menyangkut hakikat hukum  rokok karena merokok dapat dilakukan dalam kesendirian yang sekiranya  tidak mengganggu dan berdampak mudarat bagi orang lain, ini adalah unsur  penolakan yang&lt;em&gt; kelima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Alasan &lt;em&gt;keenam &lt;/em&gt;adalah menyamakan rokok dengan tindakan  bunuh diri. Menurut saya sangat tidak rasional manakala menetapkan hukum  haram merokok karena dianggap sama dengan bunuh diri secara perlahan.  Sunggguh mengejutkan bila hal ini dijadikan alasan untuk mendasari hukum  haram merokok. Tidak seorang pun memungkiri, bahwa bunuh diri itu haram  dan dosa besar. Akan tetapi tidak rasional merokok disamakan dengan  bunuh diri karena secara jelas merokok itu bukan dimaksudkan untuk bunuh  diri. Tidak ada seorang pun senang untuk mati kecuali benar-benar telah  frustasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Apakah alasan menuruti hawa nafsu dengan merokok juga tidak  dapat dibenarkan?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya rasakan agak lucu menetapkan hukum haram merokok karena dinilai  tidak ada tujuan yang sah atau semata-mata untuk kepentingan taladz-dzud  (sekedar bernikmat-nikmat). Pada alasan &lt;em&gt;ketujuh &lt;/em&gt;ini, terasa  sangat janggal karena mencari kenikmatan itu mubah dan tidak diharamkan  selama tidak mengarah kepada hal yang haram. Tidakkah setiap orang yang  sudah kenyang kemudian dia makan makanan kecil atau meminum yang lezat  itu berarti bermaksud mencari kenikmatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-5372145790856881607?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/5372145790856881607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/5372145790856881607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2010/05/pro-dan-kontra-tentang-hukum-rokok.html' title='pro dan kontra tentang hukum rokok'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-2164007439416769732</id><published>2010-03-15T13:29:00.000-07:00</published><updated>2010-03-15T13:31:09.526-07:00</updated><title type='text'>SOAL MAULID KANJENG NABI SAW</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 14pt; color: rgb(255, 255, 255); padding-left: 4px;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;table cellpadding="15"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt; &lt;!--&lt;a href="page.php?lang=id&amp;menu=home"&gt;Depan&lt;/a&gt; &amp;raquo;  &lt;a href="page.php?lang=id&amp;menu=news_list&amp;category_id=10"&gt; Ubudiyyah&lt;/a&gt; --&gt;  &lt;script type="text/javascript"&gt; function tPrintBWIkeren(url){  window.open(url,"printingBWIkeren","toolbar=1,location=0,directories=0,status=1,menubar=1,scrollbars=1,resizable=1,width=800,height=600"); } &lt;/script&gt;  &lt;div id="contentBerita"&gt; &lt;p&gt; &lt;span style="font-size: 14pt; color: rgb(0, 128, 128);"&gt; Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma'na Bid’ah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;02/03/2010&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; Peryataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah amalan bid'ah adalah peryataan sangat tidak tepat, karena bid'ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari dari Al-Qur'an dan as-Sunah. Adapun maulid  walaupun suatu yang baru di dalam Islam akan tetapi memiliki landasan dari Al-Qur'an dan as-Sunah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada maulid Nabi di dalamya banyak sekali nilai ketaatan, seperti: sikap syukur, membaca dan mendengarkan bacaan Al-Quran, bersodaqoh, mendengarkan mauidhoh hasanah atau menuntut ilmu, mendengarkan kembali sejarah dan keteladanan Nabi, dan membaca sholawat yang kesemuanya telah dimaklumi bersama bahwa hal tersebut sangat dianjurkan oleh agama dan ada dalilnya di dalam Al-Qur'an dan as-Sunah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengukhususan Waktu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menyatakan bahwa menjadikan maulid dikatakan bid'ah adalah adanya pengkhususan (&lt;em&gt;takhsis&lt;/em&gt;) dalam pelakanaan di dalam waktu tertentu, yaitu bulan Rabiul Awal yang hal itu tidak dikhususkan oleh syariat. Pernyataan ini sebenarnaya perlu di tinjau kembali, karena &lt;em&gt;takhsis &lt;/em&gt;yang dilarang di dalam Islam ialah &lt;em&gt;takhsis &lt;/em&gt;dengan cara meyakini atau menetapkan hukum suatu amal bahwa amal tersebut tidak boleh diamalkan kecuali hari-hari khusus dan pengkhususan tersebut tidak ada landasan dari &lt;em&gt;syar'i &lt;/em&gt;sendiri(Dr Alawy bin Shihab, &lt;em&gt;Intabih Dinuka fi Khotir&lt;/em&gt;: hal.27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berbeda dengan penempatan waktu perayaan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, karena orang yang melaksanakan maulid Nabi sama sekali tidak meyakini, apalagi menetapkan hukum bahwa maulid Nabi tidak boleh dilakukan kecuali bulan Robiul Awal, maulid Nabi bisa diadakan kapan saja, dengan bentuk acara yang berbeda selama ada nilai ketaatan dan tidak bercampur dengan maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkhususan waktu maulid disini bukan kategori takhsis yang di larang syar'i tersebut, akan tetapi masuk kategori &lt;em&gt;tartib &lt;/em&gt;(penertiban).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkhususan waktu tertentu dalam beramal sholihah adalah diperbolehkan, Nabi Muhammad sendiri mengkhusukan hari tertentu untuk beribadah dan berziaroh ke masjid kuba, seperti diriwatkan Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad mendatangi masjid Kuba setiap hari Sabtu dengan jalan kaki atau dengan kendaraan dan sholat sholat dua rekaat di sana (HR Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar mengomentari hadis ini mengatakan: "Bahwa hadis ini disertai banyaknya riwayatnya menunjukan diperbolehkan mengkhususan sebagian hari-hari tertentu dengan amal-amal salihah dan dilakukan terus-menerus".(&lt;em&gt;Fathul Bari &lt;/em&gt;3: hal. 84)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi juga berkata senada di dalam kitab &lt;em&gt;Syarah Sahih Muslim&lt;/em&gt;. Para sahabat Anshor juga menghususkan waktu tertentu untuk berkumpul untuk bersama-sama mengingat nikmat Allah,( yaitu datangnya Nabi SAW) pada hari Jumat atau mereka menyebutnya Yaumul 'Urubah dan direstui Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dapat difahami, bahwa pengkhususan dalam jadwal Maulid, Isro' Mi'roj dan yang lainya hanyalah untuk penertiban acara-acara dengan memanfaatkan momen yang sesui, tanpa ada keyakinan apapun, hal ini seperti halnya penertiban atau pengkhususan waktu sekolah, penghususan kelas dan tingkatan sekolah yang kesemuanya tidak pernah dikhususkan oleh syariat, tapi hal ini diperbolehkan untuk ketertiban, dan umumnya tabiat manusia apabila kegiatan tidak terjadwal maka kegiatan tersebut akan mudah diremehkan dan akhirnya dilupakan atau ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara maulid di luar bulan Rabiul Awal sebenarnya telah ada dari dahulu, seperti acara pembacaan kitab &lt;em&gt;Dibagh wal Barjanji &lt;/em&gt;atau kitab-kitab yang berisi sholawat-sholawat yang lain yang diadakan satu minggu sekali di desa-desa dan pesantren, hal itu sebenarnya adalah kategori maulid, walaupun di Indonesia masyarakat tidak menyebutnya dengan maulid, dan jika kita berkeliling di negara-negara Islam maka kita akan menemukan bentuk acara dan waktu yang berbeda-beda dalam acara maulid Nabi, karena ekpresi syukur tidak hanya dalam satu waktu tapi harus terus menerus dan dapat berganti-ganti cara, selama ada nilai ketaatan dan tidak dengan jalan maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semisal di Yaman, maulid diadakan setiap malam jumat yang berisi bacaan sholawat-sholawat Nabi dan ceramah agama dari para ulama untuk selalu meneladani Nabi. Penjadwalan maulid di bulan Rabiul Awal hanyalah murni budaya manusia, tidak ada kaitanya dengan syariat dan barang siapa yang meyakini bahwa acara maulid tidak boleh diadakan oleh syariat selain bulan Rabiul Awal maka kami sepakat keyakinan ini adalah &lt;em&gt;bid'ah dholalah&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tak Pernah Dilakukan Zaman Nabi dan Sohabat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara orang yang mengatakan maulid adalah bid'ah adalah karena acara maulid tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf. Pendapat ini muncul dari orang yang tidak faham bagaimana cara mengeluarkan hukum(&lt;em&gt;istimbat&lt;/em&gt;) dari Al-Quran dan as-Sunah. Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau Sahabat –dalam term ulama usul fiqih disebut &lt;em&gt;at-tark&lt;/em&gt; – dan tidak ada keterangan apakah hal tersebut diperintah atau dilarang maka menurut ulama ushul fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikan dalil, baik untuk melarang atau mewajibkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui pengertian as-Sunah adalah perkatakaan, perbuatan dan persetujuan beliau. Adapun &lt;em&gt;at-tark &lt;/em&gt;tidak masuk di dalamnya. Sesuatu yang ditinggalkan Nabi atau sohabat mempunyai banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa langsung diputuskan hal itu adalah haram atau wajib. Disini akan saya sebutkan alasan-alasan kenapa Nabi meninggalkan sesuatu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nabi meniggalkan sesuatu karena hal tersebut sudah masuk di dalam ayat atau hadis yang maknanya umum, seperti sudah masuk dalam makna ayat: "&lt;em&gt;Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan&lt;/em&gt;.''(QS Al-Haj: 77). Kebajikan maknanya adalah umum dan Nabi tidak menjelaskan semua secara rinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nabi meninggalkan sesutu karena takut jika hal itu belai lakukan akan dikira umatnya bahwa hal itu adalah wajib dan akan memberatkan umatnya, seperti Nabi meninggalkan sholat tarawih berjamaah bersama sahabat karena khawatir akan dikira sholat terawih adalah wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Nabi meninggalkan sesuatu karena takut akan merubah perasaan sahabat, seperti apa yang beliau katakan pada siti Aisyah: "&lt;em&gt;Seaindainya bukan karena kaummu baru masuk Islam sungguh akan aku robohkan Ka'bah dan kemudian saya bangun kembali dengan asas Ibrahim as. Sungguh Quraiys telah membuat bangunan ka'bah menjadi pendek&lt;/em&gt;." (HR. Bukhori dan Muslim) Nabi meninggalkan untuk merekontrusi ka'bah karena menjaga hati mualaf ahli Mekah agar tidak terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Nabi meninggalkan sesuatu karena telah menjadi adatnya, seperti di dalam hadis: Nabi disuguhi biawak panggang kemudian Nabi mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka ada yang berkata: "itu biawak!", maka Nabi menarik tangannya kembali, dan beliu ditanya: "apakah biawak itu haram? Nabi menjawab: "&lt;em&gt;Tidak, saya belum pernah menemukannya di bumi kaumku, saya merasa jijik!&lt;/em&gt;" (QS. Bukhori dan Muslim) hadis ini menunjukan bahwa apa yang ditinggalkan Nabi setelah sebelumnya beliu terima hal itu tidak berarti hal itu adalah haram atau dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Nabi atau sahabat meninggalkan sesuatu karena melakukan yang lebih afdhol. Dan adanya yang lebih utama tidak menunjukan yang diutamai (&lt;em&gt;mafdhul&lt;/em&gt;) adalah haram.dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain (untuk lebih luas lih. Syekh Abdullah al Ghomariy. &lt;em&gt;Husnu Tafahum wad Dark limasalatit tark&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nabi bersabda:" Apa yang dihalalakan Allah di dalam kitab-Nya maka itu adalah halal, dan apa yang diharamkan adalah haram dan apa yang didiamkan maka itu adalah ampunan maka terimalah dari Allah ampunan-Nya dan Allah tidak pernah melupakan sesuatu, kemudian Nabi membaca:" &lt;em&gt;dan tidaklah Tuhanmu lupa&lt;/em&gt;".(HR. Abu Dawud, Bazar dll.) dan Nabi juga bersabda: "&lt;em&gt;Sesungguhnya Allah menetapkan kewajiban maka jangan enkau sia-siakan dan menetapkan batasan-batasan maka jangan kau melewatinya dan mengharamkan sesuatu maka jangan kau melanggarnya, dan dia mendiamkan sesuatu karena untuk menjadi rahmat bagi kamu tanpa melupakannya maka janganlah membahasnya&lt;/em&gt;".(HR.Daruqutnhi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman:"&lt;em&gt;Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya&lt;/em&gt;."(QS.Al Hasr:7) dan Allah tidak berfirman  dan apa yang ditinggalknya maka tinggalkanlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dapat disimpulkan bahwa "at-Tark" tidak memberi faidah hukum haram, dan alasan pengharaman maulid dengan alasan karena tidak dilakukan Nabi dan sahabat sama dengan berdalil dengan sesuatu yang tidak bisa dijadikan dalil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Suyuti menjawab peryataan orang yang mengatakan: "Saya tidak tahu bahwa maulid ada asalnya di Kitab dan Sunah" dengan jawaban: "Tidak mengetahui dalil bukan berarti dalil itu tidak ada", peryataannya Imam Suyutiy ini didasarkan karena beliau sendiri dan Ibnu Hajar al-Asqolaniy telah mampu mengeluarkan dalil-dalil maulid dari as-Sunah. (Syekh Ali Jum'ah. &lt;em&gt;Al-Bayanul  Qowim&lt;/em&gt;, hal.28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;Zarnuzi Ghufron&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketua LMI-PCINU Yaman dan sekarang sedang belajar di Fakultas Syariah wal Qonun  Univ Al-Ahgoff, Hadramaut, YAMAN&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden"&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input onclick="jsCall();" id="jsProxy" type="hidden"&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-2164007439416769732?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/2164007439416769732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/2164007439416769732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2010/03/soal-maulid-kanjeng-nabi-saw.html' title='SOAL MAULID KANJENG NABI SAW'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-5300691887464912376</id><published>2010-03-15T13:22:00.000-07:00</published><updated>2010-03-15T13:24:22.476-07:00</updated><title type='text'>PERBEDAAN GERAK JARI TELUNJUK DALAM TASYAHUD</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 14pt; color: rgb(255, 255, 255); padding-left: 4px;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;table cellpadding="15"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt; &lt;!--&lt;a href="page.php?lang=id&amp;menu=home"&gt;Depan&lt;/a&gt; &amp;raquo;  &lt;a href="page.php?lang=id&amp;menu=news_list&amp;category_id=10"&gt; Ubudiyyah&lt;/a&gt; --&gt;  &lt;script type="text/javascript"&gt; function tPrintBWIkeren(url){  window.open(url,"printingBWIkeren","toolbar=1,location=0,directories=0,status=1,menubar=1,scrollbars=1,resizable=1,width=800,height=600"); } &lt;/script&gt;  &lt;div id="contentBerita"&gt; &lt;p&gt; &lt;span style="font-size: 14pt; color: rgb(0, 128, 128);"&gt; Hukum Menggerak-gerakkan Jari dalam Shalat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;16/02/2010&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;em&gt;Berikut ini diketengahkan ulasan lain tentang menggerakkan telunjuk pada saat tahiyat, seperti yang pernah dibahas sebelumnya. (&lt;/em&gt;&lt;em&gt;redaksi)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Jika kita perhatikan, saat duduk tasyahhud dalam shalat memang tidak semua orang menggerakkan jari telunjuk dengan cara yang sama. Ini semata-mata karena perbedaan ulama dalam memahami hadits. Perbedaan ini terjadi sejak zaman tabi’in dan ulama mazhab. Perbedaan ini tidak menyebabkan tidak sahnya shalat dan tidak pula menyebabkan kesesatan, karena perbedaannya dalam hal furu’iyah yang masing-masing mempunyai dalil hadits Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits yang dipahami berbeda-beda oleh ulama adalah hadits Rasulullah saw.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;عن ابن عمر رضي الله عنهما: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم اِذَاَ قَعَدَ لِلتَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ اليُسْرَى عَلىَ رُكْبَتِهِ وَاليُمْنَى عَلىَ اليُمْنىَ, وَعَقَدَ ثَلاَثاً وَخَمْسِيْنَ وَأَشَارَ بِإِصْبِعِهِ السَّباَبَةِ --رواه مسلم&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW jika duduk untuk tasyahhud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan membentuk angka “lima puluh tiga”, dan memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuknya”&lt;/em&gt; (HR Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “membentuk angka lima puluh tiga” ialah suatu isyarah dari cara menggenggam jari kelingking, jari manis dan jari tengah disebut angka tiga, dan menjadikan ibu jari berada di atas jari tengah dan di bawah jari telunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun penyebab terjadinya perbedaan ulama tentang cara isyarah dengan jari telunjuk saat tasyahhud apakah digerakkan atau diam saja dan kapan waktunya adalah karena ada hadits yang sama denga di atas dengan tambahan teks (matan) dari riwayat lain, yaitu hadits yang diceritakan dari Sahabat Wail RA:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;ثُمَّ رَفَعَ اصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهاَ يَدْعُوْ --رواه أحمد&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;”..... &lt;em&gt;Kemudian beliau mengangkat jarinya sehingga aku melihatnya beliau menggerak-gerakkanya sambil membaca doa&lt;/em&gt;.” (HR: Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hadits yang diriwayatk dari Ibn Zubair RA:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كاَنَ يَشِيْرُ بِإِصْبِعِهِ إِذَاَ دَعَا لاَ يُحَرِّكُهَا --رواه أبو داود والنسائي&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Bahwa Nabi SAW memberi isyarat (menunjuk) dengan jarinya jika dia berdoa dan tidak menggerakkannya&lt;/em&gt;. (HR Abu Daud dan Al Nasai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Hadits tersebut Imam Mazhab fiqh sepakat bahwa meletakkan dua tangan di atas kedua lutut pada saat tasyahhud hukumnya adalah sunnah. Namun juga para imam mazhab berbeda pendapat dalam hal menggenggam jari-jari dan berisyarat dengan jari telunjuk (Alawi Abbas al Maliki, &lt;em&gt;Ibanahtul Ahkam, Syarh Bulughul Maram&lt;/em&gt;, Indonesia: al Haramain, Juz 1, h. 435-437. Dan lihat pula &lt;em&gt;Al Juzayri&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Kitab al-Fiqh ‘Ala Madzahibil Arba’ah&lt;/em&gt;, Beirut: Darul Fikr, 1424 H. Juz 1, h. 227-228).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menurut ulama mazhab Hanafi, mengangkat jari telunjuk dilakukan pada saat membaca lafadz “&lt;em&gt;Laa Ilaaha&lt;/em&gt;”, kemudian meletakkannya kembali pada saat membaca lafadz “&lt;em&gt;illallah&lt;/em&gt;” untuk menunjukan bahwa mengakat jari telunjuk itu menegaskan tidak ada Tuhan dan meletakkan jari telunjuk itu menetapkan ke-Esa-an Allah. Artinya, mengangkat jari artinya tidak ada Tuhan yang berhak disembah dan meletakkan jari telunjuk untuk menetapkan ke-Esa-an Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menurut ulama mazhab Maliki, pada saat Tasyahhud tangan kanan semua jari digenggam kecuali jari telunjuk dan ibu jari di bawahnya lepas. kemudian menggerak-gerakkan secara seimbang jari telunjuk ke kanan dan ke kiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menurut ulama mazhab Syafi’i, mengenggam jari kelingking, jari manis dan jari tengah. Kemudian memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuk sekali saja saat kalimat “&lt;em&gt;illallah&lt;/em&gt;” (الا الله) diucapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Menurut mazhab Hambali, mengenggam jari kelingking, jari manis dan jari tengah dengan ibu jari. kemudian memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuk saat kalimat “&lt;em&gt;Allah&lt;/em&gt;” ( الله) diucapkan ketika  tasyahhud dan doa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pendapat Syeikh Al-Albani. (Lihat kitab Sifat Shalat Nabi halaman 140). bahwa menggerakkan jari dilakukan sepanjang membaca lafadz Tasyahhud.&lt;br /&gt;Imam al-Baihaqi menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَقَالَ البَيْهَقِيْ: يَحْتملُ  أَنْ يَكُوْنَ مُرَادُهُ بِالتَحْرِيْكِ الإِشَارَةُ حَتَّى لاَيُعَارِضَ حَدِيْثَ ابْنِ الزُبَيْر&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan maksud hadits yang menyatakan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan saat tasyahhud adalah isyarat (menunjuk), bukan mengulang-ulang gerakkannya, agar tidak bertentangan dengan hadits Ibnu Zubair yang menyatakan tidak digerakkannya jari telunjuk tersebut. Hikmah memberi isyarah dengan satu jari telunjuk ialah untuk menunjukkan ke-Esa-an Allah dan karena jari telunjuk yang menyambung ke hati sehingga lebih mendatangkan kekhusyu’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;H M. Cholil Nafis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU&lt;/em&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;a href="http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;amp;menu=news_list&amp;amp;category_id=10"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script&gt;function fbs_click() {u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u='+encodeURIComponent(u)+ '&amp;t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436'); return false; } &lt;/script&gt; &lt;style&gt; html .fb_share_button { display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; height:15px; border:1px solid #d8dfea; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?8:26981) no-repeat top right; } html .fb_share_button:hover { color:#fff; border-color:#295582; background:#3b5998 url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?8:26981) no-repeat top right; tex&lt;/style&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden"&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input onclick="jsCall();" id="jsProxy" type="hidden"&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-5300691887464912376?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/5300691887464912376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/5300691887464912376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2010/03/perbedaan-gerak-jari-telunjuk-dalam.html' title='PERBEDAAN GERAK JARI TELUNJUK DALAM TASYAHUD'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-470332195636468326</id><published>2010-03-15T12:54:00.000-07:00</published><updated>2010-03-15T12:56:13.865-07:00</updated><title type='text'>TENTANG ROKOK</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 14pt; color: rgb(255, 255, 255); padding-left: 4px;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;table cellpadding="15"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt; &lt;!--&lt;a href="page.php?lang=id&amp;menu=home"&gt;Depan&lt;/a&gt; &amp;raquo;  &lt;a href="page.php?lang=id&amp;menu=news_list&amp;category_id=11"&gt; Syariah&lt;/a&gt; --&gt;  &lt;script type="text/javascript"&gt; function tPrintBWIkeren(url){  window.open(url,"printingBWIkeren","toolbar=1,location=0,directories=0,status=1,menubar=1,scrollbars=1,resizable=1,width=800,height=600"); } &lt;/script&gt;  &lt;div id="contentBerita"&gt; &lt;p&gt; &lt;span style="font-size: 14pt; color: rgb(0, 128, 128);"&gt; Bahtsul Masail tentang Hukum Merokok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;19/01/2009&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; Sejak awal abad XI Hijriyah atau sekitar empat ratus tahun yang lalu, rokok dikenal dan membudaya di berbagai belahan dunia Islam. Sejak itulah sampai sekarang hukum rokok gencar dibahas oleh para ulama di berbagai negeri, baik secara kolektif maupun pribadi. Perbedaan pendapat di antara mereka mengenai hukum rokok tidak dapat dihindari dan berakhir kontroversi. Itulah keragaman pendapat yang merupakan fatwa-fatwa yang selama ini telah banyak terbukukan. Sebagian di antara mereka menfatwakan mubah alias boleh, sebagian berfatwa makruh, sedangkan sebagian lainnya lebih cenderung menfatwakan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini dan di negeri ini yang masih dilanda krisis ekonomi, pembicaraan hukum rokok mencuat dan menghangat kembali. Pendapat yang bermunculan selama ini tidak jauh berbeda dengan apa yang telah terjadi, yakni tetap menjadi kontroversi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kontroversi Hukum Merokok&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya muncul fatwa, bahwa korupsi itu hukumnya haram berat karena termasuk tindak sariqah (pencurian), maka semua orang akan sependapat termasuk koruptor itu sendiri. Akan tetapi persoalannya akan lain ketika merokok itu dihukumi haram. Akan muncul pro dari pihak tertentu dan muncul pula kontra serta penolakan dari pihak-pihak yang tidak sepaham. Dalam tinjauan fiqh terdapat beberapa kemungkinan pendapat dengan berbagai argumen yang bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya terdapat nash bersifat umum yang menjadi patokan hukum, yakni larangan melakukan segala sesuatu yang dapat membawa kerusakan, kemudaratan atau kemafsadatan sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur'an :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ. البقرة: 195&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;em&gt;&lt;br /&gt;Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik&lt;/em&gt;. (Al-Baqarah: 195)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Sunnah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ. رواه ابن ماجه, الرقم: 2331&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu 'Abbas ra, ia berkata ; Rasulullah SAW. bersabda: &lt;em&gt;Tidak boleh berbuat kemudaratan (pada diri sendiri), dan tidak boleh berbuat kemudaratan (pada diri orang lain)&lt;/em&gt;. (HR. Ibnu Majah, No.2331)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari dua nash di atas, ulama' sepakat mengenai segala sesuatu yang membawa mudarat adalah haram. Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah apakah merokok itu membawa mudarat ataukah tidak, dan terdapat pula manfaat ataukah tidak. Dalam hal ini tercetus persepsi yang berbeda dalam meneliti dan mencermati substansi rokok dari aspek kemaslahatan dan kemafsadatan. Perbedaan persepsi ini merupakan babak baru munculnya beberapa pendapat mengenai hukum merokok dengan berbagai argumennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya semua sepakat, bahwa merokok tidak membawa mudarat atau membawa mudarat tetapi relatif kecil, maka semua akan sepakat dengan hukum mubah atau makruh. Demikian pula seandainya semuanya sepakat, bahwa merokok membawa mudarat besar, maka akan sepakat pula dengan hukum haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pendapat itu serta argumennya dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama ; hukum merokok adalah mubah atau boleh karena rokok dipandang tidak membawa mudarat. Secara tegas dapat dinyatakan, bahwa hakikat rokok bukanlah benda yang memabukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua ; hukum merokok adalah makruh karena rokok membawa mudarat relatif kecil yang tidak signifikan untuk dijadikan dasar hukum haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga; hukum merokok adalah haram karena rokok secara mutlak dipandang membawa banyak mudarat. Berdasarkan informasi mengenai hasil penelitian medis, bahwa rokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit dalam, seperti kanker, paru-paru, jantung dan lainnya setelah sekian lama membiasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga pendapat di atas dapat berlaku secara general, dalam arti mubah, makruh dan haram itu bagi siapa pun orangnya. Namun bisa jadi tiga macam hukum tersebut berlaku secara personal, dengan pengertian setiap person akan terkena hukum yang berbeda sesuai dengan apa yang diakibatkannya, baik terkait kondisi personnya atau kwantitas yang dikonsumsinya. Tiga tingkatan hukum merokok tersebut, baik bersifat general maupun personal terangkum dalam paparan panjang 'Abdur Rahman ibn Muhammad ibn Husain ibn 'Umar Ba'alawiy di dalam &lt;em&gt;Bughyatul Mustarsyidin &lt;/em&gt;(hal.260) yang sepotong teksnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;لم يرد في التنباك حديث عنه ولا أثر عن أحد من السلف، ....... والذي يظهر أنه إن عرض له ما يحرمه بالنسبة لمن يضره في عقله أو بدنه فحرام، كما يحرم العسل على المحرور والطين لمن يضره، وقد يعرض له ما يبيحه بل يصيره مسنوناً، كما إذا استعمل للتداوي بقول ثقة أو تجربة نفسه بأنه دواء للعلة التي شرب لها، كالتداوي بالنجاسة غير صرف الخمر، وحيث خلا عن تلك العوارض فهو مكروه، إذ الخلاف القوي في الحرمة يفيد الكراهة&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tidak ada hadits mengenai tembakau dan tidak ada atsar (ucapan dan tindakan) dari seorang pun di antara para shahabat Nabi SAW. … Jelasnya, jika terdapat unsur-unsur yang membawa mudarat bagi seseorang pada akal atau badannya, maka hukumnya adalah haram sebagaimana madu itu haram bagi orang yang sedang sakit demam, dan lumpur itu haram bila membawa mudarat bagi seseorang. Namun kadangkala terdapat unsur-unsur yang mubah tetapi berubah menjadi sunnah sebagaimana bila sesuatu yang mubah itu dimaksudkan untuk pengobatan berdasarkan keterangan terpercaya atau pengalaman dirinya bahwa sesuatu itu dapat menjadi obat untuk penyakit yang diderita sebagaimana berobat dengan benda najis selain khamr. Sekiranya terbebas dari unsur-unsur haram dan mubah, maka hukumnya makruh karena bila terdapat unsur-unsur yang bertolak belakang dengan unsur-unsur haram itu dapat difahami makruh hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan sepotong paparan di atas, apa yang telah diuraikan oleh Mahmud Syaltut di dalam &lt;em&gt;Al-Fatawa&lt;/em&gt; (hal.383-384) dengan sepenggal teks sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;إن التبغ ..... فحكم بعضهم بحله نظرا إلى أنه ليس مسكرا ولا من شأنه أن يسكر ونظرا إلى أنه ليس ضارا لكل من يتناوله, والأصل في مثله أن يكون حلالا ولكن تطرأ فيه الحرمة بالنسبة فقط لمن يضره ويتأثر به. .... وحكم بعض أخر بحرمته أوكراهته نظرا إلى ما عرف عنه من أنه يحدث ضعفا فى صحة شاربه يفقده شهوة الطعام ويعرض أجهزته الحيوية أو أكثرها للخلل والإضطراب.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tentang tembakau … sebagian ulama menghukumi halal karena memandang bahwasanya tembakau tidaklah memabukkan, dan hakikatnya bukanlah benda yang memabukkan, disamping itu juga tidak membawa mudarat bagi setiap orang yang mengkonsumsi. ...Pada dasarnya semisal tembakau adalah halal, tetapi bisa jadi haram bagi orang yang memungkinkan terkena mudarat dan dampak negatifnya. Sedangkan sebagian ulama' lainnya menghukumi haram atau makruh karena memandang tembakau dapat mengurangi kesehatan, nafsu makan, dan menyebabkan organ-organ penting terjadi infeksi serta kurang stabil.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula apa yang telah dijelaskan oleh Prof Dr Wahbah Az-Zuhailiy di dalam &lt;em&gt;Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh &lt;/em&gt;(Cet. III, Jilid 6, hal. 166-167) dengan sepotong teks, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;القهوة والدخان: سئل صاحب العباب الشافعي عن القهوة، فأجاب: للوسائل حكم المقاصد فإن قصدت للإعانة على قربة كانت قربة أو مباح فمباحة أو مكروه فمكروهة أو حرام فمحرمة وأيده بعض الحنابلة على هذا التفضيل. وقال الشيخ مرعي بن يوسف الحنبلي صاحب غاية المنتهى: ويتجه حل شرب الدخان والقهوة والأولى لكل ذي مروءة تركهما&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;em&gt;&lt;br /&gt;Masalah kopi dan rokok; penyusun kitab &lt;strong&gt;Al-'Ubab &lt;/strong&gt;dari madzhab Asy-Syafi'i ditanya mengenai kopi, lalu ia menjawab: (Kopi itu sarana) hukum, setiap sarana itu sesuai dengan tujuannnya. Jika sarana itu dimaksudkan untuk ibadah maka menjadi ibadah, untuk yang mubah maka menjadi mubah, untuk yang makruh maka menjadi makruh, atau haram maka menjadi haram. Hal ini dikuatkan oleh sebagian ulama' dari madzhab Hanbaliy terkait penetapan tingkatan hukum ini. Syaikh Mar'i ibn Yusuf dari madzhab Hanbaliy, penyusun kitab Ghayah al-Muntaha mengatakan : Jawaban tersebut mengarah pada rokok dan kopi itu hukumnya mubah, tetapi bagi orang yang santun lebih utama meninggalkan keduanya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulasan &lt;em&gt;'Illah &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;reason of law&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sangat menarik bila tiga tingkatan hukum merokok sebagaimana di atas ditelusuri lebih cermat. Kiranya ada benang ruwet dan rumit yang dapat diurai dalam perbedaan pendapat yang terasa semakin sengit mengenai hukum merokok. Benang ruwet dan rumit itu adalah beberapa pandangan kontradiktif dalam menetapkan &lt;em&gt;'illah &lt;/em&gt;atau alasan hukum yang di antaranya akan diulas dalam beberapa bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama; sebagian besar ulama' terdahulu berpandangan, bahwa merokok itu mubah atau makruh. Mereka pada masa itu lebih bertendensi pada bukti, bahwa merokok tidak membawa mudarat, atau membawa mudarat tetapi relatif kecil. Barangkali dalam gambaran kita sekarang, bahwa kemudaratan merokok dapat pula dinyaakan tidak lebih besar dari kemudaratan durian yang jelas berkadar kolesterol tinggi. Betapa tidak, sepuluh tahun lebih seseorang merokok dalam setiap hari merokok belum tentu menderita penyakit akibat merokok. Sedangkan selama tiga bulan saja seseorang dalam setiap hari makan durian, kemungkinan besar dia akan terjangkit penyakit berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua; berbeda dengan pandangan sebagian besar ulama' terdahulu, pandangan sebagian ulama sekarang yang cenderung mengharamkan merokok karena lebih bertendensi pada informasi (bukan bukti) mengenai hasil penelitian medis yang sangat detail dalam menemukan sekecil apa pun kemudaratan yang kemudian terkesan menjadi lebih besar. Apabila karakter penelitian medis semacam ini kurang dicermati, kemudaratan merokok akan cenderung dipahami jauh lebih besar dari apa yang sebenarnya. Selanjutnya, kemudaratan yang sebenarnya kecil dan terkesan jauh lebih besar itu (hanya dalam bayangan) dijadikan dasar untuk menetapkan hukum haram. Padahal, kemudaratan yang relatif kecil itu seharusnya dijadikan dasar untuk menetapkan hukum makruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti ini kemungkinan dapat terjadi khususnya dalam membahas dan menetapkan hukum merokok. Tidakkah banyak pula makanan dan minuman yang dinyatakan halal, ternyata secara medis dipandang tidak steril untuk dikonsumsi. Mungkinkah setiap makanan dan minuman yang dinyatakan tidak steril itu kemudian dihukumi haram, ataukah harus dicermati seberapa besar kemudaratannya, kemudian ditentukan mubah, makruh ataukah haram hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga; hukum merokok itu bisa jadi bersifat relatif dan seimbang dengan apa yang diakibatkannya mengingat hukum itu berporos pada &lt;em&gt;'illah &lt;/em&gt;yang mendasarinya. Dengan demikian, pada satu sisi dapat dipahami bahwa merokok itu haram bagi orang tertentu yang dimungkinkan dapat terkena mudaratnya. Akan tetapi merokok itu mubah atau makruh bagi orang tertentu yang tidak terkena mudaratnya atau terkena mudaratnya tetapi kadarnya kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat; kalaulah merokok itu membawa mudarat relatif kecil dengan hukum makruh, kemudian di balik kemudaratan itu terdapat kemaslahatan yang lebih besar, maka hukum makruh itu dapat berubah menjadi mubah. Adapun bentuk kemaslahatan itu seperti membangkitkan semangat berpikir dan bekerja sebagaimana biasa dirasakan oleh para perokok. Hal ini selama tidak berlebihan yang dapat membawa mudarat cukup besar. Apa pun yang dikonsumsi secara berlebihan dan jika membawa mudarat cukup besar, maka haram hukumnya. Berbeda dengan benda yang secara jelas memabukkan, hukumnya tetap haram meskipun terdapat manfaat apa pun bentuknya karena kemudaratannya tentu lebih besar dari manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;KH Arwani Faishal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU&lt;/em&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden"&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input onclick="jsCall();" id="jsProxy" type="hidden"&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-470332195636468326?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/470332195636468326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/470332195636468326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2010/03/tentang-rokok.html' title='TENTANG ROKOK'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-2920743076364093573</id><published>2010-02-27T07:36:00.001-08:00</published><updated>2010-02-27T07:36:59.790-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="content"&gt;         &lt;div class="post-223 page hentry category-uncategorized post" id="post-223"&gt;      &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ilmu hadits&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      &lt;div class="entry"&gt;       &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengertian beberapa istilah dalam Ulumul Hadist&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar ilmu-ilmu hadits dapat dibagi menjadi dua, yaitu ilmu hadits riwayat (riwayah) dan ilmu hadits diroyat (diroyah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara garis besar ilmu-ilmu hadis dapat dikaji menjadi dua, yaitu Ilmu hadis riwayat (riwayah) dan ilmu hadis diroyat (diroyah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ilmu hadis riwayah ialah ilmu yang membahas perkembangan hadis kepada Sahiburillah, Nabi &lt;yoono-highlight onmouseout="___yoonoLink.onYoonoOut(this)" onmouseover="___yoonoLink.onYoonoOver(event,this)" onclick="___yoonoLink.onYoonoClick(this)" keywords="Muhammad" class="yoono-link-hover yoono-link-active-link"&gt;Muhammad&lt;/yoono-highlight&gt; SAW. dari segi kelakuan para perawinya, mengenai kekuatan hapalan dan keadilan mereka dan dari segi keadaan sanad.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ilmu hadisriwayah ini berkisar pada bagaimana cara-cara penukilan hadis yang dilakukan oleh para ahli hadis, bagaimana cara menyampaikan kepada orang lain dan membukukan hadis dalam suatu kitab. Dari dua pokok asasi ini, terbitlah berbagai-bagai seperti:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;A. IImu Rijalil Hadis &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;llmu Rijalil Hadis ialah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/80.gif" alt="" height="85" width="311" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya: &lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Ilmu yang membahas tentang para perawi hadis, baik dari sahabat, tabi’in, maupun dari angkatan sesudahnya .” &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan ilmu ini dapatlah kita mengetahui keadaan para perawi menerima hadis dari Rasulullah dan keadaan para perawi yang menerima hadis dari sahabat dan seterusnya. Di dalam ilmu ini diterangkan tarikh ringkas dari riwayat hidup para perawi, mazhab yang dipegang oleh para perawi dan keadaan-keadaan para perawi itu dalam menerima hadis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sungguh penting sekali ilmu ini dipelajari dengan seksama, karena hadis itu terdiri dari sanad dan matan. Maka mengetahui keadaan para perawi yang menjadi sanad merupakan separuh dari pengetahuan. Kitab-kitab yang disusun dalam ilmu ini banyak ragamnya. Ada yang hanya menerangkan riwayat-riwayat ringkas dari para sahabat saja. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat umum para perawi-perawi, Ada yang menerangkan perawi-perawi yang dipercayai saja, Ada yang menerangkan riwayat-riwayat para perawi yang lemah-lemah, atau para mudallis, atau para pemuat hadis maudu’. Dan ada yang menerangkan sebab-sebab dianggap cacat dan sebab-sebab dipandang adil dengan menyebut kata -kata yang dipakai untuk itu serta martabat perkataan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada yang menerangkan nama-nama yang serupa tulisan berlainan sebutan yang di dalam ilmu hadis disebut &lt;em&gt;Mu’talif&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Mukhtalif&lt;/em&gt;. Dan ada yang menerangkan nama-nama perawi yang sama namanya, lain orangnya, Umpamanya Khalil ibnu Ahmad. Nama ini banyak orangnya. lni dinamai &lt;em&gt;Muttafiq&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Muftariq.&lt;/em&gt; Dan ada yang menerangkan nama- nama yang serupa tulisan dan sebutan, tetapi berlainan keturunan dalam sebutan, sedang dalam tulisan serupa. Seumpama Muhammad ibnu Aqil dan Muhammad ibnu Uqail. Ini dinamai &lt;em&gt;Musytabah&lt;/em&gt;. Dan ada juga yang hanya menyebut tanggal wafat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di samping itu ada pula yang hanya menerangkan nama-nama yang terdapat dalam satu-satu kitab saja, atau: beberapa kitab saja. Dalam semua itu para ulama telah berjerih payah menyusun kitab-kitab yang dihajati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Kitab yang diriwayatkan keadaan para perawi dari golongan sahabat ” &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Permulaan ulama yang menyusun kitab riwayat ringkas para sahabat, ialah Al-Bukhari (256 H). Kemudian usaha itu dilaksanakan oleh Muhammad Ibnu Saad, sesudah itu terdapat beberapa ahli lagi, di antaranya, yang penting diterangkan ialah Ibnu Abdil Barr (463 H). Kitabnya bernama &lt;em&gt;AI-Istiab. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada permulaan abad ketujuh Hijrah, Izzuddin ibnul Atsir (630 H) mengumpulkan kitab-kitab yang telah disusun sebelum masanya dalam sebuah kitab besar yang dinamai &lt;em&gt;Usdul Gabah&lt;/em&gt;. Ibnu Atsir ini adalah saudara dari Majdudin Ibnu Atsir pengarang &lt;em&gt;An-Nihayah fi GaribiI Hadis&lt;/em&gt;. Kitab Izzuddin diperbaiki oleh Ai-Dzahabi (747 H) dalam kitab &lt;em&gt;At-Tajrid.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesudah itu pada abad kesembilan Hijrah, Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqali menyusun kitabnya yang terkenal dengan nama &lt;em&gt;AI-Ishabah.&lt;/em&gt; Dalam kitab ini dikumpulkan &lt;em&gt;Al-Istiab&lt;/em&gt; dengan &lt;em&gt;Usdul Gabah &lt;/em&gt;dan ditambah dengan yang tidak terdapat dalam kitab-kitab tersebut. Kitab ini telah diringkaskan oleh As-Sayuti dalam kitab &lt;em&gt;Ainul Ishabah&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-Bukhori dan muslim telah, menulis juga kitab yang menerangkan nama-nama sahabi yang hanya meriwayatkan suatu hadis saja yang dinamai &lt;em&gt;Wuzdan. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian, dalam bab ini Yahya ibnu abdul Wahab ibnu Mandah Al-Asbahani (551 H) menulis sebuah kitab yang menerangkan nama-nama sahabat yang hidup 120 tahun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;B. Ilmul Jarhi Wat Takdil &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ilmu &lt;em&gt;Jarhi Wat Takdir, &lt;/em&gt;pada hakekatnya merupakan suatu bagian dari ilmu&lt;em&gt; rijalil hadis&lt;/em&gt;. Akan tetapi, karena bagian ini dipandang sebagai yang terpenting maka ilmu ini dijadikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Yang dimaksud dengan &lt;em&gt;ilmul jarhi wat takdi&lt;/em&gt;l ialah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/81.gif" alt="" height="120" width="300" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Ilmu yang menerangkan tentang catatan-catatan yang dihadapkan pada para perawi dan tentang penakdilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan tentang martabat-martabat kata-kata itu. ” &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mencacat para perawi (yakni menerangkan keadaannya yang tidak baik, agar orang tidak terpedaya dengan riwayat-riwayatnya), telah tumbuh sejak zaman sahabat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut keterangan Ibnu Adi (365 H) dalam Muqaddimah kitab &lt;em&gt;AI-Kamil,&lt;/em&gt; para ahli telah menyebutkan keadaan-keadaan para perawi sejak zaman sahabat. Di antara para sahabat yang menyebutkan keadaan perawi-perawi hadis ialah Ibnu Abbas (68 H), Ubadah ibnu Shamit (34 H), dan Anas ibnu Malik (93 H).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara tabi’in ialah Asy Syabi(103 H), Ibnu Sirin (110H), Said Ibnu AI-Musaiyab (94 H). Dalam masa mereka itu, masih sedikit orang yang dipandang cacat. Mulai abad kedua Hijrah baru ditemukan banyak orang-orang yang lemah. Kelemahan itu adakalanya karena meng&lt;em&gt;-irsal-&lt;/em&gt;kan hadis, adakalanya karena me&lt;em&gt;- rafa-&lt;/em&gt;kan ltadis yang sebenarnya &lt;em&gt;mauquf &lt;/em&gt;dan adakalanya karena beberapa kesalahan yang tidak disengaja, seperti Abu Harun AI-Abdari (143 H).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesudah berakhir masa tabi’in, yaitu pada kira-kira tahun 150 Hijrah, para ahli mulai menyebutkan keadaan-keadaan perawi, menakdil dan menajrihkan mereka. Di antara ulama besar yang memberikan perhatian pada urusan ini, ialah Yahya. ibnu Said Al-Qattan (189H), Abdur Rachman ibnu &lt;yoono-highlight onmouseout="___yoonoLink.onYoonoOut(this)" onmouseover="___yoonoLink.onYoonoOver(event,this)" onclick="___yoonoLink.onYoonoClick(this)" keywords="Mahdi" class="yoono-link-hover yoono-link-active-link"&gt;Mahdi&lt;/yoono-highlight&gt; (198 H)”, sesudah itu, Yazid Ibnu Harun(189 H), Abu Daud At-Tahyalisi (204 H), Abdur Razaq bin Human (211 H).Sesudah itu, barulah para ahli menyusun kitab-kitab&lt;em&gt; jarah &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;takdil.&lt;/em&gt; Di dalamnya diterangkan keadaan para perawi, yang boleh diterima riwayatnya dan yang ditolak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara pemuka-pemuka &lt;em&gt;jarah&lt;/em&gt; dan&lt;em&gt; takdil &lt;/em&gt;ialah Yahya ibnu Main (233 H), Ahmad ibnu Hanbal (241 H), MUhammad ibnu Saad (230 H),Ali Ibnul Madini (234 H), Abu Bakar ibnu Syaibah (235 H), Ishaq ibnu Rahawaih (237 H). Sesudah itu, Ad-Darimi (255 H),Al-Bukhari (256 H), Al-Ajali(261 H), Muslim (251 H), Abu Zurah (264 H), Baqi ibnu Makhlad (276 H), Abu Zurah Ad-Dimasyqi (281 H).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian pada tiap-tiap masa terdapat ulama-ulama yang memperhatikan keadaan perawi, hingga sampai pada ibnu Hajar Asqalani (852 H).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kitab-kitab yang disusun mengenai &lt;em&gt;jarah&lt;/em&gt; dan&lt;em&gt; taqdil&lt;/em&gt;, ada beberapa macam. Ada yang menerangkan orang-orang yang dipercayai saja, ada yang menerangkan orang-orang yang lemah saja, atau orang-orang yang &lt;em&gt;menadlieskan &lt;/em&gt;hadis. dan ada pula yang melengkapi semuanya. Di samping itu, ada yang menerangkan perawi-perawi suatu kitab saja atau beberapa kitab dan ada yang melengkapi segala kitab.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara kitab yang melengkapi semua itu ialah: Kitab &lt;em&gt;Tabaqat &lt;/em&gt;&lt;yoono-highlight onmouseout="___yoonoLink.onYoonoOut(this)" onmouseover="___yoonoLink.onYoonoOver(event,this)" onclick="___yoonoLink.onYoonoClick(this)" keywords="Muhammad" class="yoono-link-hover yoono-link-active-link"&gt;Muhammad&lt;/yoono-highlight&gt; ibnu Saad Az-Zuhri Al-Basari (23Q H). Kitab ini sangat besar. Di dalamnya terdapat nama-nama sahabat nama-nama tabi’in dan orang-orang sesudahnya. Kemudian berusaha pula beberapa ulama besar lain, di antaranya Ali ibnul Madini(234 H), Al-Bukhari, Muslim; Al-Hariwi (301 H) dan ibnu Hatim (327 H). Dan yang sangat berguna bagi ahli hadis dan fiqih ialah &lt;em&gt;At-Takmil&lt;/em&gt; susunan Al-Imam ibnu Katsir.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diantara kitab-kitab yang menerangkan orang-orang yang dapat dipercayai saja ialah Kitab &lt;em&gt;As-Siqat&lt;/em&gt;, karangan Al-Ajaly (261 H) dan kitab &lt;em&gt;As-Siqat &lt;/em&gt;karangan Abu Hatim ibnu Hibban Al-Busty. Masuk dalam bagian ini adalah kitab-kitab yang menerangkan tingkatan penghapal-penghapal hadis. Banyak pula ulama yang menyusun kitab ini, di antaranya, Az-Zahabi, Ibnu Hajar Al-Asqalani dan As-Sayuti.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diantara kitab-kitab yang menerangkan orang-orang yang lemah-lemah saja ialah: Kitab &lt;em&gt;Ad-Duafa&lt;/em&gt;, karangan Al-Bukhari dan kitab Ad- Duafa karangan ibnul Jauzi (587 H)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;C. IImu Illail Hadis &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Ilmu Illial Hadis&lt;/em&gt;, ialah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/82.gif" alt="" height="73" width="280" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata, yang dapat mencacatkan hadis.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yakni menyambung yang &lt;em&gt;munqat&lt;/em&gt;i, merafakan yang &lt;em&gt;mauqu&lt;/em&gt; memasukkan satu hadis ke dalam hadis yang lain dan yang serupa itu Semuanya ini, bila diketahui, dapat merusakkan kesahihan hadis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ilmu ini merupakan semulia-mulia ilmu yang berpautan dengan hadis, dan sehalus-halusnya. Tak dapat diketahui penyakit-penyakit hadis melainkan oleh ulama yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang martabat-martabat perawi dan mempunyai&lt;em&gt; malakah&lt;/em&gt; yang kuat terhadap sanad dan matan-matan hadis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara para ulama yang menulis ilmu ini, ialah Ibnul Madini (23 H), Ibnu Abi Hatim (327 H), kitab beliau sangat baik dan dinamai &lt;em&gt;Kitab Illial Hadis.&lt;/em&gt; Selain itu, ulama yang menulis kitab ini adalah AI-lmam Muslim (261 H), Ad-Daruqutni (357 H) dan Muhammad ibnu Abdillah AI-Hakim.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;D. Ilmun nasil wal mansuh &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ilmun nasih wal Mansuh, ialah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/83.gif" alt="" height="80" width="280" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya: &lt;em&gt;&lt;br /&gt;“ilmu yang menerangkan hadis-hadis yang sudah dimansuhkan dan yang menasihkannya. ” &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apabila didapati suatu hadis yang maqbul, tidak ada yang memberikan perlawanan maka hadis tersebut dinamai &lt;em&gt;Muhkam&lt;/em&gt;. Namun jika dilawan oleh hadis yang sederajatnya, tetapi dikumpulkan dengan mudah maka hadis itu dinamai &lt;em&gt;Mukhatakiful Hadis&lt;/em&gt;. Jika tak mungkin dikumpul dan diketahui mana yang terkemudian, maka yang terkemudian itu, dinamai &lt;em&gt;Nasih&lt;/em&gt; dan yang terdahulu dinamai &lt;em&gt;Mansuh&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Banyak para ahli yang menyusun kitab-kitab&lt;em&gt; nasih&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;mam’uh &lt;/em&gt;ini, di antaranya Ahmad ibnu Ishaq Ad-Dillary (318 H), Muhammad ibnu Bahar AI-Asbahani (322 H), Alunad ibnu Muhaminad An-Nah-has (338 H) Dan sesudah itu terdapat beberapa ulama lagi yang menyusunnya, yaitu Muhammad ibnu Musa Al-Hazimi (584 H) menyusun kitabnya, yang dinamai Al-lktibar. Kitab AI-Iktibar itu telah diringkaskan oleh Ibnu Abdil Haq (744 H) .&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;E. Ilmu Asbabi Wuruddil Hadis, ialah:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Ilmu Asbabi Wuruddil Hadis, &lt;/em&gt;ialah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/84.gif" alt="" height="77" width="280" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya: &lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi yang menurunkan sabdanya dan masa-masanya Nabi menurunkan itu.” &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penting diketahui, karena ilmu itu menolong kita dalam memahami hadis, sebagaimana ilmu &lt;em&gt;Ashabin Nuzul &lt;/em&gt;menolong kita dalam memahami Al-Quran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;UIama yang mula-mula menyusun kitab ini dan kitabnya ada dalam masyarakat iaIah Abu Hafas ibnu Umar Muhammad ibnu Raja Al-Ukbari, dari murid Ahmad (309 H), Dan kemudian dituliskan pula oleh Ibrahim ibhu Muhammad, yang terkenal dengan nama Ibnu Hamzah Al Husaini (1120 H), dalam kitabnya &lt;em&gt;AI-Bayan Wat Tarif &lt;/em&gt;yang telah dicetak pada tahun 1329 H&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;F. Ilmu Talfiqil Hadis &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Ilmu Talfiqil Hadis&lt;/em&gt;, ialah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/85.gif" alt="" height="85" width="300" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya: “Ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan hadis-hadis yang isinya berlawanan. “&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cara mengumpulkannya adakalanya dengan menakhsiskan yang ‘amm, atau menaqyidkan yang mutlak, atau dengan memandang banyaknya yangterjadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;ilmu ini dinamai juga dengan ilmu Mukhtaliful Hadis. Di antara para ulama besar yang telah berusaha menyusun, ilmu ini ialah Al-Imamusy Syafii (204 H), Ibnu Qurtaibah (276 H), At-Tahawi (321 H) dan ibnu Jauzi (597 H). Kitabnya bernama At-Tahqiq, kitab ini sudah disyarahkan oleh Al-Ustaz Ahmad Muhammad Syakir dan baik sekali nilainya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sanad dan Matan Hadist&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;table border="0" cellpadding="5" cellspacing="0" width="98%"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;Kedudukan sanad dalam hadits sangat penting, karena hadits yang diperoleh/diriwaytkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. Dengan sanad suatu periwayatan hadits dapat diketahui mana yang dapat diterima atau ditolak dan mana hadits yang sahih atau tidak, untuk diamalkan. Sanad merupakan jalan yang mulia untuk menetapkan hukum-hukum Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;A. PENGERTIAN SANAD DAN MATAN HADIS &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sanad dari segi bahasa artinya &lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/11-1.gif" alt="" align="absmiddle" height="28" width="65" /&gt;(sandaran, tempat bersandar, yang menjadi sandaran). Sedangkan menurut istilah ahli hadis, sanad yaitu:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/12-1.gif" alt="" height="42" width="170" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Jalan yang menyampaikan kepada matan hadis). Contoh :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/13-1.gif" alt="" height="150" width="292" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dikhabarkan kepada kami oleh Malik yang menerimanya dari Nafi, yang menerimanya dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sebagian dari antara kamu membeli barang yang sedang dibeli oleh sebagian yang lainnya. ” &lt;/em&gt;(Al-Hadis)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hadis tersebut dinamakan sanad adalah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/14-1.gif" alt="" height="83" width="300" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;(Dikhabarkan kepada kami oleh Malik yang menerimanya dari nafi yang menerimanya dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda:…) &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Matan dari segi bahasa artinya membelah, mengeluarkan, mengikat. Sedangkan menurut istilah ahli hadis, matan yaitu:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/15-1.gif" alt="" height="79" width="300" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;(perkataan yang disebut pada akhir sanad, yakni sabda Nabi SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanadnya) . &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/16-1.gif" alt="" height="172" width="280" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;” Dari Muhammad yang diterima dari Abu Salamah yang diterimanya dari Abu Hurairah. bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Seandainya tidak memberatkan terhadap umatku, niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak (menggosok gigi) setiap akan melakukan salat. ” (Al-Hadis)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun yang disebut matan dalam hadis tersebut yaitu:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/17-1.gif" alt="" height="91" width="280" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;B. KEDUDUKAN SANAD DAN MATAN HADIS &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ahli hadis sangat hati-hati dalam menerima suatu hadis kecuali apabila mengenal dari siapa mereka menerima setelah benar-benar dapat dipercaya. Pada umumnya riwayat dari golongan sahabat tidak disyaratkan apa-apa untuk diterima periwayatannya. Akan tetapi mereka pun sangat hati-hati dalam menerima hadis .&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada masa Abu bakar r.a. dan Umar r.a. periwayatan hadis diawasi secara hati-hati dan tidak akan diterima jika tidak disaksikan kebenarannya oleh seorang lain. Ali bin Abu Thalib tidak menerima hadis sebelum yang meriwayatkannya disumpah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meminta seorang saksi kepada perawi, bukanlah merupakan keharusan dan hanya merupakan jalan untuk menguatkan hati dalam menerima yang berisikan itu. Jika dirasa tak perlu meminta saksi atau sumpah para perawi, mereka pun menerima periwayatannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun meminta seseorang saksi atau menyeluruh perawi untuk bersumpah untuk membenarkan riwayatnya, tidak dipandang sebagai suatu undang-undang umum diterima atau tidaknya periwayatan hadis. Yang diperlukan dalam menerima hadis adalah adanya kepercayaan penuh kepada perawi. Jika sewaktu-waktu ragu tentang riwayatnya, maka perlu didatangkan saksi/keterangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedudukan sanad dalam hadis sangat penting, karena hadis yang diperoleh/ diriwayatkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. Dengan sanad suatu periwayatan hadis dapat diketahui mana yang dapat diterima atau ditolak dan mana hadis yang sahih atau tidak, untuk diamalkan. Sanad merupakan jalan yang mulia untuk menetapkan hukum-hukum Islam. Ada beberapa hadis dan atsar yang menerangkan keutamaan sanad, di antaranya yaitu: Diriwayatkan oleh muslim dari Ibnu Sirin, bahwa beliau berkata:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/18-1.gif" alt="" height="75" width="280" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Ilmu ini (hadis ini), idlah agama, karena itu telitilah orang-orang yang kamu mengambil agamamu dari mereka,” Abdullah lbnu Mubarak berkata: &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/19.gif" alt="" height="160" width="300" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Menerangkan sanad hadis, termasuk tugas agama Andaikata tidak diperlukan sanad, tentu siapa saja dapat mengatakan apa yang dikehendakinya. Antara kami dengan mereka, ialah sanad. Perumpamaan orang yang mencari hukum-hukum agamanya, tanpa memerlukan sanad, adalah seperti orang yang menaiki loteng tanpa tangga.” &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Asy-Syafii berkata.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.cybermq.com/gambarpustaka/20.gif" alt="" height="77" width="280" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Perumpamaan orang yang mencari (menerima) hadis tanpa sanad, sama dengan orang yang mengumpulkan kayu api di malam hari. ” &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perhatian terhadap sanad di masa sahabat yaitu dengan menghapal sanad-sanad itu dan mereka mempuyai daya ingat yang luar biasa. Dengan adanya perhatian mereka maka terpelihara sunnah Rasul dari tangan-tangan ahli bid’ah dan para pendusta. Karenanya pula imam- imam hadis berusaha pergi dan melawat ke berbagai kota untuk memperoleh sanad yang terdekat dengan Rasul yang dilakukan sanad ‘aali&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibn Hazm mengatakan bahwa nukilan orang kepercayaan dari Orang yang dipercaya hingga sampai kepada Nabi SAW. dengan bersambung-sambung perawi-perawinya adalah suatu keistimewaan dari &lt;yoono-highlight onmouseout="___yoonoLink.onYoonoOut(this)" onmouseover="___yoonoLink.onYoonoOver(event,this)" onclick="___yoonoLink.onYoonoClick(this)" keywords="Allah" class="yoono-link-hover yoono-link-active-link"&gt;Allah&lt;/yoono-highlight&gt; khususnya kepada orang-orang Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memperhatikan sanad riwayat adalah suatu keistimewaan dari ketentuan-ketentuan umat Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;sumber :ciberMQ.com&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;                &lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden"&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input onclick="jsCall();" id="jsProxy" type="hidden"&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-2920743076364093573?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/2920743076364093573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/2920743076364093573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2010/02/ilmu-hadits-pengertian-beberapa-istilah.html' title=''/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-4944190495209810181</id><published>2009-11-19T06:53:00.001-08:00</published><updated>2009-11-23T11:09:47.593-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,times new roman,times,serif;"&gt;&lt;br /&gt;HIKMAH 'IDUL ADLHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilaahilhamd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin yang dirahmati Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak-bapak, ibu-ibu serta hadirin jama’ah shalat Idul Adha Rahimakumullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT,karena hingga saat ini Allah SWT senantiasa mencurahkan ni'matnya kepada kita semua,menetapkan iman dan islam kita dan selalu membimbing kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya.Mudah-mudahan iman dan islam ini akan tetap bersama kita hingga  pada saatnya Allah memanggil kita kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang mulia ini, 10 Dzulhijah 1430 H seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia memperingati hari raya Idul Adha atau hari raya qurban. Sehari sebelumnya, 9 Dzulhijah 1430 H, jutaan umat Islam yang menunaikan ibadah haji wukuf di Arafah, berkumpul di Arafah dengan memakai ihram putih sebagai lambang kesetaraan derajat manusia di sisi Allah, tidak ada keistimewaan antar satu bangsa dengan bangsa yang lainnya,bentuk fisik dan warna kulit,golongan dan status sosial,semua melebur jadi satu menghadap Robb yang satu,bermunajat dan bersimpuh pada Tuhan yang satu,berdoa dan berpasrah diri pada Allah SWT Dzat yang maha suci,Maha perkasa serta maha penyayang pada setiap hamba-Nya.Pada saat-saat seperti inilah  kita makin sadar bahwa nilai kemanusiaan yang sesungguhnya disisi Allah adalah ketaqwaan kita kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS Al-Hujaraat (49):13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilhamd.Hadirin jamaah sholat Idul Adlha yang dimuliakan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan hari raya ini tak bisa dilepaskan dari peristiwa bersejarah ribuan tahun silam ketika Nabi Ibrahim as, dengan penuh ketaqwaan, memenuhi perintah Allah untuk menyembelih anak yang dicintai dan disayanginya, Nabi Ismail as. Atas kekuasaan Allah, secara tiba-tiba yang justru disembelih oleh Nabi Ibrahim as telah berganti menjadi seekor kibas (sejenis domba). Peristiwa itulah yang kemudian menjadi simbol bagi umat Islam sebagai wujud ketaqwaan seorang manusia mentaati perintah Allah swt. Ketaqwaan Nabi Ibrahim kepada Allah swt diwujudkan dengan sikap dan pengorbanan secara totalitas, menyerahkan sepenuhnya kepada sang Pencipta dari apa yang ia percaya sebagai sebuah keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt berfirman dalam Qur’an Surat 12 ayat 111,’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa beratnya ujian dan cobaan yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS. Beliau selama bertahun-tahun  berharap akan  hadirnya sang buah hati ditengah-tengah keluarga,Namun ketika Allah mengaruniakan kepada beliau seorang anak dari istrinya yang sholihah Hajar,justru saat itulah ujian besar datang,dimana Allah SWT memerintahkan agar anak tersebut disembelih.Namun dengan dasar keimanan, tulus dan ikhlas, taat serta patuh akan perintah Allah swt Nabi Ibrahim AS akhirnya mengambil keputusan untuk menyembelih putra tercintanya Ismail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diri Ismail kecil,telah tumbuh kecerdasan serta keyakinan yang sempurna akan kebenaran agama yang ditanamkan kedua orang tuanya,hingga pada saat Nabi Ibrahim AS,mengajaknya bermusyawarah dan menceritakan perihal mimpinya kepada Ismail.Beliau tanpa ragu sedikitpun,dengan penuh keyakinan agar perintah Allah tersebut dijalankan ayahnya.Dialog antara Nabi Ibrahim AS dengan putranya ini diabadikan Al Qur'an dalam surat Ashshoffat ayat 102 sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka tatkala anak itu (sampai pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,ibrahim berkata:"Hai Anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu,maka fikirkanlah apa pendapatmu?".Ia menjawab:"Hai bapakku,kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu;Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail sebagai anak yang sholih telah dibuktikan dengan ketaatannya kepada ketentuan Allah dan berbaktinya kepada orang tua.Hingga pada saat membangun ka'bahpun Nabi Ismail AS senantiasa ikut serta bersama ayahnya Ibrahim AS.Allah berfirman dalam surat Al Baqoroh ayat 127 sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan (ingatlah),ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar baitullah bersama Ismail (seraya berdoa):"Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami),sesungguhnya Engkaulah yang maha mendengar lagi maha mengetahui".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilhamd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrah atau pelajaran&lt;br /&gt;1. Sebagai orang tua atau pimpinan tidak bertindak otoriter atau sewenang-wenang. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mendidik anaknya dengan contoh dan ketauladanan. Seorang pemimpin yang baik akan ditiru oleh rakyatnya jika ia memberikan contoh dan perilaku yang baik. Seorang pemimpin tidak hanya diikuti ucapannya, tetapi juga perilaku dan tindak tanduknya. Seorang pemimpin juga harus menjunjung nilai-nilai demokrasi,bermusyawarah dan  tidak selalu memberikan perintah-perintah, tetapi juga harus mendengarkan aspirasi rakyat atau bawahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Peran sang Ibu dalam mendidik sehingga melahirkan anak yang sholeh.&lt;br /&gt;Peran Ibu sbg madrasah utama dan pertama bagi anak sangat penting. Pendidikan anak sholeh dimulai dari saat pertemuan benih dan sel telur, diawali do'a mohon perlindungan dari syetan. Mulai dari kandungan banyak dibacakan ayat2 suci AlQur'an,apalagi doa ibu yang sedang hamil adalah mustajabah,dimana ia sedang mengandung amanah Allah dalam perutnya. Dari peran Ibulah  karakter anak sholeh dapat terbentuk,disamping juga peran seorang ayah yang juga tak kalah pentingnya.Intensitas pergaulan dan pendidikan yang cukup terhadap anak2 kita, memungkinkan penanaman dan sosialisasi nilai-nilai normatif, akhlak, dan perilaku terpuji lainnya dapat terinternalisasi pada diri anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pembentukkan anak sholeh banyak tergantung dari orang tua.Disekitar kita masih&lt;br /&gt;banyak orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan itu bisa terbentuk hanya di sekolah-sekolah, jadi tidaklah perlu orang tua mengarahkan anak-anaknya di rumah. Bahkan ada sebagian orang tua yang tidak tahu tujuan dalam mendidik anak. Perlu kita pahami, bahwasannya pendidikan di rumah yang meskipun sering disebut sebagai pendidikan informal, bukan berarti bisa diabaikan begitu saja. Orang tua harus memahami bahwa keluarga merupakan institusi pendidikan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan institusi pendidikan formal. Ini bisa dimengerti karena keluarga merupakan sekolah paling awal bagi anak. Di keluargalah seorang anak pertama kali mendapatkan pengetahuan, pengajaran dan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd,&lt;br /&gt;Bapak-bapak, ibu-ibu serta hadirin jama’ah shalat Idul Adha Rahimakumullah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kurban dalam bahasa arab berarti mendekatkan diri. Dalam fiqh Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah,idh-hiyyah dan adh-hah.Tiga kata ini bersumber dari kata "Dhohiyyah" yang ketika berbentuk "jama" menjadi "dhohaayaa"Udh-hiyyah dan Idh-hiyyah bentuk jama'nya adalah "Adhoo-hiyya" dengan tasydidnya "ya".sedangkan "Adh-hah" dijama'kan menjadi "Adh-haa" bi wazni ardhoo,maka disebutlah "Yaumul Adh-haa".Lihat dalam "Assyaafii fii syarhi Musnadil Imami Asysyafi'i"karya Ibnu Alatsir(majduddin abissa'aadat almubarok muhammad bin abdul karim aljazzari).Sebagian ulama yang lain mengistilahkannya an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al-Kautsar (108): 2,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, pengertian korban bukan sekadar menyembelih binatang korban dan dagingnya kemudian disedekahkan kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara filosofis, makna korban meliputi aspek yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sejarah, dimana umat Islam sering kali menghadapi berbagai cobaan.Dari sini kita akan mengerti makna pengorbanan itu ternyata amat luas dan mendalam. Sejarah para nabi, misalnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini juga sarat dengan  pengorbanan. Sikap Alhabibulmusthofa  dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang teramat berat.Kita bisa melihat sejarah yang diderita oleh Umat Islam di Mekkah ketika itu. Umat Islam disiksa, ditindas, dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir quraisy. Rasulullah yang sangat mulia itu pernah ditimpuki dengan batu oleh penduduk Thaif, dianiaya oleh ibnu Muith, ketika leher beliau dicekik dengan usus onta, Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal ditindih dengan batu besar yang panas ditengah sengatan terik matahari, Yasir dibantai, dan seorang ibu yang bernama Sumayyah,ditusuk kemaluannya dengan sebatang tombak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, umat Islam di Mekkah ketika itu juga diboikot untuk tidak mengadakan transaksi perdagangan. Akibatnya, bagaimana lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah SAW. saat-saat diboikot oleh musyrikin Quraisy, hingga beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulit-kulit sepatu bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah nabi Yusuf as yang disiksa dan dibuang ke sebuah sumur tua oleh para saudaranya sendiri adalah bagian dari pengorbanan beliau menegakkan kebenaran. Sejarah nabi Musa as yang mengalami tekanan, tidak hanya dari Fir’aun, tetapi juga kaumnya, adalah juga wujud dari pengorbanan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengorbanan Nabi Suaib juga dikisahkan dalam  QS Al-A’raf, ayat 88,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan diri berkata: ”Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami”. Berkata Syu’aib: ”Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?” (QS AL-A’raf ayat 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qur’an Surat Ibrahim Ibrahim (14) ayat 12-13,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(12) Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(13) Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: ”Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami”. Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: ”Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kekinian, pengorbanan umat Islam di berbagai belahan dunia terlihat nyata di Palestina,iraq,afghanistan, Kashmir, Thailand Selatan, dan Philipina Selatan. Dengan sikap dan keyakinan mereka terhadap Islam, mereka harus mengalami berbagai penyiksaan dan penindasan oleh penguasa. Umat Islam di Palestina menjadi gambaran betapa pengorbanan yang dipikul sangat berat. Mereka mengalami penyiksaan, penganiayaan, dan bahkan blokade di kawasan Jalur Gaza oleh Israel laknatullah. Akan tetapi, umat Islam di Palestina tidak ada kata menyerah. Mereka terus berjuang membela martabat dan kehormatan bangsa dan agamanya. Sama halnya dengan yang terjadi di kawasan lain dunia.Allohumma a'izzal islaama walmuslimiin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah perjuangan bangsa, para pahlawan mengorbankan jiwa raga, harta benda untuk kemerdekaan bangsanya. Jenderal Sudirman harus keluar masuk hutan memimpin tentara Indonesia berjuang melawan Belanda.Hadhrotisysyekh KH.Hasyim Asyari bersama dengan para santri dan kaum Nahdhiyyin serta lapisan rakyat lainnya bersama-sama berjuang demi bangsa dan negara kita tercinta. Sikap para tokoh bangsa yang dipenjara, dibuang, dan disiksa adalah sebagai wujud dari keyakinan mereka akan kebenaran. Ribuan nyawa yang mati adalah pengorbanan mereka terhadap negeri ini. Tentu saja, mereka berkorban atas dasar sikap yang mereka percaya sebagai sebuah kebenaran. Pengorbanan para pemuda di berbagai tempat di Indonesia menghadapi penjajah, adalah sebagai wujud dari sikap mereka memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilaahilhamd&lt;br /&gt;Bapak-bapak, ibu-ibu serta hadirin jama’ah shalat Idul Adha Rahimakumullah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks keseharian kita, pengorbanan juga bisa dilihat dari pengorbanan seorang pemimpin yang berusaha untuk mensejahterakan rakyatnya, pengorbanan seorang isteri terhadap suami dan anak-anaknya, serta sebaliknya, anak terhadap kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemimpin yang adil terhadap rakyatnya dan berusaha memberikan kontribusinya bagi negaranya adalah wujud pengorbanan. Seorang suami sebagai kepala rumah tangga berjuang membanting tulang demi menafkahi dan membahagiakan keluarganya. Seorang istri mengabdi setia kepada suaminya juga sebagai wujud pengorbanan. Orang tua yang mendidik dan membesarkan anak-anaknya sehingga menjadi berhasil, adalah juga wujud pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, pengorbanan bisa berdimensi luas. Pengorbanan adalah sebagai sebuah konsekuensi logis dari keyakinan yang diperjuangan demi sebuah kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilaahilhamd&lt;br /&gt;Bapak-bapak, ibu-ibu serta hadirin jama’ah shalat Idul Adha Rahimakumullah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar merenungi kembali momentum Idul Qurban, Kesanggupan Nabi Ibrahim menyembelih anak kandungnya sendiri Nabi Ismail, bukan semata-mata didorong oleh perasaan taat setia yang membabi buta (taqlid), tetapi meyakini bahwa perintah Allah s.w.t. itu harus dipatuhi. Bahkan, Allah Taala memberi perintah seperti itu sebagai peringatan kepada umat yang akan datang bahwa adakah mereka sanggup mengorbankan diri, keluarga dan harta benda yang disayangi demi menegakkan perintah Allah. Dan adakah mereka juga sanggup memikul amanah sebagai khalifah Allah di muka bumi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah satu perjuangan dan setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Tidak akan ada pengorbanan tanpa kesusahan. Justeru kesediaan seseorang untuk melakukan pengorbanan termasuk uang satu reyal, tenaga dan waktu, akan benar-benar menguji keimanan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa berkorban Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail merupakan satu noktah kejadian yang dapat direnungi oleh semua manusia dari semua level usia dan latar belakang tingkat pendidikan. Dengan kata lain, semangat berkorban adalah tuntutan paling besar yang ada dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun, agama bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-4944190495209810181?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/4944190495209810181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/4944190495209810181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2009/11/bersikap-memerlukan-pengorbanan-oleh-kh.html' title=''/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-3781997642350416371</id><published>2008-07-11T18:44:00.000-07:00</published><updated>2009-08-04T04:20:42.020-07:00</updated><title type='text'>jual motor</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_MyhWQUD073g/SHgNDYoYHRI/AAAAAAAAABQ/UZ8IeR-bzpU/s1600-h/Foto%28081%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MyhWQUD073g/SHgNDYoYHRI/AAAAAAAAABQ/UZ8IeR-bzpU/s320/Foto%28081%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221938119738662162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_MyhWQUD073g/SHgM0iQk47I/AAAAAAAAABI/aP017BAhkmo/s1600-h/Foto%28077%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MyhWQUD073g/SHgM0iQk47I/AAAAAAAAABI/aP017BAhkmo/s320/Foto%28077%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221937864625152946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ini agak berbeda....buat siapa saja yang baca,aku mau jual motor nih...hususnya buat yang hobiiieesss...Yamaha scorpio 2006 warna biru (kayak rossi) hehehehe...&lt;br /&gt;- kondisi ok&lt;br /&gt;-full modifikasi.&lt;br /&gt;Data sbb:&lt;br /&gt;-Shock depan                          : Honda CBR 400&lt;br /&gt;-Swing Arm                             :  Suzuki GSX 400&lt;br /&gt;-Velg racing                             : Honda CB 400&lt;br /&gt;-Ban BATLAX (Bridgestone): 15o/belakang,120/depan.(ban belakang baru).&lt;br /&gt;- Double Disc brake (depan)  : Nissin&lt;br /&gt;- Disc brake (belakang)           : Nissin&lt;br /&gt;- Knalpot                                    : Yoshimura (replika)&lt;br /&gt;- Double oil cooler                     : Satria FU&lt;br /&gt;- Tutup tangki                           : Ninja (original).&lt;br /&gt;- Sparkboard depan &amp;amp; blkng   : Made by Aming laksa&lt;br /&gt;- Engine cover                            : Made  by Aming laksa&lt;br /&gt;- Foot step                                   : Underbone chrome ( eks moge)&lt;br /&gt;- Surat komplit (STNK + BPKB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berminat silahkan hubungi yang punya blog ini.kalao mau ke email nih:carik_kalidarung@yahoo.com.atau.....&lt;span style="font-style: italic;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;sorry for all pioku dah laku...jadi dengan resmi iklan ini dah ga berlaku lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga : 23 jt ( bisa nego dikit.....)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-3781997642350416371?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/3781997642350416371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/3781997642350416371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2008/07/jual-motor.html' title='jual motor'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MyhWQUD073g/SHgNDYoYHRI/AAAAAAAAABQ/UZ8IeR-bzpU/s72-c/Foto%28081%29.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-5389779027513635535</id><published>2008-04-15T16:16:00.000-07:00</published><updated>2008-04-15T19:12:32.077-07:00</updated><title type='text'>AL QOULUL QODIM DAN JADID IMAM SYAFI'IE RA</title><content type='html'>&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: kacungkalidarung&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;p&gt;A. Al QOULUL QODIM.(Pendapat/fatwa lama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Abdillah Muhammad bin Idris Al syafi'ie (Imam Syafi'ie ra) memulai konsentrasi dan menciptakan karya2 besarnya di iraq kira2 tahun 198 H.yaitu sesudah usia beliau mencapai 48 tahun dan sesudah memulai masa belajar selama lebih kurang 40 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya di iraq beliau mengarang kitab ushul fiqh yang diberi nama Ar risalah.Menurut satu riwayat hal itu karena permintaan Syekh abdurrahman bin mahdi di mekkah.Di mana Syekh Abdurrahman meminta kepada beliau agar menerangkan suatu kitab yang mencakup ilmu tentang arti Al Qur'an,hal ihwal yang ada di dalam al qur'an,tentang soal ijma',soal nasikh dan mansukh dan tentang hadits-hadits Nabi SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab ini setelah dikarang dan disalin oleh murid2nya lantas dikirim ke mekkah ,disamping ada pula yang di sebar di iraq.Tentang kitab Ar risalah karangan Imam Syafi'ie ini,Imam Fakhrurrozy dalam kitab "Manaqib As Syafi'ie" mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adalah umat islam sebelum Imam Syafi'ie ra,membicarakan masalah-masalah fiqh,mereka mengambil dan membantah dalil-dalil,tapi tidak ada suatu peraturan umum yang dapat dipedomani dalam menerima dan menolak dalil-dalil itu.Imam Syafi'ie ra menciptakan ilmu baru yang dinamai Ushul al fiqh;dimana beliau meletakkan dasar-dasar dan peraturan2 umum yang dapat dipakai dalam menyelidiki derajat dalil-dalil syari'at islam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muzani berkata:"Saya membaca kitab Ar risalah 500 kali.maka setiap kali membaca,saya dapati didalamnya satu ilmu baru yang saya belum mengetahui sebelumnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Al Karabisi murid Imam Syafi'ie di baghdad menceritakan:"kami ( di baghdad) pada hakikatnya tidak mengetahui cara-cara pemakaian dalil dari Alqur'an,dari hadits,dari ijma',sampai datang kepada kami Imam Syafi'ie ra,maka kami akhirnya mengetahui cara-cara tersebut dari sang Imam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Abu Tsur Al Kalaby (murid Imam Syafi'ie di baghdad):"Tatkala kami mendengar fatwa Imam Syafi'ie ra,maka beliau menerangkan tentang lafadz "amm (perkataan umum) dalam Alqur'an,tetapi dimaksudkan khusus,lafadz khusus tapi yang dimaksud umum.Kami mulanya tidak tahu hal ini tapi setelah datangnya sang Imam maka kami akhirnya mengetahui".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang murid Imam Syafi'ie ra Syekh Abu 'Ali bin Husein Al karabisi pada suatu ketika berkata:"Ketika Imam Syafi'ie berada di baghdad saya datang dan meminta kepada beliau kiranya beliau mengizinkan saya membaca sebuah kitab karangannya.Beliau menjawab:"Ambilah kitab "Az Za'faran,saya beri ijazah kitab itu padamu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al karabisi ini kemudian menjadi penyambung lidah Imam Syafi'ie ra.Beliau meninggal dunia tahun 240 H.Yaitu 36 tahun setelah wafatnya Imam Syafi'ie ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Imam Syafi'ie selain dikarang dalam bentuk buku,juga ditablighkan kepada umum,sehingga makin banyaklah murid2 imam syafi'ie di baghdad.Fatwa-fatwa yang dikeluarkan Imam Syafi'ie ra ketika berada di baghdad inilah yang dinamai "Al Qoulul Qodim"ata Fatwa lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MURID-MURID IMAM SYAFI'IE RA DI BAGHDAD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid-murid Imam Syafi'ie banyak sekali di baghdad,tetapi yang masyhur sebagai penyambung lidah beliau adalah sebagai berikut"&lt;br /&gt;1- Syekh Abu Ali Al Hasan As Shobah Az za'faran.(wafat tahun 260 H).&lt;br /&gt;2- Syekh Husein bin Ali Alkarabisi.(wafat tahun 240 H).&lt;br /&gt;3- Imam Ahmad bin Hanbal.(wafat tahun 240 H).&lt;br /&gt;4- Imam Abu Tsur Alkalabi.(wafat tahun 240 H).&lt;br /&gt;5- Syekh imam ishaq bin rohaweh/rahuyah.(wafat tahun 277 H).&lt;br /&gt;6- Syekh Ar robi' bin sulaiman al Murody.(wafat tahun 270 H).&lt;br /&gt;7- Abdullah bin Zuber Al Humaidy.(wafat tahun 219 H).&lt;br /&gt;dan lain-lain.&lt;br /&gt;Khusus Syekh Ar robi' bin sulaiman almurody dan Abdullah bin zubaer,keduanya ikut Imam Syafi'ie ke mesir dan ikut membantu menyebarkan pandangan sang Imam di mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. AL QOULUL JADID (Pendapat/fatwa baru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi'ie sebagaimana riwayat menyebutkan,beliau pindah ke mesir pada tahun 198 H.Di mesir tinggal disebuah rumah sahabatnya yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam dan mengajar di masjid 'Amr bin "ash yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada di mesir ini selama 5 tahun beliau berfatwa dan mengembangkan madzhabnya dihadapan umum dengan lisan dan tulisan dan mendapat sambutan yang sangat baik dari dunia islam saat itu.Kitab-kitab yang dikarang beliau sangat banyak sekali,kemudian disalin oleh murid-muridnya dan dibawa ke negeri lain untuk dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab-kitab yang dikarang Imam Syafi'ie ketika dimesir antara lain:&lt;br /&gt;1- Ar risalah.(Ar risalah al jadid),karena sebelumnya sang Imam juga mengarang Ar risalah al qodim sewaktu di baghdad.&lt;br /&gt;2- Kitab Ahkamil Qur'an&lt;br /&gt;3- Kitab Ikhtilaful hadits.&lt;br /&gt;4- Kitab Ibtholul istihsan.&lt;br /&gt;5- Kitab Jima'ul "ilmi.&lt;br /&gt;6- Kitab al-qiyas.&lt;br /&gt;7- Kitab Al Umm dalam Ilmu Fiqh.&lt;br /&gt;8- Kitab Al Musnad.&lt;br /&gt;9- Kitab Mukhtashor Al Muzany.&lt;br /&gt;10-Kitab Harmalah.&lt;br /&gt;11-Kitab Jami'al Muzani Al Kabir.&lt;br /&gt;12-Kitab Jami'al muzani As Shoghir.&lt;br /&gt;13-Kitab Istiqbalul Qiblatain.&lt;br /&gt;14-Kitab Mukhtashor Al Buwaithi.&lt;br /&gt;15-Kitab Al amaali.&lt;br /&gt;16-Kitab Al Qossamah.&lt;br /&gt;17-Kitab Al Jizyah.&lt;br /&gt;18-Kitab Qital Ahlil Baghyi&lt;br /&gt;dan masih banyak yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Qodhi Imam Abu Muhammad bin Husein bin Muhammad Al marudzi,salah seorang murid Imam Syafi;ie ra:"Imam Syafi'ie telah mengarang 113 (seratus tiga belas) kitab dalam ilmu ushul,tafsir,fiqh,adab,sastra dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu di mesir inilah Imam Syafi'ie ra meninjau kembali fatwa-fatwa yang dikeluarkan beliau saat di baghdad.Ada yang diantaranya ditetapkan dan ada pula yang direvisi bahkan di mansukhnya.Karena itulah timbul istilah Qoul Qodim dan Qoul Jadid.Qoul Qodim adalah yang di fatwakan di baghdad dan Qoul Qodim dimesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MURID-MURID IMAM SYAFI'IE RA DI MESIR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu Imam Syafi'ie ra dimesir mengembangkan madzhabnya,beliau mempunyai ratusan bahkan ribuan murid yang datang dan mengaji kepada beliau dari segala penjuru dunia.Hanya saja yang dekat,mendengar dan menulis dan membantu Imam Syafi'ie dalam menyusun kitab tidak terlalu banyak.Diantara adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- Ar robi' bin sulaiman al muradi yang datang bersama Imam Syafi'ie ra dari baghdad.(wafat tahun 270 H).&lt;br /&gt;2- Abdullah bin Zubeir Al Humaidi,yang juga datang bersama sang Imam dari baghdad.(wafat tahun 219 H).&lt;br /&gt;3- Al Buwaithy.Lama lengkapnya adalah Abu Ya'qub yusuf bin Yahya Al Buwaithi.(wafat tahun 232 H).&lt;br /&gt;4- Al Muzany.Nama lengkapnya adalah Abu Ibrahim isma'il bin Yahya Almuzany (wafat tahun 264 H).&lt;br /&gt;5- Arrobi' bin Sulaiman Al Jizy.(wafat tahun 256 H).&lt;br /&gt;6- Harmalah bin Yahya At Tujiby (wafat tahun 243 H).&lt;br /&gt;7- Yusuf bib Abdil A'laa (wafat tahun 264 H).&lt;br /&gt;8- Muhammad bin Abdullah bin abdul Hakam (wafat tahun 268 H).&lt;br /&gt;9- Abdurrahman bin abdullah bin Abdul Hakam (wafat tahun 268 H).&lt;br /&gt;10-Abu Bakar Al Humaidy (wafat tahun 229 H).&lt;br /&gt;11-Abdul 'Aziz bin Umar (wafat tahun 234 H).&lt;br /&gt;12-Abu 'Utsman,muhammad bin Syafi'ie (anak kandung Imam Syafi'ie wafat 232 H).&lt;br /&gt;13-Abu Hanifah Al Aswani (orang mesir asal qibthi.wafat tahun 271 H).&lt;br /&gt;dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perantaraan murid-murid beliau inilah pelajaran-pelajaran imam Syafi'ie ra tersiar luas ke seluruh pelosok dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syekh Muhammad bin Hamdan bin Sufyan Al Baghdady:"Pada suatu hari saya datang ke rumah Ar robi' bin Sulaiman,maka saya dapati di muka rumahnya 700 kendaraan yang membawa orang-orang yang akan mengaji dan mempelajari kitab-kitab Imam Syafi;ie ra".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di riwayatkan bahwa Imam Al Buwaithi telah menggantikan Imam Syafi'ie mengajar dalam halaqoh sang Imam sesudah sang Imam wafat selama kurang lebih 27 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan pula bahwa Imam Al Muzani telah menggantikan Al Buwaithi setelah wafatnya.Imam Al Muzani menggantikan Al Buwaithi hingga wafat tahun 264 H.Yaitu 60 tahun setelah wafatnya Imam Syafi'ie ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid Imam Syafi'ie yang bernama Ar robi' bin sulaiman almuradi adalah orang yang menulis kitab Ar risalah Al jadidah dan kitab Al-Umm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERSAMBUNG.....&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-5389779027513635535?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/5389779027513635535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/5389779027513635535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2008/04/al-qoulul-qodim-dan-jadid-imam-syafiie.html' title='AL QOULUL QODIM DAN JADID IMAM SYAFI&apos;IE RA'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-838977416557187271</id><published>2007-10-13T11:01:00.001-07:00</published><updated>2007-10-13T11:01:51.071-07:00</updated><title type='text'>TAHLIL DAN TAHLILAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://orgawam.wordpress.com/2007/10/01/tahlil-dan-tahlilan/" rel="bookmark"&gt;Tahlil dan tahlilan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Filed under: &lt;a title="View all posts in dzikir" href="http://wordpress.com/tag/dzikir/" rel="category tag"&gt;dzikir&lt;/a&gt; — orgawam @ 9:26 pm&lt;br /&gt;Ini komentarku di salah satu blog, yang membahas masalah tahlilan. Saya kutip lagi agar tidak hilang.&lt;br /&gt;Keutamaan tahlil:Sabda Rasul SAW, Sesungguhnya doa yang terbaik adalah membaca: Alhamdulillaah. Se-dang zikir yang terbaik adalah: Laa Ilaaha Illallaah.”HR. At-Tirmidzi 5/462, Ibnu Majah 2/1249, Al-Hakim 1/503. Menurut Al-Hakim, hadits tersebut adalah shahih. Imam Adz-Dzahabi menyetujuinya, Lihat pula Shahihul Jami’ 1/362.&lt;br /&gt;Keutamaan majelis dzikir:Dari Abu Hurairah ra. dari Abu Sa’id ra., keduanya berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidakada suatu kaum yang duduk dalam suatu majlis untuk dzikir kepada Allah melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi rahmat, di turunkan ketenangan, dan mereka disebut-sebut Allah di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya”. (Riwayat Muslim)Komentar oleh orang awam — May 8, 2007 @ &lt;a href="http://tausyiah275.blogsome.com/2006/09/05/tahlilan/#comment-5640"&gt;1:07 am&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalil perintah/anjuran berdoa:Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (Q.S., Al-Mukmin: 60).“&lt;br /&gt;Dan apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Q.S., Al-Baqarah: 186).Komentar oleh org awam — May 8, 2007 @ &lt;a href="http://tausyiah275.blogsome.com/2006/09/05/tahlilan/#comment-5641" modo="false"&gt;3:03 am&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalil untuk mendoakan saudaranya:“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)Komentar oleh org awam — May 8, 2007 @ &lt;a href="http://tausyiah275.blogsome.com/2006/09/05/tahlilan/#comment-5642" modo="false"&gt;3:14 am&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Ta’ziyah, yaitu menghibur orang yang tertimpa musibah dengan pahala-pahala yang dijanjikan oleh Allah, sekaligus mendo’akan mereka dan mayitnya”Imam Nawawi rahimahullah mengatakan : “Yaitu memotivasi orang yang tertimpa musibah agar lebih bersabar, dan meghiburnya supaya melupakannya, meringankan tekanan kesedihan dan himpitan musibah yang menimpanya”&lt;br /&gt;Kapan? Sebagian ulama Syafi’iyah dan Hanbaliah membebaskannya waktunya. Sampai kapan saja, tidak ada pembatasan waktunya. Sebab, menurut mereka, tujuan dari ta’ziyah ini untuk mendo’akan, memotivasinya agar bersabar dan tidak melakukan ratapan, dan lain sebagainya. Tujuan ini tentu saja berlaku untuk jangka waktu yang lama.Komentar oleh org awam — May 8, 2007 @ &lt;a href="http://tausyiah275.blogsome.com/2006/09/05/tahlilan/#comment-5643" modo="false"&gt;3:19 am&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang muslim mendapat musibah (ditinggal mati keluarga, kena gempa, dll), adalah suatu kesunahan bagi saudara-saudaranya untuk datang takziah kepadanya, serta menghibur agar bersabar dari cobaan.Tidak ada yang lebih baik dari menghibur serta meringankan bebannya selain daripada mengajaknya berdzikir, mengingat Allah, dan berdoa bersama-sama, mendoakan si mayit dan keluarga yg ditinggalkannya.&lt;br /&gt;Inilah yang kemudian menjadi majelis tahlil (tahlilan), karena dalam majelis itu yang dibaca terutama adalah kalimat tahlil. Dasarnya adalah #1.Mengenai waktu-nya bebas. JIka tradisi masyarakat adalah hari 3,7,40 dst.. itu hanya tradisi, tidak ada masalah karena tidak ada larangan dalam kaidah agama. Jika anda mau takziah hari ke 25 pun silahkan.&lt;br /&gt;Yang dilarang itu adalah jika kita mewajibkan peringatan 3, 7, 40 hari dst sebagai keharusan,.. karena tidak ada dalil yg mewajibkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-838977416557187271?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/838977416557187271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/838977416557187271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2007/10/tahlil-dan-tahlilan.html' title='TAHLIL DAN TAHLILAN'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-4324607576238142751</id><published>2007-10-13T10:52:00.000-07:00</published><updated>2007-10-13T10:55:41.341-07:00</updated><title type='text'>Ibnu Taymiyyah itu</title><content type='html'>&lt;a title="Permanent Link to PARA ULAMA, AHLI FIQH DAN PARA QADHI YANG MEMBANTAH IBNU TAIMIYAH." href="http://bankwahabi.wordpress.com/2007/10/08/para-ulama-ahli-fiqh-dan-para-qadhi-yang-membantah-ibnu-taimiyah/" rel="bookmark"&gt;PARA ULAMA, AHLI FIQH DAN PARA QADHI YANG MEMBANTAH IBNU TAIMIYAH.&lt;/a&gt;October 8, 2007 at 3:35 pm  In &lt;a title="View all posts in Pandangan Ulama'" href="http://ms.wordpress.com/tag/pandangan-ulama/" rel="category tag"&gt;Pandangan Ulama'&lt;/a&gt;, &lt;a title="View all posts in Siapa Wahabi" href="http://ms.wordpress.com/tag/siapa-wahabi/" rel="category tag"&gt;Siapa Wahabi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PARA ULAMA, AHLI FIQH DAN PARA QADHI YANG MEMBANTAH IBNU TAIMIYAH.&lt;br /&gt;Berikut adalah nama-nama para ulama yangmsemasa dengan Ibnu Taimiyah (W 728 H) dan&lt;br /&gt;berdebat dengannya atau yang hidup setelahnya dan membantah serta menyerang pendapat-pendapatnya. Mereka adalah para ulama dari&lt;br /&gt;empat madzhab; Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali:&lt;br /&gt;1. Al Qadhi al Mufassir Badr ad-din Muhammad ibn Ibrahim ibn Jama’ah asy-Syafi’i (W 733 H).&lt;br /&gt;2. Al Qadhi Muhammad ibn al Hariri al Anshari al Hanafi.&lt;br /&gt;3. Al Qadhi Muhammad ibn Abu Bakar al Maliki&lt;br /&gt;4. Al Qadhi Ahmad ibn ‘Umar al Maqdisi al-Hanbali. Dengan fatwa empat Qadhi (hakim) dari empat madzhab ini, Ibnu Taimiyah dipenjara pada tahun 762 H. Peristiwa ini diuraikan dalam ‘Uyun at-Tawarikh karya Ibnu Syakir al-Kutubi, Najm al Muhtadi wa Rajm al Mu’tadi karya Ibn al Mu’allim al Qurasyi.&lt;br /&gt;5. Syekh Shalih ibn Abdillah al Batha-ihi, pimpinan para ulama di Munaybi’ ar-Rifa’i, kemudian menetap di Damaskus dan wafat tahun 707 H. Beliau adalah salah seorang yang menolak pendapat Ibnu Taimiyah dan membantahnya seperti dijelaskan oleh Ahmad al-Witri dalam karyanya Raudlah an-Nazhirin wa Khulashah Manaqib ash-Shalihin. Al-Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani juga menuturkan biografi Syekh Shalih ini dalam ad-Durar al Kaminah.&lt;br /&gt;6. Syekh Kamal ad-Din Muhammad ibn Abu al-Hasan Ali as-Siraj ar-Rifa’i al Qurasyi dalam Tuffah al Arwah wa Fattah al Arbah. Beliau ini semasa dengan Ibnu Taimiyah .&lt;br /&gt;7. Qadhi al Qudhah (Hakim Agung) di Mesir; Ahmad ibn Ibrahim as-Surrruji al Hanafi (W710 H) dalam I’tiraadlat ‘Ala Ibn Taimiyah fi ‘Ilm al Kalam.&lt;br /&gt;8. Qadhi al Qudhah (Hakim Agung) madzhab Maliki di Mesir; Ali ibn Makhluf (W 718 H). Beliau berkata: “Ibnu Taimiyah berkeyakinan Tajsim. Dalam madzhab kami, orang yang meyakini ini telah kafir dan wajib dibunuh”.&lt;br /&gt;9. Asy-Syekh al Faqih Ali ibn Ya’qub al Bakri (W 724 H). Ketika Ibnu Taimiyah datang ke Mesir beliau mendatanginya dan mengingkari pendapat-pendapatnya .&lt;br /&gt;10. Al Faqih Syams ad-Din Muhammad ibn ‘Adlan asy-Syafi’i (W 749 H). Beliau mengatakan: “Ibnu Taimiyah berkata; Allah di atas ‘Arsy dengan keberadaan di atas yang sebenarnya, Allah berbicara (berfirman) dengan huruf dan suara”.&lt;br /&gt;11. Al Hafizh al Mujtahid Taqiyy ad-Din as-Subki (W 756 H) dalam beberapa karyanya:&lt;br /&gt;- Al I’tibar Bi Baqa al Jannah Wa an-Nar&lt;br /&gt;- Ad-Durrah al Mudliyyah Fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah&lt;br /&gt;- Syifa as-Saqam fi Ziyarah Khairi al Anam&lt;br /&gt;- An-Nazhar al Muhaqqaq fi al Halif Bi ath-Thalaq al Mu’allaq&lt;br /&gt;- Naqd al Ijtima’ Wa al Iftiraq fi Masa-il al-Ayman wa ath-Thalaq&lt;br /&gt;- at-Tahqiq fi Mas-alah at Ta’liq&lt;br /&gt;- Raf’ asy-Syiqaq ‘An Mas-alah ath-Thalaq.&lt;br /&gt;12. Al Muhaddits al Mufassir al Ushuli al Faqih Muhammad ibn ‘Umar ibn Makki, yang lebih dikenal dengan Ibn al Murahhil asy-Syafi’i (W 716 H) beliau membantah dan menyerang Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;13. Al Hafizh Abu Sa’id Shalah ad-Din al ‘Ala-I (W. 761 H). Beliau mencela Ibnu Taimiyah seperti dijelaskan dalam:&lt;br /&gt;- Dzakha-ir al Qashr fi Tarajim Nubala al ‘Ashr, hlm .32-33, buah karya Ibnu Thulun.&lt;br /&gt;- Ahadits Ziyarah Qabr an-Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam.&lt;br /&gt;14. Qadhi al Qudhah (Hakim Agung) di al Madinah al Munawwarah; Abu Abdillah Muhammad ibn Musallam ibn Malik ash-Shalihi al-Hanbali (W 762 H).&lt;br /&gt;15. Syekh Ahmad ibn Yahya al Kullabi al Halabi yang lebih dikenal dengan Ibn Jahbal (W 733H). Beliau semasa dengan Ibnu Taimiyah dan menulis sebuah risalah untuk membantahnya, berjudul Risalah fi Nafyi al Jihah, yakni menafikan Jihah (arah) bagi Allah.&lt;br /&gt;16. Al Qadhi Kamal ad-Din ibn az-Zumallakani (W 727 H). Beliau mendebat Ibnu Taimiyahdan menyerangnya dengan menulis dua risalah bantahan tentang masalah talak dan ziarah ke makam Rasulullah.&lt;br /&gt;17. Al Qadhi Kamal Shafiyy ad-Din al Hindi (W715 H), beliau mendebat Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;18. Al Faqih al Muhaddits ‘Ali ibn Muhammad al-Bajiyy asy-Syafi’i (W 714 H). Beliau berdebat Ibnu Taimiyah dalam empat belas majlis dan berhasil membungkamnya.&lt;br /&gt;19. Al Mu-arrikh al Faqih al Mutakallim al Fakhr Ibn al Mu’allim al Qurasyi (W 725 H) dalam karyanya Najm al Muhtadi wa Rajm al Mu’tadi.&lt;br /&gt;20. Al Faqih Muhammad ibn ‘Ali ibn ‘Ali al-Mazini ad-Dahhan ad-Dimasyqi (W 721 H) dalam dua risalahnya:&lt;br /&gt;- Risalah fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah fi Masalah ath-Thalaq.&lt;br /&gt;- Risalah fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah fi Masalah az-Ziyarah.&lt;br /&gt;21. Al Faqih Abu al Qasim Ahmad ibn Muhammad asy-Syirazi (W 733 H) dalam karyanya Risalah fi ar-Radd ‘Ala ibn Taimiyah.&lt;br /&gt;22. Al Faqih al Muhaddits Jalal ad-Din Muhammad al Qazwini asy-Syafi’i (W 739 H)&lt;br /&gt;23. Surat keputusan resmi yang dikeluarkan oleh Sultan Ibnu Qalawun (W 741 H) untuk memenjarakannya.&lt;br /&gt;24. Al Hafizh adz-Dzahabi (W 748 H). Ia semasa dengan Ibnu Taimiyah dan membantahnya dalam dua risalahnya :&lt;br /&gt;- Bayan Zaghal al ‘Ilm wa ath-Thalab.&lt;br /&gt;- An-Nashihah adz-Dzahabiyyah&lt;br /&gt;25. Al Mufassir Abu Hayyan al Andalusi (W 745H) dalam Tafsirnya: An-Nahr al Maadd Min al-Bahr al Muhith.&lt;br /&gt;26. Syeikh ‘Afif ad-Din Abdullah ibn As’ad al-Yafi’i al Yamani al Makki (W 768 H).&lt;br /&gt;27. Al Faqih ar-Rahhalah Ibnu Baththuthah (W 779 H) dalam karyanya Rihlah Ibn Baththuthah.&lt;br /&gt;28. Al Faqih Taj ad-Din as-Subki (W 771 H) dalam karyanya Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra.&lt;br /&gt;29. Al Muarrikh Ibnu Syakir al Kutubi (W 764 H); murid Ibnu Taimiyah dalam karyanya: ‘Uyun at-Tawarikh.&lt;br /&gt;30. Syekh ‘Umar ibn Abu al Yaman al Lakhami al-Fakihi al Maliki (W 734 H) dalam at-Tuhfah al-Mukhtarah Fi ar-Radd ‘Ala Munkir az-Ziyarah.&lt;br /&gt;31. Al Qadhi Muhammad as-Sa’di al Mishri al-Akhna-i (W 750 H) dalam al Maqalah al-Mardhiyyah fi ar-Radd ‘Ala Man Yunkir az-Ziyarah al-Muhammadiyyah. Buku ini dicetak dalam satu rangkaian dengan Al-Barahin as-Sathi’ah karya Al ’Azami.&lt;br /&gt;32. Syekh Isa az-Zawawi al Maliki (W 743 H) dalam Risalah fi Mas-alah ath- Thala.&lt;br /&gt;33. Syekh Ahmad ibn Utsman at-Turkamani al-Juzajani al Hanafi (W 744 H) dalam al Abhatsal Jaliyyah fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah.&lt;br /&gt;34. Al Hafizh Abd ar-Rahman ibn Ahmad, yang terkenal dengan Ibnu Rajab al Hanbali (W 795 H) dalam: Bayan Musykil al Ahadits al-Waridah fi Anna ath-Thalaq ats-Tsalats Wahidah.&lt;br /&gt;35. Al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani (W 852 H) dalam beberapa karyanya:&lt;br /&gt;- Ad-Durar al Kaminah fi A’yan al Mi-ah ats-Tsaminah&lt;br /&gt;- Lisan al Mizan&lt;br /&gt;- Fath al Bari Syarh Shahih al Bukhari&lt;br /&gt;- Al Isyarah Bi Thuruq Hadits az-Ziyarah&lt;br /&gt;36. Al Hafizh Waliyy ad-Din al ‘Iraqi (W 826 H) dalam al Ajwibah al Mardliyyah fi ar-Radd ‘Ala al As-ilah al Makkiyyah.&lt;br /&gt;37. Al Faqih al Mu-arrikh Ibn Qadhi Syuhbah asy-Syafi’i (W 851 H) dalam Tarikh Ibn Qadhi Syuhbah.&lt;br /&gt;38. Al Faqih Abu Bakr al Hushni (W 829 H) dalam Karyanya Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrada Wa Nasaba Dzalika Ila al Imam Ahmad.&lt;br /&gt;39. Pimpinan para ulama seluruh Afrika, Abu Abdillah ibn ‘Arafah at-Tunisi al Maliki (W 803 H).&lt;br /&gt;40. Al ‘Allamah ‘Ala ad-Din al Bukhari al Hanafi (W 841 H). Beliau mengkafirkan Ibnu Taimiyah dan orang yang menyebutnya Syekh al Islam1. Artinya orang yang menyebutnya dengan julukan Syekh al Islam, sementara ia tahu perkataan dan pendapat-pendapat kufurnya. Hal ini dituturkan oleh Al Hafizh as-Sakhawi dalam Adl-Dlau Al Lami’.&lt;br /&gt;41. Syekh Muhammad ibn Ahmad Hamid ad-Din al Farghani ad-Dimasyqi al Hanafi (W 867 H) dalam risalahnya Ar-Radd ‘Ala Ibnu Taimiyah fi al I’tiqad.&lt;br /&gt;42. Syekh Ahmad Zurruq al Fasi al Maliki (W 899 H) dalam Syarh Hizb al Bahr.&lt;br /&gt;43. Al Hafizh as-Sakhawi (W 902 H) dalam Al-I’lan Bi at-Taubikh liman Dzamma at-Tarikh.&lt;br /&gt;44. Ahmad ibn Muhammad Yang dikenal dengan Ibnu Abd as-Salam al Mishri (W 931 H) dalam al Qaul an-Nashir fi Raddi Khabath ‘Ali ibn Nashir.&lt;br /&gt;45. Al ‘Alim Ahmad ibn Muhammad al-Khawarizmi ad-Dimasyqi yang dikenal dengan Ibnu Qira (W968H), beliau mencela Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;46. al Bayyadli al Hanafi (W 1098 H) dalam Isyarat al Maram Min ‘Ibarat al Imam.&lt;br /&gt;47. Syekh Ahmad ibn Muhammad al Witri (W980 H) dalam Raudlah an- Nazhirin Wa Khulashah Manaqib ash- Shalihin.&lt;br /&gt;48. Syekh Ibnu Hajar al Haytami (W 974 H) dalam karya-karyanya;&lt;br /&gt;- Al Fatawi al Haditsiyyah&lt;br /&gt;- Al Jawhar al Munazhzham fi Ziyarah al Qabr alMu’azhzham&lt;br /&gt;- Hasyiyah al Idhah fi Manasik al Hajj&lt;br /&gt;49. Syekh Jalal ad-Din ad-Dawwani (W 928 H) dalam Syarh al ‘Adludiyyah.&lt;br /&gt;50. Syekh ‘Abd an-Nafi’ ibn Muhammad ibn ‘Ali ibn ‘Arraq ad-Dimasyqi (W 962 H) seperti dijelaskan dalam Dzakha-ir al Qashr fi Tarajim Nubala al ‘Ashr, hlm. 32-33, buah karya Ibnu Thulun.&lt;br /&gt;51. Al Qadhi Abu Abdullah al Muqri dalam Nazm al-La-ali fi Suluk al Amali.&lt;br /&gt;52. Mulla ‘Ali al Qari al Hanafi (W 1014 H) dalam Syarh asy-Syifa li al Qadli ‘Iyadl.&lt;br /&gt;53. Syekh Abd ar-Ra-uf al Munawi asy -Syafi’I (W 1031 H) dalam Syarh asy-Syama-il li at-Tirmidzi.&lt;br /&gt;54. Al Muhaddits Muhammad ibn ‘Ali ibn ‘Illan ash-Shiddiqi al Makki (W 1057 H) dalam risalahnya al Mubrid al Mubki fi ar-Radd ‘ala ash-Sharim al Munki.&lt;br /&gt;55. Syekh Ahmad al Khafaji al Mishri al Hanafi(W 1069 H) dalam Syarh asy-Syifa li al Qadli ‘Iyadl.&lt;br /&gt;56. Al Muarrikh Ahmad Abu al ‘Abbas al Muqri (W 1041 H) dalam Azhar ar-Riyadl.&lt;br /&gt;57. Syekh Ahmad az-Zurqani al Maliki (W 1122H) dalam Syarh al Mawahib al-Ladunniyyah&lt;br /&gt;58. Syekh Abd al Ghani an-Nabulsi (W 1143 H) dalam banyak karya-karyanya.&lt;br /&gt;59. Al Faqih ash-Shufi Muhammad Mahdi ibn ‘Ali ash Shayyadi yang terkenal dengan ar-Rawwas (W1287H)&lt;br /&gt;60. As-Sayyid Muhammad Abu al Huda ash- Shayyadi (W 1328 H) dalam Qiladah al-Jawahir.&lt;br /&gt;61. Al Mufti Musthafa ibn Ahmad asy-Syaththi al-Hanbali ad-Dimasyqi (W 1349 H) dalam karyanya an-Nuqul asy-Syar’iyyah.&lt;br /&gt;62. Mahmud Khaththab as-Subki (W 1352 H) dalam ad-Din al Khalish atau Irsyad al Khalq Ila ad-Din al-Haqq.&lt;br /&gt;63. Mufti Madinah asy-Syekh Al Muhaddits Muhammad al Khadlir asy-Syinqithi (W1353H) dalam karyanya Luzum ath-Thalaq ats-Tsalas Daf’uhu Bi Ma La Yastathi’ al ‘Alim Daf’ahu.&lt;br /&gt;64. Syekh Salamah al ‘Azami asy-Syafi’i (W 1376H) dalam al Barahin as-Sathi’ah fi Radd Ba’dl al-Bida’ asy-Sya-i’ah dan beberapa makalah dalam surat kabar Mesir Al Muslim&lt;br /&gt;65. Mufti Mesir Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W 1354 H) dalam karyanya Tathhir al-Fuad Min Danas aI I’tiqad&lt;br /&gt;66. Wakil Syekh al Islam pada Daulah Utsmaniyyah (Dinasti Bani Utsman) Syekh Muhammad Zahid al Kawtsari (W 1371 H) dalam beberapa karyanya:&lt;br /&gt;- Maqalat al Kawtsari&lt;br /&gt;- At-Ta’aqqub al Hatsits lima Yanfihi Ibnu Taimiyah mi al Hadits&lt;br /&gt;- Al Buhuts al Wafiyyah fi Mufradat Ibnu Taimiyah&lt;br /&gt;- Al Isyfaq ‘Ala Ahkam ath- Thalaq&lt;br /&gt;67. Ibrahim ibn Utsman as-Samnudi al Mishri dalam karyanya Nushrah al Imam as-Subki Bi Radd ash-Sharim al Munki.&lt;br /&gt;68. ‘Alim Makkah Muhammad al ‘Arabi at-Tabban (W 1390 H) dalam Bara-ah al-Asy’ariyyin Min ‘Aqa-id al Mukhalifin.&lt;br /&gt;69. Syekh Muhammad Yusuf al Banuri al Bakistani dalam Ma’arif as-Sunan Syarh Sunan at-Tirmidzi.&lt;br /&gt;70. Syekh Manshur Muhammad ‘Uwais dalam Ibnu Taimiyah Laisa Salafiyyan.&lt;br /&gt;71. Al-Hafizh Syekh Ahmad ibn ash-Shiddiq al-Ghummari al Maghribi (W 1380 H) dalam beberapa karyanya, di antaranya:&lt;br /&gt;- Hidayah ash-Shaghra&lt;br /&gt;- Al Qaul al Jaliyy&lt;br /&gt;72. asy-Syeikh al Muhaddits Abdullah al Ghammarial Maghribi (W 1413 H) dalam banyak karyanya, di antaranya:&lt;br /&gt;- Itqan ash-Shan-‘ah Fi Tahqiq Ma’na al Bid’ah&lt;br /&gt;- Ash-Shubh as-Safir fi Tahqiq Shalah al Musafir&lt;br /&gt;- Ar-Rasa-il al Ghammariyyah&lt;br /&gt;73. Al Musnid Abu al Asybal Salim ibn Jindan (W1969 H) dari Jakarta Indonesia dalam karyanya Al Khulashah al Kafiyah fi al Asanid al-‘Aliyah.&lt;br /&gt;74. Hamdullah al Barajuri, ‘Alim Saharnapur dalam al Bashair Li Munkiri at-Tawassul Bi Ahlal Qubur&lt;br /&gt;75. Syekh Musthafa Abu Sayf al Hamami. Beliau mengkafirkan Ibnu Taimiyah dalam karyanya: Ghawts al ‘Ibad Bi Bayan ar-Rasyad. Buku ini mendapat persetujuan dan rekomendasi dari beberapa ulama besar, di antaranya; Syekh Muhammad Sa’id al ‘Arfi, Syekh Yusuf ad-Dajwi, Syekh Mahmud Abu Daqiqah, Syekh Muhammad al Buhairi, Syekh Muhammad Abd al Fattah ‘Inati, Syekh Habibullah al-Jakni asy-Syinqithi, Syekh Dasuqi Abdullah al ‘Arabi dan Syekh Muhammad Hifni Bilal.&lt;br /&gt;76. Muhammad ibn Isa ibn Badran as-Sa’di al-Mishri&lt;br /&gt;77. As-Sayyid Syekh al Faqih Alawi ibn Thahir al-Haddad al Hadlrami.&lt;br /&gt;78. Mukhtar ibn Ahmad al Muayyad al ‘Adzami (W 1340 H) dalam Jala’ al Awham ‘An Madzahib al A-immah al ‘Izham Wa at-Tawassul Bi Jahi Khair al Anam ‘Alaihi ash-Shalatu Wa as-Salam yang beliau tulis sebagai bantahan terhadap buku Ibnu Taimiyah; Raf’ al Malam.&lt;br /&gt;79. Syekh Ismail al Azhari dalam Mir-at an-Najdiyyah.&lt;br /&gt;80. KH. Muhammad Ihsan dari Jampes Kediri Jawa timur dalam Kitabnya Siraj ath-Thalibin&lt;br /&gt;81. KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (W 1366 H/1947 R), Rais Akbar Nahdlatul Ulama dari Jombang Jawa Timur, dalam kitabnya Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah.&lt;br /&gt;82. KH. Ali Maksum (W 1989 R), Rais ‘am Nahdhatul Ulama IV dari Yogyakarta Jawa Tengah dalam bukunya Hujjah Ahlussunnah Wal Jama’ah.&lt;br /&gt;83. KH Abu al Fadll bin Abd asy-Syakur, dari Senori Tuban Jawa Timur dalam kitab-kitabnya, di antaranya:&lt;br /&gt;- Al Kawakib al-Lamma’ah fi Tahqiq alMusamma Bi Ahlussunnah Wal Jama’ah&lt;br /&gt;- Syarh al Kawakib al-Lamma’ah&lt;br /&gt;84. KH. Ahmad Abdul Hamid dari Kendal Jawa Tengah dalam Bukunya ’Aqa-id Ahlussunnah Wal Jama’ah&lt;br /&gt;85. KH Siradjuddin ‘Abbas (W 1401 H/1980 R) dalam banyak karyanya:&lt;br /&gt;-I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah&lt;br /&gt;- 40 Masalah Agama, jilid IV&lt;br /&gt;86. Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid ash-Shaulati (W 1997 R) Ampenan Pancor Lombok NTB dalam bukunya Hizb Nahdhatul Wathan Wa Hizb Nahdhatul Banat.&lt;br /&gt;87. K.H. Muhammad Muhajirin Amsar ad-Dari (W 2003 R) dari Bekasi Jawa Barat dalam salah satu surat yang beliau tulis.&lt;br /&gt;88. Al Habib Syekh al Musawa ibn Ahmad al-Musawa as-Saqqaf; Penasehat Umum Perguruan Tinggi dan Perguruan Islam Az Ziyadah Klender Jakarta Timur.&lt;br /&gt;89. KH. Muhammad Syafi’i Hadzami Mantan Ketua Umum MUI Propinsi DKI Jakarta 1990-2000 dalam bukunya Taudlih al Adillah.&lt;br /&gt;90. KH. Ahmad Makki Abdullah Mahfudz Sukabumi Jawa Barat dalam Bukunya Hishnu as-Sunnah Wal Jama’ah fi Ma’rifat Firaq Ahl al-Bid’ah.&lt;br /&gt;91. Syekh Abdullah Tha’ah. Beliau membantah Ibnu Taimiyah dalam bukunya al Fatawa al ‘Aliyyah yang beliau tulis pada tahun 1932. Buku ini memuat fatwa para ulama, para Imam, pengajar dan para mufti serta para Qadhi di Makkah, yang sebahagiannya berasal dari Indonesia, Thailand dan lain-lain. Mereka menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah sesat dan menyesatkan. Berikut nama para ulama yang turut menghadiri majlis pernyataan fatwa tersebut serta menandatanganinya : Sayyid Abdullah –Mufti Madzhab Syafi’i di Makkah-,&lt;br /&gt;Syekh Abdullah Siraj –pimpinan para Qadhi dan Kepala para ulama Hijaz-, Syekh Abdullah ibn Ahmad –Qadli Makkah-, Syekh Darwisy –Amin Fatwa Makkah-, Muhammad ‘Abid ibn Husain –Mufti Madzhab Maliki di Makkah-, Syekh Umar ibn Abu Bakr Bajuneid –Wakil Mufti Madzhab Hanbali di Makkah-, Syekh Abdullah ibn Abbas –Wakil Qadli Makkah-, Syekh Muhammad Ali ibn Husein al Maliki –Seorang Imam dan pengajar di Makkah-, Syekh Ahmad al Qari –Qadhi Jeddah-, Syekh Muhammad Husein –Seorang Imam dan pengajar di Makkah-, Syekh Mahmud Zuhdi ibn Abdur Rahman –Seorang pengajar di Makkah-, Syekh Muhammad Habibullah ibn Maayaabi – Seorang pengajar di Makkah-, Syekh Abdul Qadir ibn Shabir al Mandayli (Mandailing-Sumut) –Seorang pengajar di Makkah-,Syekh Mukhtar ibn ‘Atharid al Jawi (asal Jawa) –Seorang pengajar di Makkah-, Syekh Sa’id ibn Muhammad al Yamani –Seorang Imam dan pengajar di Makkah-, Syekh Muhammad Jamal ibn Muhammad al Amir al-Maliki –Seorang Imam dan pengajar di Makkah-, Sayyid ‘Abbas ibn ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki –Seorang pengajar di Makkah-, Syekh Abdullah Zaydan asy-Syinqithi –Seorang pengajar di Makkah-, Syekh Mahmud Fathani (asal Thailand) –Seorang pengajar di Makkah, Syekh Hasanuddin ibn Syekh Muhammad Ma’shum asal Medan Deli-Sumut.&lt;br /&gt;92. Syekh Ahmad Khathib al Minangkabawi, Seorang Imam Madzhab Syafi’i di Makkah asal Minangkabau Sumatera dalam bukunya al-Khiththah al Mardliyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;93. Syekh Muhammad Ali Khathib Minangkabau, Murid Syekh Ahmad Khathib al-Minangkabawi, dalam kitabnya Burhan al-Haqq. Beliau juga telah mengumpulkan para ulama di Sumatera untuk membantah Rasyid Ridla penulis al Manar dan para pengikutnya di Indonesia.&lt;br /&gt;94. Syekh Abdul Halim ibn Ahmad Khathib al-Purbawi al Mandayli, Murid Syekh Mushthafa Husein, pendiri Pon-Pes. Al-Mushthafawiyyah, Purba Baru, Sumut dalam risalahnya Kasyf al Ghummah yang beliau tulis tahun 1389 H -12/8/1969.&lt;br /&gt;95. Syekh Abdul Majid Ali (W. 2003) Kepala Kantor Urusan Agama daerah Kubu-Riau, Sumatera, salah seorang ulama kharismatik dan terkenal di daerah tersebut. Beliau mengkafirkan Ibnu Taimiyah dan menyatakan bahwa gurunya Syekh Abdul Wahhab Panay-Medan mengkafirkan Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;96. K.H. Abdul Qadir Lubis, pimpinan Pon.Pes. Dar at-Tauhid, Mandailing-Sumut(W. 2003). Beliau mengkafirkan Ibnu Taimiyah di sebagian majlisnya.&lt;br /&gt;97. K.H. Muhammad Sya’rani Ahmadi Kudus Jawa Tengah dalam bukunya al Fara-id as-Saniyyah wa ad-Durar al Bahiyyah yang beliau tulis pada tahun 1401 H. Dalam buku ini beliau menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah adalah seorang Musyabbih Mujassim (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan meyakini bahwa Allah adalah jisim -benda-).&lt;br /&gt;98. K.H. Muhammad Mashduqi Mahfuzh, Ketua Umum MUI Jawa Timur dalam bukunya al-Qawa’id al Asasiyyah li Ahlissunnah WalJama’ah.&lt;br /&gt;99. Syekh al Muhaddits al Faqih Abdullah al Harari al-Habasyi dalam kitabnya al Maqalaat as-Sunniyyah Fi Kasyf Dlalalaat Ahmad ibn Taimiyah, Shorihul Bayan,Sharhul Qawiim, Bughyah al-Tholib.&lt;br /&gt;Terakhir, Wahai seorang pencari kebenaran, lihat dan amatilah! bagaimana mungkin kita berpegangan dengan orang yang dicela oleh sekian banyak para ulama yang menjelaskan hakikatnya serta kesesatan-kesesatannya agar diwaspadai, dijauhi dan tidak diikuti oleh umat. Apakah anda masih lagi buta dengan dalil-dalil yang telah Ulama’ ASWJ kemukakan? Atau anda masih menunggu Api Neraka membakar anda di akhirat kelak!!! Adakah anda masih meragui kesesatan Ibn Taimiyyah dan pengikutnya yang hanya beberapa kerat; atau anda mahu KAFIR kan seluruh ulama’ Islam ASWJ yang mengikut manhaj Asya’itah dan Maturidiyyah!!!&lt;br /&gt;Oleh itu, apa yang disampaikan oleh golongan ANTI-WAHABI adalah bukan dari HAWA NAFSU yang JELEK atau Kepentingan duniawi. Sesungguhnya penjelasan ini adalah daripada Ulama’ Mu’tabar dan Pandangan Jumhur Ulama’ ASWJ dan Bukan ORANG-ORANG BODOH Yang Hanya ada PHD atau mengaji tak habis lagi tapi rasa sudah menjadi mujtahid mutlaq atau ahli tarjih.&lt;br /&gt;Marilah kita beramai-ramai berdoa pada ALLAH SWT agar kita sentiasa dalam Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Asya’irah dan Maturidiyyah). Allahumma Amiin…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-4324607576238142751?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/4324607576238142751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/4324607576238142751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2007/10/ibnu-taymiyyah-itu.html' title='Ibnu Taymiyyah itu'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-7302461172236197047</id><published>2007-10-13T10:44:00.000-07:00</published><updated>2007-10-13T10:50:49.653-07:00</updated><title type='text'>PENGERTIAN ASWAJA</title><content type='html'>&lt;a title="Permanent Link to PENJELASAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH AQIDAH YANG SHOHIH." href="http://bankwahabi.wordpress.com/2007/10/07/penjelasan-ahlus-sunnah-wal-jamaah-aqidah-yang-shohih/" rel="bookmark"&gt;PENJELASAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH AQIDAH YANG SHOHIH.&lt;/a&gt;October 7, 2007 at 5:21 pm  In &lt;a title="View all posts in Pandangan Ulama'" href="http://ms.wordpress.com/tag/pandangan-ulama/" rel="category tag" modo="false"&gt;Pandangan Ulama'&lt;/a&gt;, &lt;a title="View all posts in Siapa Wahabi" href="http://ms.wordpress.com/tag/siapa-wahabi/" rel="category tag"&gt;Siapa Wahabi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Assalamulaikum,&lt;br /&gt;Alhamdulillah, di sini saya sertakan penerangan yang jelas dan lengkap tentang Ahlus Sunah Wal Jama’ah.Maklumat ini dikumpulkan daripada kitab-kitab para Ulama’ ASWJ.&lt;br /&gt;Semoga kita semua kekal dalam Aqidah ASWJ yang shohih dan bukan seperti yang dicanang oleh sesetengah golongan ajaran sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH: GOLONGAN YANG SELAMAT (al Firqah an-Najiyah)&lt;br /&gt;Bersabda Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW, maknanya:“dan sesungguhnya ummat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di antaranya di neraka dan hanya satu yang di surga yaitu al-Jama’ah”. (H.R. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akal adalah syahid (saksi dan bukti) akan kebenaran syara’. Inilah sebenarnya yang dilakukan oleh ulama tauhid atau ulama al-kalam (teologi). Yang mereka lakukan adalah taufiq (pemaduan) antara kebenaran syara’ dengan kebenaran akal, mengikuti jejak nabi Ibrahim -seperti dikisahkan al-Quran- ketika membantah raja Namrud dan kaumnya, di mana beliau menundukkan mereka dengan dalil akal. Fungsi akal dalam agama adalah sebagai saksi bagi kebenaran syara’ bukan sebagai peletak dasar bagi agama itu sendiri. Berbeza dengan golongan falsafah yang berbicara tentang Allah, malaikat dan banyak hal lainnya yang hanya berdasarkan penilaian akal semata-mata. Mereka menjadikan akal sebagai dasar agama tanpa memandang ajaran yang dibawa para nabi dan rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuduhan kaum Musyabbihah dan Mujassimah iaitu kaum yang sama sekali tidak memfungsikan akal dalam agama, terhadap Ahlussunnah Wal Jamaah sebagai ’Aqlaniyyun (kaum yang hanya mengutamakan akal) atau sebagai kaum Mu’tazilah atau Afrakh al-Mu’tazilah (anak bibitan kaum Mu’tazilah) dengan alasan kerana menggunakan akal sebagai salah satu sumber utama, adalah tuduhan yang amat salah. Ini tidak ubah seperti kata pepatah arab “Qabihul Kalam Silahulliam” (kata-kata yang jelek adalah senjata para pengecut). Secara ringkas tetapi namun padat, kita ketengahkan pembahasan tentang Ahlussunnah sebagai al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), asal-usulnya, dasar-dasar ajaran dan sistemnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGENALAN DAN KRONOLOGI SEJARAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat bahawa di kalangan umat Islam bermula dari abad-abad permulaan (mulai dari masa khalifah sayyidina Ali ibn Abi Thalib) sehinggalah sekarang terdapat banyak firqah (golongan) dalam masalah aqidah yang saling bertentangan di antara satu sama lain. Ini fakta yang tidak dapat dibantah. Bahkan dengan tegas dan jelas Rasulullah telah menjelaskan bahawa umatnya akan berpecah menjadi 73 golongan. Semua ini sudah tentunya dengan kehendak Allah dengan berbagai hikmah tersendiri, walaupun tidak kita ketahui secara pasti. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Namun Rasulullah juga telah menjelaskan jalan selamat yang harus kita ikuti dan panuti agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Iaitu dengan mengikuti apa yang diyakini oleh al-Jama’ah; majoriti umat Islam. Karena Allah telah menjanjikan kepada Rasul-Nya,  Nabi Muhammad, bahawa umatnya tidak akan tersesat selama mana mereka berpegang teguh kepada apa yang disepakati oleh kebanyakan mereka. Allah tidak akan menyatukan mereka dalam kesesatan. Kesesatan akan menimpa mereka yang menyimpang dan memisahkan diri dari keyakinan majoriti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majoriti umat Muhammad dari dulu sampai sekarang adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam Ushul al-I’tiqad (dasar-dasar aqidah); iaitu Ushul al-Iman al-Sittah (dasar-dasar iman yang enam) yang disabdakan Rasulullah dalam hadith Jibril uang bermaksud : “Iman adalah engkau mempercayai Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir serta Qadar (ketentuan Allah); yang baik maupun buruk”. (H.R. al Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal al-Jama’ah dan pengertiannya sebagai majoriti umat Muhammad yang tidak lain adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah tersebut dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya yang bermaksud: “Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian mengikuti orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian mengikuti yang datang setelah mereka“. Dan termasuk rangkaian hadith ini: “Tetaplah bersama al-Jama’ah dan jauhi perpecahan karena syaitan akan menyertai orang yang sendiri. Dia (syaitan) dari dua orang akan lebih jauh, maka barang siapa menginginkan tempat lapang di syurga hendaklah ia berpegang teguh pada (keyakinan) al-Jama’ah”. (H.R. at-Tirmidzi; berkata hadith ini Hasan Shahih juga hadith ini dishahihkan oleh al-Hakim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Jama’ah dalam hadith ini tidak boleh diertikan dengan orang yang selalu melaksanakan solat dengan berjama’ah, jama’ah masjid tertentu. Konteks pembicaraan hadith ini jelas mengisyaratkan bahwa yang dimaksud al-Jama’ah adalah majoriti umat Muhammad dari sisi jumlah(‘adad). Penafsiran ini diperkuatkan juga oleh hadith yang dinyatakan di awal pembahasan. Iaitu hadith riwayat Abu Daud yang merupakan hadith Shahih Masyhur, diriwayatkan oleh lebih dari 10 orang sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadith ini memberi kesaksian akan kebenaran majoriti umat Muhammad bukan kesesatan firqah-firqah yang menyimpang. Jumlah pengikut firqah-firqah yang menyimpang ini, jika dibandingkan dengan pengikut Ahlussunnah Wal Jama’ah sangatlah sedikit.  Seterusnya di kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah terdapat istilah yang popular iaitu “ulama salaf”. Mereka adalah orang-orang yang terbaik dari kalangan Ahlusssunnah Wal Jama’ah yang hidup pada 3 abad pertama hijriyah sebagaimana sabda nabi yang maknanya: “Sebaik-baik abad adalah abadku kemudian abad setelah mereka kemudian abad setelah mereka”. (H.R. Tirmidzi)&lt;br /&gt;Pada masa ulama salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mula tercetus bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lain-lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat fahaman atau mazhab baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian muncullah dua imam muktabar pembela Aqidah Ahlussunnah iaitu Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) dan Imam Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Allah meridhai keduanya–menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat Nabi Muhammad dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nas-nas al-Quran dan Hadith) dan dalil-dalil aqli (argumentasi rasional) disertaikan dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) golongan Mu’tazilah, Musyabbihah, Khawarij dan ahli bid’ah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebabkan inilah Ahlussunnah dinisbahkan kepada keduanya. Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenali dengan nama al-Asy’ariyyun (para pengikut Imam Abu al-Hasan Asy’ari) dan al-Maturidiyyun (para pengikut Imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini menunjukkan bahawa mereka adalah satu golongan iaitu al-Jama’ah. Kerana sebenarnya jalan yang ditempuhi oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu. Adapun perbezaan yang terjadi di antara keduanya hanyalah pada sebahagian masalah-masalah furu’ (cabang) aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanya saling berhujah dan berdebat atau saling menyesatkan, serta tidak menjadikan keduanya terlepas dari ikatan golongan yang selamat (al-Firqah al-Najiyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbezaan antara al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini adalah seperti perselisihan yang terjadi di antara para sahabat nabi, tentang  adakah Rasulullah melihat Allah pada saat Mi’raj? Sebahagian sahabat, seperti ‘Aisyah dan Ibn Mas’ud mengatakan bahawa Rasulullah tidak melihat Tuhannya ketika Mi’raj. Sedangkan Abdullah ibn ‘Abbas mengatakan bahawa Rasulullah melihat Allah dengan hatinya. Allah memberi kemampuan melihat kepada hati Nabi Muhammad atau membuka hijab sehingga dapat melihat Allah. Namun demikian al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini tetap bersama atau bersefahaman dan sehaluan dalam dasar-dasar aqidah. Al-Hafiz Murtadha az-Zabidi (W. 1205 H) mengatakan:“Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (Al-Ithaf Syarah li Ihya Ulumuddin, juz 2 hlm 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aqidah yang sebenar dan diyakini oleh para ulama salaf yang soleh adalah aqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Kerana sebenarnya keduanya hanyalah merumuskan serta membuat ringkasan yang mudah (method) dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh para nabi dan rasul serta para sahabat. Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, serta orang-orang yang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqidah ini diajarkan di pondok-pondok Ahlussunnah di negara kita Malaysia,Indonesia,Thailand dan lain-lainnya.Dan Alhamdulillah, aqidah ini juga diyakini oleh ratusan juta kaum muslimin di seluruh dunia seperti Brunei, India, Pakistan, Mesir (terutama al-Azhar), negara-negara Syam (Syria, Jordan, Lubnan dan Palestin), Maghribi,Yaman, Iraq, Turki, Chechnya, Afghanistan dan banyak lagi di negara-negara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wajib bagi kita untuk sentiasa memberi penuh perhatian dan serius dalam mendalami aqidah al- Firqah al-Najiyah yang merupakan aqidah golongan majoriti. Kerana ilmu aqidah adalah ilmu yang paling mulia, sebab ia menjelaskan pokok atau dasar agama. Abu Hanifah menamakan ilmu ini dengan al-Fiqh al-Akbar. Kerana mempelajari ilmu ini wajib diutamakan dari mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Setelah selesai atau khatam mempelajari ilmu ini barulah disusuli dengan ilmu-ilmu Islam yang lain. Inilah method yang diikuti para sahabat nabi dan ulama rabbaniyyun dari kalangan salaf maupun khalaf dalam mempelajari agama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tradisi ini telah bermula dari zaman Rasulullah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Umar dan Jundub, maknanya: “Kami ketika remaja saat mendekati baligh- bersama Rasulullah mempelajari iman (tauhid) dan belum mepelajari al-Qur’an. Kemudian kami mempelajari al-Qur’an maka bertambahlah keimanan kami”. (H.R. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Hafidz al-Bushiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu aqidah juga disebut dengan ilmu kalam. Hal ini kerana ramainya golongan yang menyalahgunakan nama Islam namun menentang aqidah Islam yang sebenar dan banyaknya kalam (argumentasi) dari setiap golongan untukmembela aqidah mereka yang sesat. Tidak semua ilmu kalam itu tercela, sebagaimana dikatakan oleh golongan Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Akan tetapi ilmu kalam terbahagi menjadi dua bahagian ; ilmu kalam yang terpuji dan ilmukalam yang tercela. Ilmu kalam yang kedua inilah yang menyalahi aqidah Islam kerana dikarang dan dipelopori oleh golongan-golongan yang sesat seperti Mu’tazilah, Musyabbihah (golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, sepeti kaum Wahabiyyah) dan ahli bid’ah lainnya. Adapun ilmu kalam yang terpuji ialah ilmu kalam yang dipelajari oleh Ahlussunah untuk membantah golongan yang sesat. Dikatakan terpuji kerana pada hakikatnya ilmu kalam Ahlussunnah adalah taqrir dan penyajian prinsip-prinsip aqidah dalam formatnya yang sistematik dan argumentatif; dilengkapi dengan dalil-dalil naqli dan aqli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar-dasar ilmu kalam ini telah wujud di kalangan para sahabat. Di antaranya, Imam Ali ibn Abi Thalib dengan argumentasinya yang kukuh dapat mengalahkan golongan Khawarij, Mu’tazilah dan juga dapat membantah empat puluh orang yahudi yang meyakini bahwa Allah adalah jisim (benda). Demikian pula Abdullah ibn Abbas, Al-Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib dan Abdullah ibn Umar juga membantah kaum Mu’tazilah. Sementara dari kalangan tabi’in; Imam al-Hasan al-Bashri, Imam al-Hasan ibn Muhamad ibn al-Hanafiyyah; cucu Saidina Ali ibn Abi Thalib dan khalifah Umar ibn Abdul Aziz juga pernah membantah kaum Mu’tazilah. Kemudian juga para imam dari empat mazhab; Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad juga menekuni dan menguasai ilmu kalam ini. Sebagaimana dinukilkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi (W 429 H) dalam kitab Ushul ad-Din, al-Hafizh Abu al-Qasim ibn ‘Asakir (W 571 H) dalam kitab Tabyin Kadzib al Muftari, al-Imam az-Zarkasyi (W 794 H) dalam kitab Tasynif al-Masami’ dan al ‘Allamah al Bayyadli (W 1098 H) dalam kitab Isyarat al-Maram dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Allah berfirman yang bermaksud: “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu”. (Muhammad :19) Ayat ini sangat jelas mengisyaratkan keutamaan ilmu ushul atau tauhid. Yaitu dengan menyebut kalimah tauhid (la ilaha illallah) lebih dahulu dari pada perintah untuk beristighfar yang merupakan furu’ (cabang) agama. Ketika Rasulullah ditanya tentang sebaik-baiknya perbuatan, beliau Menjawab,maknanya: “Iman kepada Allah dan rasul-Nya”. (H.R. Bukhari) Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah mengkhususkan dirinya sebagai orang yang paling mengerti dan faham ilmu tauhid, beliau bersabda,maknanya: “Akulah yang paling mengerti di antara kalian tentang Allah dan paling takut kepada-Nya”. (H.R. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerana itu, sangat banyak ulama yang menulis kitab-kitab khusus mengenai penjelasan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah ini. Seperti Risalah al-’Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam as-Salafi Abu Ja’far ath-Thahawi (W 321 H), kitab al‘Aqidah an-Nasafiyyah karangan al Imam ‘Umar an-Nasafi (W 537 H), al-‘Aqidah al-Mursyidah karangan al-Imam Fakhr ad-Din ibn ‘Asakir (W 630 H), al ‘Aqidah ash-Shalahiyyah yang ditulis oleh al-Imam Muhammad ibn Hibatillah al-Makki (W 599H); beliau menamakannya Hadaiq al-Fushul wa Jawahir al Uqul, kemudian menghadiahkan karyanya ini kepada sultan Shalahuddin al-Ayyubi (W 589 H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang risalah aqidah yang terakhir disebutkan, sultan Shalahuddin sangat tertarik dengannya hingga beliau memerintahkan untuk diajarkan sampai kepada anak-anak kecil di madrasah-madrasah, yang akhirnya risalah aqidah tersebut dikenal dengan nama al ‘Aqidah ash-Shalahiyyah. Sultan Shalahuddin adalah seorang ‘alim yang bermadzhab Syafi’i, mempunyai perhatian khusus dalam menyebarkan al ‘Aqidah as-Sunniyyah. Beliau memerintahkan para muadzdzin untuk mengumandangkan al ‘Aqidah as-Sunniyyah di waktu tasbih (sebelum adzan shubuh) pada setiap malam di Mesir, seluruh negara Syam (Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon), Mekkah, Madinah, dan Yaman sebagaimana dikemukakan oleh al Hafizh as-Suyuthi (W 911 H) dalam al Wasa-il ila Musamarah al Awa-il dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana banyak terdapat buku-buku yang telah dikarang dalam menjelaskan al ‘Aqidah as-Sunniyyah dan senantiasa penulisan itu terus berlangsung. Kita memohon kepada Allah semoga kita meninggal dunia dengan membawa aqidah Ahlissunah Wal Jamaah yang merupakan aqidah para nabi dan rasul Allah. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANDANGAN JUMHUR ULAMA TENTANG AQIDAH ASY’ARIYYAH; AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Subki dalam Thabaqatnya berkata: “Ketahuilah bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari tidak membawa ajaran baru atau madzhab baru, beliau hanya menegaskan kembali madzhab salaf, menghidupkan ajaran-ajaran sahabat Rasulullah. Penisbatan nama kepadanya kerana beliau konsisten dalam berpegang teguh ajaran salaf, hujjah (argumentasi) yang beliau gunakan sebagai landasan kebenaran aqidahnya juga tidak keluar dari apa yang menjadi hujjah para pendahulunya, kerananya para pengikutnya kemudian disebut Asy’ariyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu al-Hasan al-Asy’ari bukanlah ulama yang pertama kali berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama’ah, ulama-ulama sebelumya juga banyak berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau hanya lebih memperkuat ajaran salaf itu dengan argumen-argumen yang kuat. Bukankah penduduk kota Madinah banyak dinisbatkan kepada Imam Malik, dan pengikutnya disebut al Maliki. Ini bukan berarti Imam Malik membawa ajaran baru yang sama sekali tidak ada pada para ulama sebelumnya, melainkan karena Imam Malik menjelaskan ajaran-ajaran lama dengan penjelasan yang lebih terang, jelas dan sistematis demikian juga yang dilakukan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Abdullah ibn Alawi al-Haddad menegaskan bahwa “kelompok yang benar adalah kelompok Asy’ariyah yang dinisbatkan kepada Imam Asy’ari. Aqidahnya juga aqidah para sahabat dan tabi’in, aqidah ahlul haqq dalam setiap masa dan tempat, aqidahnya juga menjadi aqidah kaum sufi sejati. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Imam Abul Qasim al-Qusyayri. Dan Alhamdulillah aqidahnya juga menjadi aqidah kami dan saudara-saudara kami dari kalangan habaib yang dikenal dengan keluarga Abu Alawi, juga aqidah para pendahulu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau melantunkan satu bait sya’ir:&lt;br /&gt;وكن أشعريا في اعتقادك إنه هو المنهل الصافي عن الزيغ والكفر “Jadilah pengikut al Asy’ari dalam aqidahmu, karena ajarannya adalah sumber yangbersih dari kesesatan dan kekufuran”.&lt;br /&gt;Ibnu ‘Abidin al Hanafi mengatakan dalam Hasyiyah Radd al Muhtar ‘ala ad-Durr al Mukhtar : “Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah al Asya’irah dan al Maturidiyyah”. Dalam kitab ‘Uqud al Almas al Habib Abdullah Alaydrus al Akbar mengatakan : “Aqidahku adalah aqidah Asy’ariyyah Hasyimiyyah Syar’iyyah sebagaimana Aqidah para ulama madzhab syafi’i dan Kaum Ahlussunnah Shufiyyah”. Bahkan jauh sebelum mereka ini Al-Imam al ‘Izz ibn Abd as-Salam mengemukakan bahawa aqidah al Asy’ariyyah disepakati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudlala al-Hanabilah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikemukakan oleh al ‘Izz ibn Abd as-Salam ini disetujui oleh para ulama di masanya, seperti Abu ‘Amr Ibn al Hajib (pimpinan ulama Madzhab Maliki di masanya), Jamaluddin al Hushayri pimpinan ulama Madzhab Hanafi di masanya, juga disetujui oleh al Imam at-Taqiyy as-Subki sebagaimana dinukil oleh putranya Tajuddin as-Subki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GARIS PANDUAN AQIDAH ASY’ARIYYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar aqidah asy’ari yang juga merupakan aqidah ahlussunnah wal jama’ah adalah meyakini bahwa Allah ta’ala maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah bukanlah benda yang boleh digambarkan, dan juga bukan benda yang berbentuk dan berukuran. Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya (laysa kamitslihi syai’). Allah ada dan tidak ada permulaan atau penghabisan bagi kewujudan-Nya, Allah maha kuasa dan tidak ada yang melemahkan-Nya, serta Allah tidak diliputi arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ada sebelum menciptakan tempat tanpa tempat, Allah wujud setelah menciptakan tempat dan tanpa bertempat. tidak boleh ditanyakan tentangnya bila, dimana dan bagaimana ada-Nya. Allah ada tanpa terikat oleh masa dan tempat. Maha suci Allah dari bentuk (batasan), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar dan anggota badan yang kecil. Allah tidak diliputi satu arah atau enam arah penjuru. Allah tidak seperti makhluk-Nya. Allah maha suci dari duduk, bersentuhan, bersemayam, menyatu dengan makhluk-Nya, berpindah-pindah dan sifat-sifat makhluk lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak terjangkau oleh fikiran dan tidak terbayang dalam ingatan, kerana apapun yang terbayang dalam benakmu maka Allah tidak seperti itu. Allah maha hidup, maha mengetahui, maha kuasa, maha mendengar dan maha melihat. Allah berbicara dengan kalam-Nya yang azali sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain juga azali, kerana Allah berbeza dengan semua makhluk-Nya dalam dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Barang siapa menyifati Allah dengan sifat makhluknya sungguh dia telah kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah yang telah menciptakan makhluk dan perbuatan-perbuatan-Nya, Alah juga yang menentukan rezeki dan ajal mereka. Tidak ada yang boleh menolak ketentuan-Nya dan tidak ada yang boleh menghalangi pemberian-Nya. Allah berbuat dalam kerajaan-Nya ini apa yang Allah kehendaki. Allah tidak ditanya perihal perbuatan-Nya melainkan hamba-Nyalah yang akan diminta dipertanggungjawakan atas segala perbuatan-Nya. Apa yang Allah kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi. Allah bersifat dengan kesempurnaan yang pantas bagi-Nya dan Allah maha suci dari segala bentuk kekurangan. Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan penghulu para rasul. Nabi Muhammad diutuskan oleh Allah ke muka bumi ini untuk semua penduduk bumi, jin maupun manusia. Nabi Muhammad jujur dalam setiap apa yang disampaikannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-7302461172236197047?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/7302461172236197047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/7302461172236197047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2007/10/pengertian-aswaja.html' title='PENGERTIAN ASWAJA'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-4487452778838186174</id><published>2007-10-13T10:39:00.000-07:00</published><updated>2008-11-06T18:40:46.980-08:00</updated><title type='text'>Sosok Al Bany</title><content type='html'>&lt;a title="Permanent Link to ALBANI KAFIRKAN UMAT ISLAM DI PALESTIN" href="http://bankwahabi.wordpress.com/2007/09/25/albani-kafirkan-umat-islam-di-palestin/" rel="bookmark"&gt;ALBANI KAFIRKAN UMAT ISLAM DI PALESTIN&lt;/a&gt;September 25, 2007 at 9:59 am In &lt;a title="View all posts in Berita" href="http://ms.wordpress.com/tag/berita/" rel="category tag"&gt;Berita&lt;/a&gt;, &lt;a title="View all posts in Siapa Wahabi" href="http://ms.wordpress.com/tag/siapa-wahabi/" rel="category tag"&gt;Siapa Wahabi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/09/albani-kafirkan-umat-islam-di-palestin.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rRS1Og6ei4o/Rvdh3dQ4b5I/AAAAAAAAAIw/m5jM-ohIVs8/s1600-h/Albanipales.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ALBANI MENGKAFIRKAN UMAT ISLAM DI PALESTIN DAN MEWAJIBKAN MEREKA KELUAR DARI PALESTIN&lt;br /&gt;Oleh: Abu Syafiq 006012-2850578.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginilah citarasa Wahhabi demi mengkafirkan umat Islam khususnya yang ditindas oleh sahabat karib Wahhabi iaitu Yahudi terhadap umat Islam di bumi Palestin.&lt;br /&gt;Albani yang selalu diwar-warkan sebagai seorang yang tahu mengenai Ilmu Mustolah Al-Hadith dia ( Muhammad Nasiruddin Al-Bani ) yang mudah di sebut sebagai Al-Bani telah menghukum umat Islam yang kini berada di bumi Palestin sebagai KAFIR dan ditambah hukumnya oleh Albani sendiri bahawa WAJIB umat Islam yang berada di bumi Palestian untuk keluar dari tanah Dhoffah Al-Ghoribah Palestin dan dari kesemua bumi Palestian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujuk kenyataan ulamak Wahhabi ini iaitu Al-Bani mengkafirkan umat islam di Palestian secara mutlak dan mewajibkan umat Islam keluar dari Palestin dalam Majalah Al-Liwa’ Jordan keluaran tarikh 7/7/1993 m/s 16 dan dalam kitab AlBani sendiriberjudul “Fatawa Al-Bani” m/s 18 Jam’u ‘Ukkashah Abdul Manan cetakan Maktabah At-Turoth dan jugan dalam rakaman ceramah AlBani dirumahnya pada tarikh 22/4/1993 serta surat khabar As-suhuf 1/9/1993.&lt;br /&gt;Penghukuman Albani sedemikian menyebabkan ramai ulama Islam dan pemimpin Islam bangkit menentang diantaranya yang menentang Albani dalam permasaalahan ini adalah Dr. Solah Al-Kholidy yang menyatakan fatwa Albani tersebut merupakan percanggahan dengan As-Sunnah dan Islam itu sendiri. Begitu juga pemimpin Jordan Dr. Ali Al-Faqir Menteri Wizarah Alqouf Jordan turut menentang kenyataan Albani tersebut dan menyifatkannya sebagai YAHUDI.Rujuk As-Suhuf 1/9/1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalan saya: APAKAH HELAH DISEBALIK INI WAHAI WAHHABI? APAKAH GUNANYA WAHHABI MENGKAFIRKAN DAN MENYURUH SERTA MENWAJIBKAN KEPADA UMAT ISLAM DI PALESTIAN KELUAR TERUS DARI BUMI PALESTIN? ADALAH KAMU SEMUA REDHO BUMI PALESTIN DIRAMPAS OLEH YAHUDI LAKNAT ATAU KAMU SEMUA ADALAH PENDOKONG KEMENANGAN MUSAILAMATUL KAZZAB DAN YAHUDI TERKINI???!!!BUSUK SUNGGUH BUNYINYA SEORANG YANG PADA PANDANGAN MATA WAHHABI SEBAGAI PAKAR HADITH RUPA-RUPANYA PENYOKONG KUAT PERAMPAS YAHUDI KE ATAS TANAH AMBIYA’ !&lt;br /&gt;No Comments yet &lt;a title="Leave a comment" href="http://bankwahabi.wordpress.com/2007/09/25/albani-kafirkan-umat-islam-di-palestin/#postcomment"&gt;»&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-4487452778838186174?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/4487452778838186174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/4487452778838186174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2007/10/sosok-al-bany.html' title='Sosok Al Bany'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-5968446654818989628</id><published>2007-10-12T20:47:00.000-07:00</published><updated>2009-10-08T08:43:33.478-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Juli 12th, 2007 pada 9:17 am&lt;br /&gt;Membaca Sesatnya Salafi, Wahabi dan KhawarijOleh: Mukhtar Luthfi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf menurut Imam Ahmad bin Hanbal dapat diperhatikan dari kekacauan pada zaman itu. Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme yang diboyong oleh pengikut Muktazilah, yang meyakini keikutsertaan dan kebebasan akal secara ekstrem serta radikal dalam proses memahami agama. Sedang di sisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam, termasuk Ahmad bin Hanbal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu, lantas Ahmad bin Hanbal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, di Tanah Air kita muncul banyak sekali kelompok-kelompok pengajian dan studi keislaman yang mengidentitaskan diri mereka sebagai pengikut dan penyebar ajaran para Salaf Saleh.Mereka sering mengatasnamakan diri mereka sebagai kelompok Salafi. Dengan didukung dana yang teramat besar dari negara donor, yang tidak lain adalah negara asal kelompok ini muncul, mereka menyebarkan akidah-akidah yang bertentangan dengan ajaran murni keislaman baik yang berlandaskan al-Quran, hadis, sirah dan konsensus para salaf maupun khalaf.Dengan menggunakan ayat-ayat dan hadis yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir, zindiq dan munafiq, mereka ubah tujuan teks-teks tersebut untuk menghantam para kaum muslimin yang tidak sepaham dengan akidah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka beranggapan, bahwa hanya akidah mereka saja yang mengajarkan ajaran murni monoteisme dalam tubuh Islam, sementara ajaran selainnya, masih bercampur syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang harus dijauhi, karena sesat dan menyesatkan. Untuk itu, dalam makalah ringkas ini akan disinggung selintas tentang apa dan siapa mereka. Sehingga dengan begitu akan tersingkap kedok mereka selama ini, yang mengaku sebagai bagian dari Ahlusunnah dan penghidup ajaran Salaf Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Salafi jika dilihat dari sisi bahasa, Salaf berarti yang telah lalu.2 Sedang dari sisi istilah, salaf diterapkan untuk para sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’ tabi’in yang hidup di abad-abad permulaan kemunculan Islam.3 Jadi, salafi adalah kelompok yang ‘mengaku’ sebagai pengikut pemuka agama yang hidup di masa lalu dari kalangan para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Baik yang berkaitan dengan akidah, syariat dan prilaku keagamaan.4 Bahkan sebagian menambahkan bahwa Salaf mencakup para Imam Mazhab, sehingga salafi adalah tergolong pengikut mereka dari sisi semua keyakinan keagamaannya.5 Muhammad Abu Zuhrah menyatakan bahwa Salafi adalah kelompok yang muncul pada abad keempat hijriyah, yang mengikuti Imam Ahmad bin Hanbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada abad ketujuh hijriyah dihidupkan kembali oleh Ibnu Taimiyah.6Pada hakikatnya, kelompok yang mengaku sebagai salafi, yang dapat kita temui di Tanah Air sekarang ini, mereka adalah golongan Wahabi yang telah diekspor oleh pemuka-pemukanya dari dataran Saudi Arabia.Dikarenakan istilah Wahabi begitu berkesan negatif, maka mereka mengatasnamakan diri mereka dengan istilah Salafi, terkhusus sewaktu ajaran tersebut diekspor keluar Saudi. Kesan negatif dari sebutan Wahabi buat kelompok itu bisa ditinjau dari beberapa hal, salah satunya adalah dikarenakan sejarah kemunculannya banyak dipenuhi dengan pertumpahan darah kaum muslimin, terkhusus pasca kemenangan keluarga Saud—yang membonceng seorang rohaniawan menyimpang bernama Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi—atas semua kabilah di jazirah Arab atas dukungan kolonialisme Inggris. Akhirnya keluarga Saud mampu berkuasa dan menamakan negaranya dengan nama keluarga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggris pun akhirnya dapat menghilangkan dahaga negaranya dengan menyedot sebagian kekayaan negara itu, terkhusus minyakbumi. Sedang pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, resmi menjadi akidah negara tadi yang tidak bisa diganggu gugat. Selain menindak tegas penentang akidah tersebut, Muhammad bin Abdul Wahab juga terus melancarkan aksi ekspansinya ke segenap wilayah-wilayah lain di luar wilayah Saudi.Sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf, salah satu ulama Ahlusunnah yang sangat getol mempertahankan serangan dan ekspansi kelompok wahabisme ke negara-negara muslim, dalam salah satu karyanya yang berjudul “as-Salafiyah al-Wahabiyah” menyatakan: “Tidak ada perbedaan antara salafiyah dan wahabiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua istilah itu ibarat dua sisi pada sekeping mata uang. Mereka (kaum salafi dan wahabi) satu dari sisi keyakinan dan pemikiran. Sewaktu di Jazirah Arab mereka lebih dikenal dengan al-Wahhabiyah al-Hanbaliyah. Namun, sewaktu diekspor keluar (Saudi), mereka mengatasnamakan dirinya sebagai Salafy.” Sayyid as-Saqqaf menambahkan: “Maka kelompok salafi adalah kelompok yang mengikuti Ibnu Taimiyah dan mengikuti ulama mazhab Hanbali. Mereka semua telah menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai imam, tempat rujukan (marja’), dan ketua. Ia (Ibnu Taimiyah) tergolong ulama mazhab Hanbali. Sewaktu mazhab ini berada di luar Jazirah Arab, maka tidak disebut dengan Wahabi, karena sebutan itu terkesancelaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyinggung masalah para pemuka kelompok itu, kembali Sayyid as-Saqqaf mengatakan: “Pada hakikatnya, Wahabiyah terlahir dari Salafiyah. Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang yang menyeru untuk mengikuti ajaran Ibnu Taimiyah dan para pendahulunya dari mazhab Hanbali, yang mereka kemudian mengaku sebagai kelompok Salafiyah.” Dalam menjelaskan secara global tentang ajaran dan keyakinan mereka, as-Saqqaf mengatakan: “Al-Wahabiyah atau as-Salafiyah adalah pengikut mazhab Hanbali, walaupun dari beberapa hal pendapat mereka tidak sesuai lagi (dan bahkan bertentangan) dengan pendapat mazhab Hanbali sendiri. Mereka sesuai (dengan mazhab Hanbali) dari sisi keyakinan tentang at-Tasybih (Menyamakan Allah dengan makhluk-Nya), at-Tajsim (Allah berbentuk mirip manusia), dan an-Nashb yaitu membenci keluarga Rasul saw. (Ahlul-Bait) dan tiada menghormati mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8Jadi, menurut as-Saqqaf, kelompok yang mengaku Salafi adalah kelompok Wahabi yang memiliki sifat Nashibi(pembenci keluarga Nabi saw.), mengikuti pelopornya, Ibnu Taimiyah.Pelopor Pemikiran “Kembali ke Metode Ajaran Salaf”Ahmad bin Hanbal adalah sosok pemuka hadis yang memiliki karya terkenal, yaitu kitab “Musnad”. Selain sebagai pendiri mazhab Hanbali, ia juga sebagai pribadi yang menggalakkan ajaran kembali kepada pemikiran Salaf Saleh. Secara umum, metode yang dipakai oleh Ahmad bin Hanbal dalam pemikiran akidah dan hukum fikih, adalah menggunakan metode tekstual. Oleh karenanya, ia sangat keras sekali dalam menentang keikutsertaan dan penggunaan akal dalam memahami ajaran agama.Ia beranggapan, kemunculan pemikiran logika, filsafat, ilmu kalam (teologi) dan ajaran-ajaran lain—yang dianggap ajaran di luar Islam yang kemudian diadopsi oleh sebagian muslim—akan membahayakan nasib teks-teks agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ akhirnya ia menyerukan untuk berpegang teguh terhadap teks, dan mengingkari secara total penggunaan akal dalam memahami agama, termasuk proses takwil rasional terhadap teks. Ia beranggapan, bahwa metode itulah yang dipakai Salaf Saleh dalam memahami agama, dan metode tersebut tidak bisa diganggu gugat kebenaran dan legalitasnya. Syahrastani yang bermazhab ‘Asyariyah dalam kitab “al-Milal wa an-Nihal” sewaktu menukil ungkapan Ahmad bin Hanbal yang menyatakan: “Kita telah meriwayatkan (hadis) sebagaimana adanya, dan hal (sebagaimana adanya) itu pula yang kita yakini.”9 Konsekuensi dari ungkapan Ahmad bin Hanbal di atas itulah, akhirnya ia beserta banyak pengikutnya—termasuk Ibnu Taimiyah—terjerumus ke dalam jurang kejumudan dan kaku dalam memahami teks agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dampak konkret dari metode di atas tadi adalah, keyakinan akan tajsim (anthropomorphisme) dan tasybih dalam konsep ketuhanan, lebih lagi kelompok Salafi kontemporer, pendukung ajaran Ibnu Taimiyahal-Harrani yang kemudian tampuk kepemimpinannya dilanjutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi.Suatu saat, datang seseorang kepada Ahmad bin Hanbal. Lantas, ia bertanya tentang beberapa hadis. Hingga akhirnya, pertanyaan sampai pada hadis-hadis semisal: “Tuhan pada setiap malam turun ke langit Dunia.”, “Tuhan bisa dilihat.”, “Tuhan meletakkan kaki-Nya ke dalam Neraka.” dan hadis-hadis semisalnya. Lantas ia (Ahmad bin Hanbal) menjawab: “Kita meyakini semua hadis-hadis tersebut. Kita membenarkan semua hadis tadi, tanpa perlu terhadap proses pentakwilan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0Jelas metode semacam ini tidak sesuai dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri. Jika diperhatikan lebih dalam lagi, betapa al-Quran dalam ayat-ayatnya sangat menekankan penggunaan akal dan pikiran dalam bertindak.11Begitu juga hadis-hadis Nabi saw. Selain itu, pengingkaran secara mutlak campur tangan akal dan pikiran manusia dalam memahami ajaran agama akan mengakibatkan kesesatan dan bertentangan dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri. Dapat kita contohkan secara singkat penyimpangan yang terjadi akibat penerapan konsep tadi. Jika terdapat ayat semisal “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arasy.”12 atau seperti hadis yang menyatakan “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada setiap malam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Lantas, di sisi lain kita tidak boleh menggunakan akal dalam memahaminya, bahkan cukup menerima teks sebagaimana adanya, maka kita akan terbentur dengan ayat lain dalam al-Quran seperti ayat “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.”14 Apakahayat dari surat Thoha tadi berartikan bahwa Allah bertengger di atas singgasana Arasy sebagaimana Ibnu Taimiyah duduk di atas mimbar, atau turun ke langit dunia sebagaimana Ibnu Taimiyah turun dari atas mimbarnya, yang itu semua berarti bertentangan dengan ayat dari surat as-Syuura di atas.Jadi akan terjadi kontradiksi dalam memahami hakikat ajaran agama Islam. Mungkinkah Islam sebagai agama paripurna akan terdapat kontradiksi? Semua kaum muslim pasti akan menjawabnya dengan negatif, apalagi berkaitan dengan al-Quran sebagai sumber utama ajaran Islam.Melihat kelemahan metode dasar yang ditawarkan oleh Ahmad bin Hanbal semacam ini, meniscayakan adanya pengeroposan ajaran-ajaran yang bertumpu pada metode tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah ini, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Berbagai individu dari Salaf telah menetapkan sifat azali Tuhan, semisal; sifat Ilmu, Kemampuan (Qudrat) … dan mereka tidak membedakan antara sifat Dzati dan Fi’li. Sebagaimana mereka juga telah menetapkan sifat khabariyah buat Tuhan, seperti; dua tangan dan wajah Tuhan. Mereka tidak bersedia mentakwilnya, dan mengatakan: itu semua adalah sifat-sifat yang terdapat dalam teks-teks agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu kita sebut sebagai sifat khabariyah.” Dalam kelanjutan dari penjelasan mengenai kelompok Salafi tadi, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Para kelompok Salafi kontemporer meyakini lebih dari para kelompok Salaf itu sendiri. Mereka menyatakan, sifat-sifat khabari bukan hanya tidak boleh ditakwil, namun harus dimaknai secara zahir. Oleh karenanya, dari sisi ini, merekatelah terjerumus ke dalam murni keyakinan tasybih. Tentu, permasalahan semacam ini bertentangan dengan apa yang diyakini oleh para salaf itu sendiri.”15 Jadi sesuai dengan ungkapan Syahrastani, bahwa mayoritas para pengikut kelompok Salafi kontemporer telah menyimpang dari keyakinan para Salaf itu sendiri. Itu jika kita telaah secara global tentang konsep memahami teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, mereka akan terjerumus kepada kesalahan fatal dalam mengenal Tuhan, juga dalam permasalahan-permasalahan lainnya. Padahal, masih banyak lagi permasalahan-permasalahan lain yang jelas-jelas para Salaf meyakininya, sedang pengaku pengikut salaf kontemporer (salafi) justru mengharamkan dengan alasan syirik, bidah, ataupun khurafat. Perlu ada tulisan tersendiri tentang hal-hal tadi, dengan disertai kritisi pendapat dan argumentasi para pendukung kelompok Wahabisme.16Itulah yang menjadi alasan bahwa para pengikut Salafi (kontemporer) itu sudah banyak menyimpang dari ajaran para Salaf itu sendiri,termasuk sebagian ajaran imam Ahmad bin Hanbal sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17Faktor Munculnya Kelompok SalafiDalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf menurut Imam Ahmad bin Hanbal dapat diperhatikan dari kekacauan pada zaman itu. Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme yang diboyong oleh pengikut Muktazilah, yang meyakini keikutsertaan dan kebebasan akal secara ekstrem dan radikal dalam proses memahami agama. Sedang di sisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam, termasuk Ahmad bin Hanbal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu, lantas Ahmad bin Hanbal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Abdul Aziz ‘Izzuddin as-Sirwani dalam menjelaskan faktor kemunculan pemikiran kembali kepada metode Salaf, mengatakan: “Dikatakan bahwa penyebab utama untuk memegang erat metode itu—yang sangat nampak pada pribadi Ahmad bin Hanbal—adalah dikarenakan pada zamannya banyak sekali dijumpai fitnah-fitnah, pertikaian dan perdebatan teologis. Dari sisi lain, berbagai pemikiran aneh, keyakinan-keyakinan yang bermacam-macam dan beraneka ragam budaya mulai bermunculan. Bagaimana mungkin semua itu bisa muncul di khasanah keilmuan Islam. Oleh karenanya, untuk menyelamatkan keyakinan-keyakinan Islam, maka ia menggunakan metode kembali ke pemikiran Salaf.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 Hal semacam itu pula yang dinyatakan oleh as-Syahrastani dalam kitab al-Milal wa an-Nihal.Fenomena semacam ini juga bisa kita perhatikan dalam sejarah hidup Abu Hasan al-Asy’ari pendiri mazhab al-Asyariyah. Setelah ia mengumumkan diri keluar dari ajaran Muktazilah yang selama ini ia dapati dari ayah angkatnya, Abu Ali al-Juba’i seorang tokoh Muktazilah di zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Asy’ari dalam karyanya yang berjudul “al-Ibanah” dengan sangat jelas menggunakan metode mirip yang digunakan oleh Ahmad bin Hanbal. Namun karena ia melihat bahwa metode semacam itu terlampau lemah, maka ia agak sedikit berganti haluan dengan mengakui otoritas akal dalam memahami ajaran agama, walau dengan batasan yang sangat sempit. Oleh karenanya, dalam karya lain yang diberi judul “al-Luma’” nampak sekali betapa ia masih mengakui campur tangan dan keturutsertaan akal dalam memahami ajaran agama, berbeda dengan metode Ahmad bin Hanbal yang menolak total keikutsertaan akal dalam masalah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan al-Asy’ari hidup di pusat kebudayaan Islam kala itu, yaitu kota Baghdad, maka sebutanAhlusunnah pun akhirnya diidentikkan dengan mazhabnya. Sedang mazhab Thohawiyah dan Maturidiyah yang kemunculannya hampir bersamaan dengan mazhab Asyariyah dan memiliki kemiripan dengannya, menjadi kalah pamor di mata mayoritas kaum muslimin, apalagi ajaran Ahmad bin Hanbal sudah tidak lagi dilirik oleh kebanyakan kaum muslimin. Lebih-lebih pada masa kejayaan Ahlusunnah, kemunculan kelompok Salafi kontemporer yang dipelopori oleh Ibnu Taimiyah yang sebagai sempalan dari mazhab ImamAhmad bin Hanbal, pun tidak luput dari ketidaksimpatian kelompok mayoritas Ahlusunnah. Ditambah lagi dengan penyimpangan terhadap akidah Salaf yang dilakukan Salafi kontemporer (pengikut Ibnu Taimiyah)—yang dikomandoi oleh Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi—serta tindakan arogan yang dilancarkan para pengikut Salafi tersebut terhadap kelompok lain yang dianggap tidak sependapat dengan pemikiran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecurangan Kelompok SalafiSetiap golongan bukan hanya berusaha untuk selalu mempertahankan kelangsungan golongannya, namun mereka juga berusaha untuk menyebarkan ajarannya. Itu merupakan suatu hal yang wajar. Akan tetapi, tingkat kewajarannya bukan hanya bisa dinilai dari sisi itu saja, namun juga harus dilihat dari cara dan sarana yang dipakai untuk mempertahankan kelangsungan dan penyebaran ajaran golongan itu. Dari sisi ini, kelompok Salafi banyak melakukan beberapa kecurangan yang belum banyak diketahui oleh kelompok muslim lainnya.Selain kelompok Ahlusunnah biasa, kelompok Ahli Tasawwuf dari kalangan Ahlusunnah dan kelompok Syiah (di luar Ahlusunnah) merupakan kelompok-kelompok di luar Wahabi (Salafi) yang sangat gencar diserang oleh kelompok Salafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Salafi tidak segan-segan melakukan hal-hal yang tidak ‘gentle’ dalam menghadapi kelompok-kelompok selain Salafi, terkhusus Syiah. Menuduh kelompok lain dari saudara-saudaranya sesama muslim sebagai ahli bid’ah, ahli khurafat, musyrikadalah kebiasaan buruk kaum Salafi, walaupun kelompok tadi tergolong Ahlusunnah. Di sisi lain, mereka sendiri terus berusaha untuk disebut dan masuk kategori kelompok Ahlusunnah. Berangkat dari sini, kaum Salafi selalu mempropagandakan bahwa Syiah adalah satu kelompok yang keluar dari Islam, dan sangat berbeda dengan pengikut Ahlusunnah. Mereka benci dengan usaha-usaha pendekatan dan persatuan Sunnah-Syiah, apalagi melalui forum dialog ilmiah. Mereka berpikir bahwa dengan mengafirkan kelompok Syiah, maka mereka akan dengan mudah duduk bersama dengan kelompok Ahlusunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal realitanya tidaklah semacam itu. Karena mereka selalu menuduh kelompok Ahlusunnah sebagai pelaku Bid’ah, Khurafat, Takhayul dan Syirik. Mereka berpikir, sewaktu seorang pengikut Ahlusunnah melakukan ziarah kubur, tahlil, membaca salawat dan pujian terhadap Nabi, istighotsah, bertawassul dan mengambil berkah (tabarruk) berarti ia telah masuk kategori pelaku syirik atau ahli bid’ah yang telah jelaskonsekuensi hukumnya dalam ajaran Islam.Cara itu juga yang mereka lakukan terhadap para pengikut tasawuf dan tarekat yang banyak ditemui dalam tubuh Ahlusunnah sendiri, khususnya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala bentuk makar dan kebohongan untuk menghadapi rival akidahnya merupakan hal mubah di mata pengikut Salafi (Wahabi), karena kelompok Salafi masih terus beranggapan bahwa selain kelompoknya masih dapat dikategorikan pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Perlakuan mereka terhadap kaum muslimin pada musim haji merupakan bukti yang tidak dapat diingkari.Yang lebih parah dari itu, para pendukung kelompok Salafi—yang didukung dana begitu besar—berani melakukan perubahan pada kitab-kitab standar Ahlusunnah, demi untuk menguatkan ajaran mereka, yang dengan jelas tidak memiliki akar sejarah dan argumentasi (tekstual dan rasional) yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melobi para pemilik percetakan buku-buku klasik agama yang menjadi standar ajaran—termasuk kitab-kitab hadis dan tafsir—mereka berani mengeluarkan dana yang sangat besar untuk mengubah beberapa teks (hadis ataupun ungkapan para ulama) yang dianggap merugikan kelompok mereka.Kita ambil contoh apa yang diungkapkan oleh Syeikh Muhammad Nuri ad-Dirtsawi, beliau mengatakan: “Mengubah dan menghapus hadis-hadis merupakan kebiasaan buruk kelompok Wahabi. Sebagai contoh, Nukman al-Alusi telah mengubah tafsir yang ditulis oleh ayahnya, Syeikh Mahmud al-Alusi yang berjudul Ruh al-Ma’ani. Semua pembahasan yang membahayakan kelompok Wahabi telah dihapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak ada perubahan, niscaya tafsirbeliau menjadi contoh buat kitab-kitab tafsir lainnya. Contoh lain, dalam kitab al-Mughni karya Ibnu Qodamah al-Hanbali, pembahasan tentang istighotsah telah dihapus, karena hal itu mereka anggap sebagai bagian dari perbuatan Syirik. Setelah melakukan perubahan tersebut, baru mereka mencetaknya kembali.Kitab Syarah Shahih Muslim pun (telah diubah) dengan membuang hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat-sifat (Allah), kemudian baru mereka mencetaknya kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20Namun sayang, banyak saudara-saudara dari Ahlusunnah lalai dengan apa yang mereka lakukan selama ini. Perubahan-perubahan semacam itu, terkhusus mereka lakukan pada hadis-hadis yang berkaitan dengan keutamaan keluarga (Ahlul-Bait) Nabi saw. Padahal, salah satu sisi kesamaan antara Sunni-Syiah adalah pemberian penghormatan khusus terhadap keluarga Nabi. Dari sinilah akhirnya pribadi seperti Sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf menyatakan bahwa mereka tergolong kelompok Nashibi (pembenci keluarga Rasul).Dalam kitab tafsir Jami’ al-Bayan, sewaktu menafsirkan ayat 214 dari surat as-Syu’ara: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat-mu yang terdekat,” di situ, Rasulullah mengeluarkan pernyataan berupa satu hadis yang berkaitan dengan permulaan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hadis yang tercantum dalam kitab tafsir tersebut disebutkan, Rasul bersabda: “Siapakah di antara kalian yang mau menjadi wazir dan membantuku dalam perkara ini—risalah—maka akan menjadi saudaraku…(kadza…wa…kadza)….” Padahal, jika kita membuka apa yang tercantum dalam Tarikh at-Thabari kata “kadza wa kadza” (yang dalam penulisan buku berbahasa Indonesia, biasa digunakan titik-titik) sebagai ganti dari sabda Rasul yang berbunyi: “Washi (pengganti) dan Khalifahku.” Begitu pula hadis-hadis semisal, “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya,” yang dulu tercantum dalam kitab Jaami’ al-Ushul karya Ibnu Atsir, kitab Tarikh al-Khulafa’ karya as-Suyuthi dan as-Showa’iq al-Muhriqoh karya Ibnu Hajar yang beliaunukil dari Shahih at-Turmudzi, kini telah mereka hapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan peringkasan kitab-kitab standar, juga sebagai salah satu trik mereka untuk tujuan yang sama.Dan masih banyak usaha-usaha licik lain yang mereka lancarkan, demi mempertahankan ajaran mereka, terkhusus ajaran kebencian terhadap keluarga Nabi. Sementara sudah menjadi kesepakatan kaum muslimin, bahwa mencintai keluarga Nabi adalah suatu kewajiban, sebagaimana Syair yang pernah dibawakan oleh imam Syafi’i:“Jika mencintai keluarga Muhammad adalah Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah wahai ats-Tsaqolaan (jin dan manusia) bahwa aku adalah Rafidhi.”21Salafi (Wahabi) dan KhawarijTidak berlebihan kiranya jika sebagian orang beranggapan bahwa kaum Wahabi (Salafi) memiliki banyak kemiripan dengan kelompok Khawarij.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat, dari sejarah yang pernah ada, kelompok Khawarij adalah kelompok yang sangat mirip sepak terjang dan pemikirannya dengan kelompok Wahabi.Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa kelompok Wahabi adalah pengejawantahan kelompok Khawarij di masa sekarang ini. Di sini, secara singkat bisa disebutkan beberapa sisi kesamaan antara kelompok Wahabi dengan golongan Khawarij yang dicela melalui lisan suci Rasulullah saw., di mana Rasul memberi julukan golongan sesat itu (Khawarij) dengan sebutan “mariqiin”, yang berarti ‘lepas’ dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22Paling tidak ada enam kesamaan antara dua golongan ini yang bisa disebutkan. Pertama, sebagaimana kelompok Khawarij dengan mudah menuduh seorang muslim dengan sebutan kafir, kelompok Wahabi pun sangat mudah menuduh seorang muslim sebagai pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Yang semua itu adalah ‘kata halus’ dari pengkafiran, walaupun dalam beberapa hal memiliki kesamaan dari konsekuensi hukumnya. Abdullah bin Umar dalam menyifati kelompok Khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir, lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman.”23 Ciri-ciri semacam itu juga akan dengan mudah kita dapati pada pengikut kelompok Salafi (Wahabi) berkaitan dengan saudara-saudaranya sesama muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dilihat, betapa mudahnya para rohaniawan Wahabi (muthowi’) menuduh para jamaah haji sebagai pelaku syirik dan bid’ah dalam melakukan amalan yang dianggap tidak sesuai dengan akidah mereka.Kedua, sebagaimana kelompok Khawarij disifati sebagaimana yang tercantum dalam hadis Nabi: “Mereka membunuh pemeluk Islam, sedang para penyembah berhala mereka biarkan.”24 maka sejarah telah membuktikan bahwa kelompok Wahabi pun telah melaksanakan prilaku keji semacam itu. Sebagaimana yang pernah dilakukan pada awal penyebaran Wahabisme oleh pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembantaian berbagai kabilah dari kaum muslimin mereka lakukan di beberapa tempat, terkhusus di wilayah Hijaz dan Irak kala itu.Ketiga, sebagaimana kelompok Khawarij memiliki banyak keyakinan yang aneh dan keluar dari kesepakatan kaum muslimin, seperti keyakinan bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir, kaum Wahabi pun memiliki kekhususan yang sama.Keempat, seperti kelompok Khawarij memiliki jiwa jumud (kaku), mempersulit diri dan mempersempit luang lingkup pemahaman ajaran agama, maka kaum Wahabi pun mempunyai kendala yang sama.Kelima, kelompok Khawarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajaran yang menyimpang, maka Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, ada satu hadis tentang Khawarij yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yang dapat pula diterapkan pada kelompok Wahabi. Rasul bersabda: “Beberapa orang akan muncul dari belahan bumi sebelah timur. Mereka membaca al-Quran, tetapi (bacaan tadi) tidak melebihi batas tenggorokkan. Mereka telah keluar dari agama (Islam), sebagaimana terkeluar (lepas)-nya anak panah dari busurnya.Tanda-tanda mereka, suka mencukur habis rambut kepala.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 Al-Qistholani dalam mensyarahi hadis tadi mengatakan: “Dari belahan bumi sebelah timur,” yaitu dari arah timur kota Madinah semisal daerah Najd.26 Sedang dalam satu hadis disebutkan, dalam menjawab perihal kota an-Najd: “Di sana terdapat berbagai guncangan, dan dari sana pula muncul banyak fitnah.”27 Atau dalam ungkapan lain yang menyebutkan: “Di sana akan muncul qornsetan.” Dalam kamus bahasa Arab, kata qorn berartikan umat, pengikut ajaran seseorang, kaum atau kekuasaan.28Sedang kita tahu, kota Najd adalah tempat lahir dan tinggal Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi, pendiri Wahabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota itu sekaligus sebagai pusat Wahabisme, dan dari situlah pemikiran Wahabisme disebarluaskan ke segala penjuru dunia. Banyak tanda zahir dari kelompok tersebut. Selain mengenakan celana atau gamis hingga betis, mencukur rambut kepala sedangkan jenggot dibiarkan bergelayutan tidak karuan adalah salah satu syiar dan tanda pengikut kelompok ini.Keenam, sebagaimana kelompok Khawarij meyakini bahwa “negara muslim” (Daar al-Salam) jika penduduknya banyak melakukan dosa besar, maka dapat dikategorikan “negara zona perang” (Daar al-Harb), kelompok radikal Wahabi pun meyakini hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini dapat dilihat, bagaimana kelompok-kelompok radikal Wahabi—seperti al-Qaedah—melakukan aksi teror di berbagai tempat yang tidak jarang kaum muslimin juga sebagai korbannya.Tulisan ringkas ini mencoba untuk mengetahui tentang apa dan siapa kelompok Salafi (Wahabi). Semoga dengan pengenalan ringkas ini akan menjadi kejelasan akan kelompok yang disebut-sebut sebagai Salafi ini, yang mengaku penghidup kembali ajaran Salaf Saleh. Sehingga kita bisa lebih berhati-hati dan mawas diri terhadap aliran sesat dan menyesatkan yang telah menyimpang dari Islam Muhammadi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Adalah mahasiswa pasca sarjana Perbandingan Agama dan Mazhab di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran.Rujukan:2 Lisan al-Arab, jil. 6, hal. 330.3 As-Salafiyah Marhalah Zamaniyah, hal. 9, karya Dr. M Said Ramadhan Buthi.4 As-Shohwat al-Islamiyah, hal. 25, karya al-Qordhowi.5 Al-Aqoid as-Salafiyah, hal. 11, karya Ahmad bin Hajar Aali Abu Thomi.6 Al-Madzahib al-Islamiyah, hal. 331, karya Muhammad Abu Zuhrah.7 Untuk lebih jelasnya, dapat ditelaah lebih lanjut kitab tebal karya penulis Arab al-Ustadz Nasir as-Sa’id tentang sejarah kerajaan Arab Saudi yang diberi judul “Tarikh aali Sa’ud.” Karya ini berulang kali dicetak. Di situ dijelaskan secara detail sejarah kemunculan keluarga Saud di Jazirah Arab hingga zaman kekuasaan raja Fahd. Dalam karya tersebut, as-Said menetapkan bahwa keluarga Saud (pendiri) kerajaan Arab Saudi masih memiliki hubungan darah dan emosional dengan Yahudi Arab.8 Selengkapnya silakan lihat: As-Salafiyah al-Wahabiyah, karya Hasan bin Ali as-Saqqaf, cet. Daar al-Imam an-Nawawi, Amman-Yordania.9 Al-Milal wa an-Nihal, jil. 1, hal. 165, karya as-Syahrastani.10 Fi ‘Aqo’id al-Islam, hal. 155, karya Muhammad bin Abdul Wahab (dalam kumpulan risalah-nya).11 Ayat-ayat al-Quran yang berbunyi “afalaa ta’qiluun” (Apakah kalian tidak memakai akal) atau “Afalaa tatafakkarun” (Apakah kalian tidak berpikir) dan semisalnya akan sangat mudah kita dapati dalam al-Quran.Ini semua salah satu bukti konkret bahwa al-Quran sangat menekankan penggunaan akal dan mengakui keikutsertaan akal dalam memahami kebenaran ajaran agama.12 Q.S. Thoha: 5.13 Al-Washiyah al-Kubra, hal. 31 atau Naqdhu al-Mantiq, hal. 119 karya Ibnu Taimiyah.14 Q.S. as-Syura: 11.15 Al-Milal wa an-Nihal, jil. 1, hal. 84.16 Banyak hal yang terbukti dengan argumen teks yang mencakup ayat, riwayat, ungkapan dan sirah para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in diperbolehkan, namun pada kelompok Salafi (Wahabi) mengharamkannya, seperti masalah; membangun dan memberi cahaya lampu pada kuburan, berdoa di samping makam para kekasih Ilahi (waliyullah), mengambil berkah dari makam kekasih Allah, menyeru atau meminta pertolongan dan syafaat dari para kekasih Allah pasca kematian mereka, bernazar atau sumpah atas nama para kekasih Allah, memperingati dan mengenang kelahiran atau kematian para kekasih Allah, bertawassul, dan melaksanakan tahlil (majelis fatihah)…semua merupakan hal yang diharamkan oleh para kelompok Salafi, padahal banyak ayat dan riwayat, juga prilaku para Salaf yang menunjukkan akan diperbolehkannya hal-hal tadi.17Salah satu bentuk penyimpangan kelompok Wahabi terhadap ajaran Imam Ahmad bin Hanbal adalah pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap berbagai hadis berkaitan dengan keutamaan keluarga Rasul saw., yang Imam Ahmad sendiri meyakini keutamaan mereka dengan mencantumkannya dalam kitab Musnad-nya. Dari situ akhirnya Ibnu Taimiyah bukan hanya mengingkari hadis-hadis tersebut, bahkan melakukan pelecehan terhadap keluarga Rasul, terkhusus Ali bin Abi Thalib as. (lihat: Minhaj as-Sunnah, jil. 8, hal. 329.) Dan terbukti, kekhilafahan Ali sempat “diragukan” oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Minhaj as-Sunnah” (lihat: jil. 4, hal. 682), dan ia termasuk orang yang menyebarluaskan keraguan itu. Padahal, semua kelompok Ahlusunnah “meyakini” akan kekhilafahan Ali. Lantas, masihkah layak Ibnu Taimiyah beserta pengikutnya mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah?18Al-Aqidah li al-Imam Ahmad bin Hanbal, hal. 38.19 As-Salafiyah baina Ahlusunnah wa al-Imamiyah, hal. 680.20 Rudud ‘ala Syubahaat as-Salafiyah, hal. 249.21 Diwan as-Syafi’i, hal. 55.22 Musnad Ahmad, jil. 2, hal. 118.23 Shahih Bukhari, jil. 4, hal. 197.24 Majmu’ al-Fatawa, jil. 13, hal. 32, karya Ibnu Taimiyah.25 Shahih Bukhari, “kitab at-Tauhid”, bab 57, hadis ke-7123.26 Irsyad as-Saari, jil. 15, hal. 626.27 Musnad Ahmad, jil. 2, hal. 81 atau jil. 4, hal. 5.28 Al-Qomuus, jil. 3, hal. 382, kata: “Qo-ro-na.”Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An Nisaa’ : 48)Dari Abu Dzar ra., Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jibril berkata kepadaku, ‘Barangsiapa diantara umatmu yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk surga’” (HR. Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]&lt;br /&gt;diambil dari : &lt;a href="http://dervishwarrior.blogspot.com/"&gt;http://dervishwarrior.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-5968446654818989628?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/5968446654818989628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/5968446654818989628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2007/10/sesatnya-salafi-wahabi-dan-khawarij.html' title=''/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-5384966256012061876</id><published>2007-09-26T20:03:00.000-07:00</published><updated>2008-11-06T18:40:47.288-08:00</updated><title type='text'>wasgitel</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_MyhWQUD073g/Rw0U7Rrr_jI/AAAAAAAAAA0/vtW67vJvT6Y/s1600-h/04012007208.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5119771359981600306" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_MyhWQUD073g/Rw0U7Rrr_jI/AAAAAAAAAA0/vtW67vJvT6Y/s320/04012007208.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;SEGELAS AIR TEH PANAS WASGITEL (wangi sepet legit dan kentel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S. Bagaimana hukumnya dzikir dengan mengeraskan suara dan berjamaah setelah sholat lima waktu?&lt;br /&gt;J. Hukumnya boleh dan tidak dimakruhkan bahkan salah seorang ulama muhadditsin Al imam Assuyuthy telah menyebutkan sekitar 25 hadits yang menerangkan kesunahan mengeraskan suara ketika berdzikir.&lt;br /&gt;Benar sekali kalau dalam Alqur’an sendiri ada beberapa ayat yang berkenaan dengan dzikir jahr/keras dan dzikir khofy/pelan.kedua-duanya diperbolehkan dan berdalil shorih.bahkan khususnya membaca Alquran&lt;br /&gt;Para ulama sepakat disunahkan untuk dibaca secara jahr atau keras.Diantara dalil mengeraskan suara&lt;br /&gt;Ketika berdzikir setelah sholat berjamaah adalah hadits Imam bukhori dan muslim dari Ibnu abbas,beliau&lt;br /&gt;Berkata:”Anna rofa’a ashshouti bidzdzikri hiina yanshorif Annaasu minal maktuubati kaana ‘alaa ‘ahdi Annabiyyi saw.wa qoola Ibnu Abbas :”Kuntu a’lamu idzanshorofuu bidzaalik”.Artinya : sesungguhnya mengeraskan suara dengan berdzikir ketika selesainya manusia dari sholat maktubah/lima waktu adalah telah terjadi pada zaman Rosulullah saw.Ibnu Abbas ra berkata :”aku tahu setelah selesainya mereka dari sholat denag suara dzikir yang keras tersebut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam sebuah hadits qudsi hadits Imam Bukhori dari Abu hurairoh ra ;”Anaa ‘inda dzonni ‘abdii bii, wa anaa ma’ahuu idzaa dzakaronii.wa idzaa dzakaronii fii nafsihi,dzakartuhuu fii nafsii.Wa idzaa dzakaronii fii malain,dzakartuhuu fii malain khoirun minhu”.Artinya Aku menurut persangkaan hamba Ku kepada Ku.Aku bersamanya ketika ia mengingat Ku.Apabila ia menyebutKu dalam hatinya,maka Aku menyebutnya dalam dzatKu dan apabila dia menyebutKu dalam suatu perkumpulan,maka Aku menyebutnya didalam perkumpulan yang lebih baik dari perkumpulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafadz Malain dalam hadits diatas menunjukkan bahwa dzikir tersebut dikerjakan dengan berjamaah.(Ta’liq jawahir Albukhori).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB.Dinukil dari Ibnu Mas’ud bahwasanya beliau mengusir orang-orang yang mengeraskan bacaan tahlil dari dalam masjid.Keterangan ini perlu diteliti,apakah benar dari Ibnu Mas’ud?kalau seumpama benar,maka akan bertentangan dengan banyak hadits sebagaimana imam suyuthi nyatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maroji’/referensi dari kitab Al haawy lil fatawa 224 juga di jilid 1/274.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-5384966256012061876?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/5384966256012061876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/5384966256012061876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2007/09/wasgitel.html' title='wasgitel'/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MyhWQUD073g/Rw0U7Rrr_jI/AAAAAAAAAA0/vtW67vJvT6Y/s72-c/04012007208.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9073887040907655710.post-3722056179728772304</id><published>2007-09-26T19:50:00.000-07:00</published><updated>2007-09-26T19:52:34.484-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>BAB  HAIDH  ( MENSTRUASI ),ISTIHADHOH DAN NIFAS&lt;br /&gt;Oleh : H.Mochammad Fuady Abdullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillaah Alhamdulillaah washsholaatu wassalaamu ‘alaa Rosulillah saw wa’alaa aalihii wasohbihii wa atbaa’ihii ajma’iin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB 1. HAIDH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haidh adalah sebuah kebiasaan bagi tiap2 wanita dalam tiap bulannya.Bagi setiap muslimah  wajib mengerti tentang masalah haidh ini.Mulai dari pertama kali menstruasi,seorang wanita muslimah sudah dikatakan balighoh dan mulai saat itulah dia disebut mukallaf,artinya dia harus siap menjaga tugas2nya sebagai seorang muslimah,beribadah kepada Allah swt dengan menjalankan perintah2 Allah dan menjauhi segala larangan2Nya.Dia sudah harus memikul tugas dan kewajiban2 agamanya hingga dia kembali pulang ke rahmatullah dan bertanggung jawab dengan segala amal perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimal usia wanita haidh itu apabila ia sudah umur 9 tahun qomariyyah dan bukan memakai kalender syamsiyyah atau nasional/umum.Hitungan mudahnya 9 tahun qomariyyah itu adalah 3189 hari lebih 1 jam 12 menit,ini dihitung mulai ia lahir dari ibunya.Jadi kalau ada seorang wanita mengeluarkan darah dari rahimnya dan dia belum berumur 9 tahun maka itu bukan darah haidh tetapi darah fasad atau penyakit.Dan itu tidak jadi ukuran untuk menetapkan bahwa dia sudah balighoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DASAR HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN MASALAH HAIDH.&lt;br /&gt;Dalam Alqur’an al kariem Allah swt berfirman :”Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang haidh.Katakanlah:”Haidh itu adalah kotoran”.Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkn diri (tidak boleh menjima’) dari wanita  diwaktu haidh dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci (sebelum mandi jinabah).Apalabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu.Sesungguhnya Allah menyukai orang2 yang bertaubat dan menyukai orang2 ang mensucikan diri”.(Q.S.Al baqoroh 222).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab turunnya ayat tersebut adalah bahwa orang2 yahudi kalau isterinya sedang haidh maka tidak boleh ada didalam rumah,harus keluar dari rumah,tidak boleh makan bersama suaminya dan lain2.Ahirnya para sahabat bertanya kepada Rosulullah saw,maka kemudian turunlah ayat tersebut.Lalu Rosulullah saw bersabda :”Ishna’uu kulla syai’in illaa annikaah…Artinya kalian boleh melakukan apa saja terhadap istri yang sedang haidh kecuali jima’/bersetubuh.Dalam hadits bukhori muslim nabi saw bersabda:”Haadzaa syai’un katabahullohu ‘alaa banaati aadam”..Artinya haidh adalah salah satu ketentuan dari Allah untuk setiap wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita masuk inti pembahasan haidh dan contoh2nya,berikut ini kita ketahui dulu apa2 saja yang diharamkan agama bagi setiap wanita yang sedang haidh.&lt;br /&gt;Sholat.Baik sholat fardhu ataupun sunah.Disamping haram sholatnyapun tidak sah.Wanita haidh tidak wajib mengqodho sholatnya.Dalil haramnya sholat bagi wanita haidh adalah Alquran,surat Annisaa 43 juga hadits dari Ibnu Umar ra bahwa beliau mendengar nabi bersabda:”Laa tuqbalu sholaatun bighoiri thuhuurin”.(HR Muslim 224).Artinya sholat tidak diterima dalam keadaan tidak suci.&lt;br /&gt;Puasa.Baik puasa fardhu seperti romadhon,nadzar dan qodho romadhon juga puasa sunah seperti senin,kamis,tanggal 13,14,15 dll.Disamping haram haram puasanya juga tidak sah.Cuman saja wanita haidh ini wajib mengqodlo puasa.Karena ada hadits dari ‘Aisyah ra bahwa kami diperintahkan oleh rosulullah saw untuk mengqodho puasa tapi tidak diperintah mengqodho sholat.Dalilnya adalah hadits Rosulullah saw riwayat bukhori no 315 dan 298 juga dalam riwayat muslim hadits no 335 dan 80.&lt;br /&gt;Membaca Al qur’an.baik satu ayat atau lebih bahkan satu kalimatpun kalau diniatkan membaca alqur’an maka hukumnya haram.Dalilnya adalah sebuah hadits Rosulullah saw bersabda:”Laa taqro’I al junubu walal haaidhu syai’an minal qur’an”.Arinya Orang junub dan haidh tidak boleh membaca alqur’an.Kalau tidak bertujuan membaca alqura’an seperti membaca bismillahirrohmaanirrohim ketika mau makan,minum dll,atau mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun ketika terkena musibah maka hukumnya tidak haram.&lt;br /&gt;Memegang mushaf (al qur’an).Dalilnya adalah alqur’an :”Laa yamassuhuu illal muthohharuun”.(Al waaqi’ah 79).Artinya tidak menyentuhnya kecuali hamba2 yang disucikan.juga didukung sebuah hadits rosulullah saw :”Laa yamassul qur’an illaa thoohir”.Artinya tidak boleh memegang alquran kecuali dalam keadaan suci.&lt;br /&gt;Diam didalam masjid.Dalilnya adalah hadits Rosulullah saw:”Laa uhillu almasjida li haa’idhin walaa junubin”.(HR Abu Dawud 232).Artinya Aku tidak halalkan masjid untuk orang haidh dan junub.Kalau hanya lewat dan yakin kalau darahnya tidak menetes dan jatuh dimasjid maka hukumnya boleh.&lt;br /&gt;Thowaf.baik thowaf  rukun seperti thowaf ifadhoh atau thowaf wajib seperti thowaf wada’ (perpisahan/pamitan),ataupun thowaf sunah seperti thowaf qudum (pertama/selamat datang).karena thowaf hukumnya sama seperti sholat,artinya harus suci dari hadas.Dalilnya adalah hadits Rosulullah saw:”Aththowaafu bil baiti sholaatun,illaa annallooha ahalla lakum fiihi alkalaamu,faman takallama falaa yatakallam illaa bi khoirin”.Artinya Thowah di baitulloh adalah sholat,hanya saja Allah memperbolehkan bicara dalam thowaf,barang siapa berbicara saat thowaf,maka bicaralah yang baik.(HR Al Hakim 1/459 dengan isnad yang shohih).&lt;br /&gt;Jima’.yaitu bersetubuh dalam keadaan haidh.Dalilnya adalah Alquran :”Walaa taqrobuuhunna hattaa yathhurna…”.Artinya janganlah mendekati mereka (para istri) kecuali setelah mereka suci.(QS Al Baqoroh 222).Maksud dari kalimat jangan mendekati adalah jangan menjima’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASA HAIDH&lt;br /&gt;Masa haidh itu ada yang disebut Al Aqoll atau masa minimal,ada yang disebut Al ghoolib atau masa yang umum dan ada yang disebut Al Aktsar atau waktu maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu minimal keluarnya darah haidh adalah sehari semalam atau dalam hitungan 24 jam,hal itu kalau darah terus merembes keluar,artinya jika diambil kapas dan ditempelkan kerahim maka darahnya nyata ada atau kelihatan.Jadi misalnya ada seorang wanita haidh mengeluarkan darah pada hari pertama 10 jam,hari kedua 8 jam,hari ketiga 6 jam.terus darah berhenti,jadi genap 24 jam.maka wanita ini berarti haidh pada masa Al aqoll.Wanita ini tidak wajib mengqodho sholatnya.Kalau dihitung sampai saat darah berhenti tadi kurang dari 24 jam,maka itu berarti bukan darah haidh tapi disebut darah penyakit,fasad atau istihadhoh.wanita yang seperti ini wajib mengqodho sholatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun masa umumnya haidh adalah 6 atau 7 hari,walaupun darah yang keluar tidak terus menerus merembes keluar.Tapi darah yang tidak terus menerus keluarnya kemudian dihukumi darah haidh itu syaratnya masa keluarnya  darah dalam 6 atau 7 hari itu kalau dihitung ada 24 jam atau lebih.kalau kurang dari 24 jam maka bukan darah haidh tapi darah fasad atau istihadhoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh..umpamanya si desy mengeluarkan darah selama 7 hari,setiap sehari semalam hanya 3 jam,jadi kalau dihitung 3 jam x 7 hari =21 jam.berarti kurang dari 24 jam.maka darah selama 7 hari itu bukan darah haidh tapi darah penyakit atau istihadhoh.Karena bukan darah haidh maka si desy harus mengqodho sholat yang ditinggalkannya selama 7 hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila si desy dalam 7 hari itu,setelah mengumpulkan dan menghitung masa masa keluarnya darah dan ternyata ada 24 jam atau lebih.maka masa 7 hari itu adalah haidh dan waktu2 yang sempat tidak mengeluarkan darah itu tetap dihukumi masa haidh.Jadi Desy tidak wajib mengqodho sholatnya selama 7 hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan maksimal masa haidh adalah 15 hari walaupun darah yang keluar tidak terus menerus merembes.Tapi darah yang tidak terus menerus keluar dalam masa 15 hari ini dihukumi haidh syaratnya pada masa keluarnya darah apabila dikumpulkan dan dihitung ada 24 jam atau lebih.kalau tidak ada 24 jam maka bukan darah haidh tapi darah penyakit atau istihadhoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh: Didalam masa 15 hari si ita mengeluarkan darah setiap harinya mengeluarkan darah hanya 1 jam,jadi dalam 15 hari hanya 15 jam.maka semua itu bukan darah haidh tapi darah penyakit atau istihadhoh.jadi si ita harus mengqodlo sholat yang ditinggalkannya selama 15 hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila si ita dalam 15 hari itu setelah mengumpulkan dan menghitung masa keluarnya darah dan ternyata ada 24 jam bahkan lebih maka 15 hari itu dihukumi haidh dan masa masa kosong/tidak mengeluarkan darah didalam 15 hari itu tetap dihukumi masa haidh.Jadi ita tidak wajib mengqodho sholat selama 15 hari itu.&lt;br /&gt;Apabila darah masih keluar setelah 15 hari dan seterusnya,maka darah tersebut bukan darah haidh,tapi darah istihadhoh,jadi tanggal 16 ita harus mandi besar dan wajib sholat,puasa dan lain-lain,walaupun darah masih keluar.Sebab orang istihadhoh itu hukumnya adalah orang yang suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUCI DARI HAIDH&lt;br /&gt;Secara umum semua wanita tiap bulan pasti mengalami haidh dan suci.Minimal masa suci yang menengah2i antara dua haidh yaitu 15 hari.Karena maksimal masa haidh itu 15 hari,maka otomatis minimal masa suci antara dua haidh yaitu 15 hari.Kalau masa suci antara haidh dan nifas bisa saja kurang dari 15 hari.Suci antaranya haidh dan nifas ada yang haidh dulu lalu suci,kemudian nifas.Karena orang hamil juga ada yang mengalami haidh (menurut madzhab Syafi’ie).Dan ada yang nifas dulu lalu suci,kemudian haidh.Tapi keluarnya darah harus setelahnya nifas berjalan hingga 60 hari yaitu masa maksimal nifas.Karena kalau banyaknya nifas itu belum sampai 60 hari,kemudian wanita itu mengeluarkan darah,maka darah itu bukan darah haidh.Kecuali kalau antara berhentinya darah nifas dan keluarnya darah kembali (selanjut)nya itu ada masa 15 hari lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya suci yaitu sisanya masa 1 bulan setelah haidhnya menetapi keumuman.Jadi kalau seorang wanita haidh 6 hari,berarti sucinya 24 hari.kalau haidhnya 7 hari,berarti sucinya 23 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksimal masa suci itu tidak terbatas.Terkadang ada seorang wanita yang haidhnya hanya 1 kali kemudian tak pernah haidh lagi,dan kadang ada yang tidak haidh sama sekali seumur hidupnya,sehingga suci terus,seperti sayyidah maryam binti imron ibunda nabi Isa as dan sayyidah fathimah azzahro putri baginda rosulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERSAMBUNG…….&lt;br /&gt;Pada bab selanjutnya adalah tentang mustahadhoh atau wanita yang mengalami istihadhoh dengan type wanita yang juga tidak sama permasalahannya….&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;Referensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masaail Annisaa’ karya Asysyekh Mishbah zainal musthofa.&lt;br /&gt;Al fiqhul manhajy ‘alaa madzhabi al imaami asysyafi’ie karya Dr Musthofa Al khin,Dr Musthofa Al bughoo dan Asysyekh ‘Aly asysyuraihy.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9073887040907655710-3722056179728772304?l=pelembapang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/3722056179728772304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9073887040907655710/posts/default/3722056179728772304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelembapang.blogspot.com/2007/09/bab-haidh-menstruasi-istihadhoh-dan.html' title=''/><author><name>Anak pertama yang lahir dari seorang Ibu yang sangat mulia dan sangat aku sayangi,Fathimah Chamami dan seorang bapak yang sangat aku hormati dan aku banggakan,Abdullah ZM.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01375691231899732839</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MyhWQUD073g/SAU6nv2XAEI/AAAAAAAAABA/pdEjcR-vqX8/S220/Image062.jpg'/></author></entry></feed>
